dejurnal.com, Subang – Akhir Februari 2026 menghadirkan pertemuan yang istimewa: suasana awal Ramadan yang syahdu berpadu dengan fenomena langit langka. Pada Sabtu petang, 28 Februari 2026, enam planet Tata Surya diperkirakan tampak berbaris di langit barat dalam peristiwa yang dikenal sebagai parade planet.
Di tengah lantunan azan Magrib dan aroma hidangan berbuka, langit senja menyuguhkan pemandangan yang tak biasa. Sekitar 30 hingga 60 menit setelah Matahari terbenam, titik-titik cahaya mulai terlihat satu per satu.
Venus akan tampil paling cemerlang, disusul Jupiter yang bersinar terang dan mudah dikenali. Di sisi lain langit barat, Saturnus dan Merkurius ikut menghiasi cakrawala. Sementara Uranus dan Neptunus memerlukan bantuan teropong karena cahayanya lebih redup.
Fenomena ini tergolong jarang. Keenam planet memang tidak benar-benar sejajar di ruang angkasa, namun dari perspektif Bumi tampak berada dalam satu wilayah langit pada waktu yang sama. Laporan yang dikutip dari Live Science menyebut konfigurasi orbit akhir Februari memungkinkan momen visual tersebut terjadi dalam durasi relatif singkat sebelum planet-planet perlahan tenggelam di balik horizon.
Namun di bulan Ramadan, peristiwa ini terasa lebih dari sekadar fenomena astronomi.
Di banyak rumah, usai berbuka puasa dan salat Magrib, keluarga bisa melangkah ke halaman atau teras rumah. Anak-anak yang baru belajar menahan lapar dan dahaga mungkin akan bertanya, “Itu bintang apa?” Orang tua pun menjelaskan bahwa itu bukan bintang, melainkan planet—bagian dari ciptaan Allah yang begitu luas.
Ramadan adalah bulan tafakur, bulan merenungi kebesaran Sang Pencipta. Langit yang memperlihatkan enam planet sekaligus seakan menjadi pengingat betapa kecilnya manusia di tengah semesta. Di sela kesibukan ibadah, bekerja, dan menyiapkan sahur, momen menatap langit bisa menjadi jeda yang menenangkan jiwa.
Untuk menikmati fenomena ini, masyarakat cukup mencari arah barat setelah Matahari terbenam. Lokasi dengan cakrawala terbuka dan minim polusi cahaya akan memberikan pengalaman terbaik. Empat planet dapat dilihat dengan mata telanjang jika langit cerah, sementara dua lainnya memerlukan alat bantu optik.
Fenomena ini juga masih dapat diamati beberapa hari sebelum dan sesudah 28 Februari, meski puncaknya diperkirakan terjadi pada akhir bulan.
Di bulan suci yang mengajarkan kesabaran dan syukur, parade enam planet menjadi simbol harmoni alam semesta. Langit Ramadan bukan hanya indah untuk dipandang, tetapi juga mengajak manusia untuk merenung—tentang kebesaran ciptaan, tentang keluarga yang berkumpul, dan tentang waktu yang terus berjalan di bawah hamparan kosmos yang tak berbatas.***(Asep)
















