CIAMIS, deJurnal,- Akses pelayanan kesehatan bagi balita berusia tiga tahun asal Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, yang mengalami masalah gizi kini semakin diperkuat.
Kepesertaan BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) bagi anak tersebut dipastikan aktif mulai 1 September 2026, sehingga pemeriksaan dan penanganan lanjutan dapat terus dilakukan.
Kepastian kepesertaan BPJS PBI ini bermula dari koordinasi Puskesmas Tambaksari yang meminta bantuan terkait pengurusan jaminan kesehatan bagi balita tersebut. Sebelumnya, kelengkapan administrasi menjadi salah satu kendala ketika anak membutuhkan pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis.
Sebelumnya diketahui Puskesmas Tambaksari telah melakukan pemantauan dan intervensi gizi sejak 2025, ketika status gizi anak masih berada pada kategori gizi kurang.
Penanganan Sudah Dilakukan Sejak 2025
Petugas Gizi Puskesmas Tambaksari, Reihan Amwaliyah, mengatakan kondisi anak pertama kali terpantau mengalami gizi kurang pada 2025.
Saat itu, Puskesmas memberikan makanan tambahan (PMT) dan melakukan pemantauan pertumbuhan. Pemerintah desa juga turut memberikan bantuan susu untuk mendukung kebutuhan nutrisi anak.
“Pada 2025 status gizinya masih gizi kurang. Kemudian diberikan PMT dari Puskesmas, bantuan susu dari desa dan terus dilakukan pemantauan,” ujar Reihan.
Intervensi kemudian berlanjut pada 2026. Anak mendapat sejumlah dukungan, di antaranya PMT, susu dari desa, telur melalui program Celengan Cinta di Puskesmas, vitamin A, serta makanan bergizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, berat badan anak belum mengalami peningkatan yang stabil. Berat badan sempat naik beberapa ons, tetapi kembali turun sehingga grafik pertumbuhannya cenderung naik turun.
Memasuki awal 2026, hasil pemantauan menunjukkan adanya perubahan status gizi dari gizi kurang menjadi gizi buruk.
Berat Badan Sulit Naik Meski Intervensi Diberikan
Reihan menjelaskan, berdasarkan pemantauan, pola makan anak sebenarnya cukup baik. Anak juga terlihat aktif dalam aktivitas sehari-hari.
Tidak ditemukan keluhan penyakit berat yang menjadi perhatian selama pemantauan. Keluhan kesehatan yang muncul lebih banyak berupa batuk dan pilek.

Karena itu, Puskesmas menilai diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan berat badan anak tidak bertambah secara optimal.
“Kalau dari makanannya sebenarnya bagus. Anak juga aktif. Karena berat badannya tidak naik secara konsisten, perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan faktor lain,” katanya.
Didampingi ke RSUD Ciamis
Kepala Puskesmas Tambaksari, H. Asep Wahyudin, mengatakan pihaknya bersama keluarga kemudian membawa balita tersebut untuk menjalani pemeriksaan dokter spesialis anak di RSUD Ciamis.
Rombongan berangkat dari Tambaksari Rabu 26 Agustus 2026 sekitar pukul 06.30 WIB dan langsung mendapatkan pelayanan di Poli Anak.
“Alhamdulillah, langsung ditangani dengan baik oleh petugas rumah sakit. Kami mendampingi pasien dan keluarganya untuk dilakukan pemeriksaan dokter spesialis anak,” ujar Asep.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi anak secara lebih menyeluruh. Sebab, meski mengalami masalah gizi, secara umum anak terlihat aktif dan masih mengikuti kegiatan Posyandu.
Hasil pemeriksaan dokter spesialis anak menunjukkan adanya malnutrisi. Selanjutnya, anak direkomendasikan mendapatkan peningkatan asupan nutrisi, salah satunya melalui PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus) sesuai kebutuhan medis.
Dokter juga merekomendasikan pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor yang mungkin memengaruhi kondisi pertumbuhan anak. Salah satu pemeriksaan yang dipertimbangkan adalah rontgen yang hasilnya baru akan diketahui 2 Minggu kemudian.
BPJS PBI Aktif Mulai 1 September
Dalam proses penanganan, Puskesmas Tambaksari berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan RSUD untuk membantu mengupayakan kepesertaan BPJS Kesehatan bagi anak tersebut.
Asep mengatakan administrasi kependudukan anak kini sudah lengkap. Sementara kepesertaan BPJS PBI sedang dalam proses dan dipastikan mulai aktif pada 1 September 2026.
“Administrasi kependudukannya sekarang sudah lengkap. Untuk BPJS sedang diproses dan insyaallah mulai 1 September sudah aktif,” katanya.
Dengan aktifnya BPJS PBI, keluarga diharapkan memiliki akses yang lebih mudah ketika anak membutuhkan pemeriksaan maupun pelayanan kesehatan lanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.
Penanganan Bukan Baru Dilakukan
Asep menegaskan, pengurusan BPJS PBI merupakan bagian dari upaya memperkuat penanganan. Hal tersebut bukan berarti balita sebelumnya tidak mendapatkan perhatian atau pelayanan.
Sejak 2025, Puskesmas Tambaksari sudah melakukan pemantauan dan memberikan intervensi ketika status gizi anak masih berada pada kategori gizi kurang.
“Kasus ini sudah mendapat perhatian sejak awal. Ada pemantauan dan bantuan yang diberikan. Sekarang penanganannya diperkuat dengan pemeriksaan dokter spesialis dan dukungan akses pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Menurut Asep, penyebab masalah gizi pada anak perlu dilihat secara menyeluruh. Tidak hanya dari asupan makanan, tetapi juga kondisi kesehatan dan kemungkinan faktor lain yang dapat memengaruhi pertumbuhan.
Lintas Sektor Terus Berkoordinasi
Penanganan balita tersebut melibatkan berbagai pihak. Puskesmas melakukan pemantauan dan intervensi, pemerintah desa memberikan dukungan, Posyandu memantau pertumbuhan, sementara keluarga berperan dalam memastikan kebutuhan anak terpenuhi sehari-hari.
RSUD Ciamis juga mengambil peran melalui pemeriksaan dokter spesialis anak dan rencana pemeriksaan lanjutan.
Asep menilai kerja sama lintas sektor diperlukan agar penanganan dapat dilakukan secara berkesinambungan.
“Semua berperan masing-masing. Kami terus mendampingi dan memantau, sementara hasil pemeriksaan dokter menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya,” katanya.
Dengan kepesertaan BPJS PBI yang akan aktif mulai 1 September, penanganan balita tersebut diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
Pemantauan pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi akan terus dilakukan, disertai pemeriksaan medis sesuai rekomendasi dokter.
Pemerintah dan tenaga kesehatan memastikan kasus tersebut tetap menjadi perhatian hingga kondisi kesehatan dan status gizi anak menunjukkan perkembangan yang lebih baik. (Nay Sunarti)


















