CIAMIS, deJurnal – Empat anak asal Kabupaten Ciamis berhasil menorehkan prestasi dalam Lomba Jarimatika Agustus Match Medan 2026 tingkat nasional. Senin (07/09/2026)
Mereka mampu masuk jajaran pemenang setelah bersaing dengan 312 peserta dari berbagai daerah.
Keempat peserta tersebut merupakan anak binaan Rumah Les Privat Mama Kaka Sana Ciamis, yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Les Cantik yang beralamat di Cisaga.
Mereka yang dikirim mengikuti kompetisi terdiri dari Almeera Prameswari, Sarah Nur Fitriyani, Indri Sisi Nurliani dan Rana Aisha Mumtazah. Keempatnya turun pada kategori kelas 2 dan kelas 3 sekolah dasar.
Hasilnya cukup membanggakan. Almeera Prameswari meraih Juara 2 kelas 2 dengan skor 99. Sarah Nur Fitriyani menyusul sebagai Juara 3 kelas 2 dengan skor 98,5.
Sementara dari kategori kelas 3, Indri Sisi Nurliani berhasil meraih Juara 3 dengan skor 97. Adapun Rana Aisha Mumtazah meraih Juara Harapan 1 dengan skor 98,1.
Prestasi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Ciamis karena para peserta harus bersaing dengan anak-anak dari sejumlah daerah, di antaranya Jakarta, Bandung dan Medan.
Almeera dan Sarah Tembus Tiga Besar Kelas 2
Persaingan di kategori kelas 2 berlangsung cukup ketat. Juara pertama diraih Yeselin Kristiani Lumbantoru dari Jakarta dengan skor sempurna 100.
Almeera Prameswari dari Ciamis kemudian menempati posisi kedua dengan skor 99. Selisih nilainya hanya satu angka dari peraih juara pertama.
Posisi ketiga juga ditempati peserta dari Ciamis. Sarah Nur Fitriyani meraih skor 98,5 dan berhak membawa pulang gelar Juara 3.
Capaian tersebut menunjukkan ketatnya persaingan di kelas 2. Dua peserta dari Ciamis berhasil masuk tiga besar bersama peserta asal Jakarta.
Indri dan Rana Berprestasi di Kelas 3
Prestasi berikutnya datang dari kategori kelas 3. Indri Sisi Nurliani berhasil meraih Juara 3 dengan skor 97. Sementara Rana Aisha Mumtazah berada pada posisi Juara Harapan 1 dengan skor 98,1.
Pada kategori tersebut, Juara 1 diraih Adeeva Sabira Milen dari Jakarta dengan skor 99,9.
Meski belum berada di posisi teratas, capaian dua peserta Ciamis tersebut menjadi hasil positif. Terlebih, mereka baru berada pada tahap awal dalam mengikuti kompetisi tingkat nasional.
Sempat Deg-degan Sebelum Lomba
Mengikuti perlombaan tingkat nasional tentu memberikan pengalaman berbeda bagi anak-anak. Para peserta mengaku sempat merasa deg-degan sebelum perlombaan dimulai.
Bahkan, ada peserta yang mengaku sempat kesulitan tidur karena memikirkan perlombaan yang akan dihadapi.
Namun, ketika perlombaan dimulai, rasa gugup perlahan bisa dikendalikan. Mereka mencoba berkonsentrasi dan menyelesaikan soal sesuai kemampuan yang telah dilatih.
Saat ditanya mengenai tingkat kesulitan soal, anak-anak mengaku ada soal yang dirasakan mudah dan ada pula yang cukup menantang.
Pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari proses belajar. Anak tidak hanya dilatih kemampuan berhitung, tetapi juga belajar mengendalikan rasa gugup saat menghadapi kompetisi.
Jarimatika Melatih Anak Berhitung Cepat
Pemilik sekaligus pengajar Rumah Les Cantik, Astini Ramadiani, S.H., menjadikan metode jarimatika sebagai salah satu cara untuk membantu anak mengembangkan kemampuan berhitung.
Melalui metode tersebut, anak dilatih menggunakan jari sebagai alat bantu dalam melakukan operasi hitung. Seiring latihan, anak diharapkan semakin terbiasa menghitung dengan cepat dan tepat.
Jadi Bekal untuk Kompetisi Berikutnya
Astini berharap capaian empat peserta tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus berlatih.
Menurutnya, kemenangan bukan akhir dari proses belajar. Masih ada kemampuan yang harus dikembangkan dan dievaluasi setelah mengikuti kompetisi.
“Prestasi ini mudah-mudahan menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus belajar dan berlatih,” kata Astini.
Ke depan, pengalaman dari Agustus Match Medan 2026 diharapkan membuat anak-anak semakin percaya diri mengikuti kompetisi lainnya.
Bagi Rumah Les Cantik, keberhasilan Almeera, Sarah, Indri dan Rana juga menjadi penyemangat untuk terus memberikan ruang kepada anak-anak Ciamis dalam mengembangkan kemampuan matematika.
Menurut orang tua peserta, metode tersebut juga membantu anak lebih percaya diri dalam mengerjakan soal matematika.
Kemampuan berhitung secara langsung dinilai tetap penting di tengah perkembangan teknologi digital. Anak tidak selalu harus bergantung kepada kalkulator maupun perangkat elektronik ketika berhadapan dengan persoalan hitungan sederhana.
Orang Tua Tak Sekadar Mengejar Juara
Keikutsertaan anak dalam lomba juga mendapat dukungan penuh dari orang tua. Namun, para orang tua tidak menjadikan gelar juara sebagai satu-satunya tujuan.
Mereka lebih melihat kompetisi sebagai kesempatan bagi anak untuk mendapatkan pengalaman, mengukur kemampuan dan belajar berani tampil.
Orang tua Almeera, misalnya, mengaku tidak ingin memaksakan anak mengikuti lomba apabila belum siap.
“Kalau lomba saya tidak memaksakan anak. Kalau anaknya mau, boleh. Kasihan juga, di sekolah sudah banyak pelajaran. Yang penting anak berani dulu,” ujarnya.
Menurutnya, keberanian anak untuk mencoba merupakan modal penting. Dari pengalaman tersebut, anak bisa belajar menghadapi tantangan dan mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimilikinya.
Dukungan Keluarga Jadi Bagian Penting
Dukungan orang tua juga terlihat dari kesediaan mereka mendampingi anak selama mengikuti proses latihan.
Bagi keluarga, kemampuan anak dalam matematika tidak selalu harus dibangun dengan cara yang kaku. Suasana belajar yang nyaman justru dapat membuat anak lebih betah dan memiliki kemauan untuk terus berlatih.
Hal itu pula yang dirasakan sejumlah peserta Rumah Les Cantik. Ada anak yang sejak awal memang menyukai matematika, sementara sebagian lainnya mulai tertarik setelah mengikuti latihan.
Perbedaan karakter tersebut menjadi tantangan sekaligus bagian dari proses pembelajaran.
Pesan Sederhana dari Para Juara
Setelah mengikuti lomba, para peserta memiliki pesan sederhana bagi teman-teman mereka yang belum mencoba jarimatika.
Mereka mengajak anak-anak lain untuk berani belajar dan tidak takut dengan matematika.
“Teman-teman, ayo ikut jarimatika biar pintar,” ujar mereka.
Bagi anak-anak tersebut, pengalaman mengikuti kompetisi menjadi bukti bahwa belajar matematika bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Di tengah derasnya penggunaan teknologi digital, kemampuan berhitung, konsentrasi dan berpikir mandiri tetap perlu diasah.
Dari latihan sederhana di ruang belajar, anak-anak Ciamis pun menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dan meraih prestasi di tingkat nasional. (Nay Sunarti)










