Dejurnal.com, CILACAP. Daun yang tumbuh di sekitar rumah tak selalu berakhir menjadi sampah. Di Desa Cijati, Kabupaten Cilacap, bahan alami tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari proses kreatif yang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah.
Gagasan itu dibawa tim dosen Universitas Siliwangi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Ecoprint Dari Daun Jadi Karya”, Sabtu (15/08/2026)
Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu PKK Desa Cijati dengan materi yang tidak berhenti pada pengenalan ecoprint, tetapi langsung dilanjutkan dengan praktik membuat produk.
Program tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Cijati melalui Inovasi dan Diversifikasi Produk Asesories Ecoprint Berbasis Potensi Lokal Berdasarkan Konsep Ekonomi Sirkuler.”
Ketua tim pengabdian, Dr. Hendar Nuryaman, S.P., M.P., mengatakan kegiatan dirancang agar masyarakat dapat melihat bahan yang ada di lingkungan sekitar dari sudut pandang berbeda.
Menurutnya, potensi lokal dapat menjadi sumber kreativitas apabila dibarengi pengetahuan dan keterampilan yang tepat.
“Tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar mengajarkan teknik membuat ecoprint, tetapi bagaimana masyarakat dapat melihat potensi lokal yang ada di sekitarnya sebagai sumber kreativitas dan peluang untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah,” ujar Hendar.
Tak Berhenti di Teknik Membuat Motif
Sementara itu salah satu tim pengabdi Dr. Perdi Setiawan, M. Agr menjelaskan pelatihan, peserta dikenalkan dengan tahapan dasar ecoprint, mulai dari memilih bahan alami, menata daun hingga proses pemindahan motif ke media yang digunakan.

Setelah mendapatkan penjelasan, peserta langsung mempraktikkan teknik tersebut dengan pendampingan tim dosen.
“Pola pelatihan seperti ini membuat peserta dapat melihat langsung proses perubahan bahan alami menjadi produk dengan motif yang khas,” jelasnya.
Lebih lanjut Perdi menuturkan produk yang diperkenalkan pun tidak terbatas pada kain atau pakaian. Peserta mencoba mengembangkan ecoprint ke sejumlah produk, seperti baju, gantungan kunci, dan tumbler dengan berbagai model.
Diversifikasi menjadi bagian penting karena peserta tidak hanya dibekali kemampuan menghasilkan motif, tetapi juga diajak melihat kemungkinan pengembangan produk sesuai kebutuhan dan selera pasar.
“Ecoprint memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan menjadi berbagai produk, sehingga masyarakat tidak berhenti pada kemampuan membuat produk, tetapi juga dapat mengembangkan inovasi dan diversifikasi sesuai kebutuhan,” tutur Perdi.
Perempuan Desa Didorong Lebih Produktif
Keterlibatan ibu-ibu PKK menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan aktivitas produktif di lingkungan desa.
Selama praktik berlangsung, peserta mencoba sendiri berbagai bentuk dan model produk. Perbedaan susunan daun, motif serta media yang digunakan menghasilkan karya yang tidak seragam.
Proses tersebut sekaligus membuka ruang bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas berdasarkan kemampuan masing-masing.
Menurut Perdi, hasil pelatihan tidak semata-mata diukur dari berapa banyak produk yang berhasil dibuat.
Lebih dari itu, peserta diharapkan memiliki keberanian untuk mencoba, mengembangkan desain, dan melihat ecoprint sebagai keterampilan yang masih bisa dikembangkan setelah kegiatan berakhir.
Manfaatkan Bahan Alami, Kenalkan Ekonomi Sirkuler
Konsep ekonomi sirkuler juga menjadi bagian dari kegiatan. Pemanfaatan bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar dikenalkan sebagai salah satu cara mengoptimalkan sumber daya lokal secara lebih kreatif.
Pendekatan tersebut mempertemukan aspek keterampilan, kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan.
Bahan yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk dengan fungsi dan nilai estetika.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong tumbuhnya kreativitas dan kemandirian masyarakat,” ujar Perdi.
Ia berharap keterampilan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Masih ada ruang untuk mengembangkan desain, memperbaiki kualitas produk, membuat kemasan yang menarik hingga mengenalkan hasil karya kepada calon konsumen.
Ibu-Ibu PKK Antusias Mencoba
Pelatihan mendapat respons positif dari peserta. Ibu-ibu PKK mengikuti tahapan praktik secara langsung dan mencoba mengembangkan motif sesuai kreativitas masing-masing.
Salah seorang peserta Desi mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru. Ia sebelumnya tidak menyangka daun yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk dengan tampilan yang menarik.
Menurutnya, praktik secara langsung membuat peserta lebih mudah memahami proses pembuatan dibandingkan hanya mendapatkan penjelasan.
“Awalnya kami tidak terlalu tahu bagaimana daun bisa dibuat menjadi motif. Setelah mengikuti praktik, ternyata prosesnya menarik dan bisa dicoba sendiri. Kami jadi punya ide untuk membuat produk lain dari teknik ecoprint,” ujarnya.
Mereka mencoba berbagai susunan daun dan bentuk produk. Hasilnya tidak selalu sama karena setiap peserta memiliki pilihan bahan, komposisi dan penataan motif yang berbeda.
Dari Pelatihan ke Peluang Produk Desa
Kegiatan pengabdian Universitas Siliwangi tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan Tridharma Perguruan Tinggi melalui transfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat.
Bagi Desa Cijati, pengenalan ecoprint memberikan alternatif aktivitas kreatif yang dapat dikembangkan oleh masyarakat, khususnya kelompok perempuan.
Pengembangannya tentu membutuhkan proses lanjutan, mulai dari menjaga kualitas, menentukan produk yang sesuai, membangun identitas produk hingga memasarkannya.
Tim pengabdian terdiri atas Dr. Hendar Nuryaman, S.P., M.P. selaku ketua, bersama Dr. Perdi Setiawan, M. Agr., Lidya Nur Amalia, M.P., Dr. Muthiah Syakirotin, M. Agr., Siti Nur Anisah, S.Pd., M.Si., dan Yoga Gandara, M.Pd.
Pelatihan “Dari Daun Jadi Karya” pun menjadi langkah awal mempertemukan potensi sederhana di lingkungan desa dengan keterampilan baru.
Dari sana, ibu-ibu PKK Desa Cijati memiliki bekal untuk terus mencoba dan mengPembangkan ecoprint menjadi produk kreatif yang lebih beragam. (Nay Sunarti)



















