• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Minggu, Februari 22, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in Budaya

Kawah Putih, Jejak Junghuhn yang Jadi Ikon Obyek Wisata Kabupaten Bandung

bydejurnalcom
Rabu, 19 Agustus 2020
Reading Time: 3 mins read
ShareTweetSend

Dejurnal.com,Bandung – Zaman Belanda Gunung Patuha Ciwidey oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai pusat kerajaan jin dan tempat berkumpul ruh leluhur. Saking angkernya tempat tersebut hewan pun tidak ada yang berkeliaran. Konon, burung yang terbang di puncak gunung tersebut mendadak jatuh dan mati.

Bangsa asing tidak percaya dengan hal yang sipatnya mistik. Ahli geologi blasteran Belanda -Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn mencoba menguak misteri sekitar Gunung Patuha yang dianggap angker oleh masyarakat itu. Terungkaplah, kenapa burung tidak terbang di atas puncak gunung itu, karena bau belerang dari kawah yang kini populer dengan sebutan Kawah Putih.

BacaJuga :

Puluhan Ribu Keluarga Potensi Rentan Rawan Pangan Dapat Bantuan Beras dan Minyak dari CPPD Kabupaten Bandung

Korban Hanyut di Sungai Cimanuk Yang Berasal dari Muarasanding Telah Ditemukan Tim SAR Gabungan

7 Pejabat Eselon II Dirotasi Ini Pesan Bupati Bandung

Disebut Kawah Putih, sebab air kawah dan tanahnya berwarna putih. Sebenarnya kawah yang pertama kali ditemukan tahun 1837 oleh Dr. Franz Wilhelm Junghuhn ini adalah kawah Gunung Patuha.

Gunung Patuha di daerah Bandung Selatan oleh masyarakat sekitar Rancabali-Ciwidey dianggap sabagai gunung paling tua. Nama Patuha dari kata Pa Tua ( sepuh dalam bahasa Sunda), sehingga masyarakat setempat menyebutnya Gunung Sepuh.

Lebih dari satu abad lalu, puncak Gunung Patuha dianggap angker oleh masyarakat setempat. Tidak seorang pun yang berani bertandang ke gunung ini. Maka wajar waktu itu tidak diketahui bagaimana keadaan dan keindahan alamnya.

Waktu mengadakan perjalanan ke Bandung Selatan, sebagai seorang peneliti gunung api di Jawa juga peneliti geologi Pulau Jawa saat itu Dr. Franz Wilhelm Junghuhn merasakan keadaan yang tidak biasa dan menyeramkan. Tidak ditemukan hewan sebagaimana layaknya di hutan. Terdorong rasa penasaran, ia menanyakan ke warga setempat kenapa tempat tersebut begitu sepi.

Masyarakat satempat punya keyakinan puncak Gunung Patuha itu dihuni arwah para leluhur dan sebagai karajaan bangsa jin, sehingga dianggap angker.

Meski keyakinan masyarakat demikian, Junghuhn, tidak percaya begitu saja. Ia meneruskan perjalanan memasuki hutan belantara di sekitar gunung tersebut untuk mengetahui ada apa sebenarnya d tempat tersebut.

Bau beleraang

Belum juga sampai ke puncak gunung, Junghuhn terpana menyaksikan keindahan sebuah danau dan alam di sekelilingnya. Danau yang cukup luas dengan warna putih kehijauan. Dari dalam danau itu menyembur lava dan tercium bau belerang. Terkuaklah kenapa burung -burung tidak mau terbang di tempat itu.

Diisinilah mulai ada pabrik belerang Kawah Putih yang pada zaman Belanda disebut Zwavel Ontgining Kawah Putih. Di zaman Jepang, usaha pabrik ini diteruskan dengan sebutan Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey, langsung dalam pengawasan militer.

Entah sejak kapan produksi belerang dari Kawah Putih mulai merosot, seterusnya berhenti. Namun, sampai saat ini masih ada masyarakat yang percaya bahwa Kawah Putih tempat berkumpulnya ruh para leluhur.

Sebelah kiri, sebelum masuk menuruni tangga menuju Kawah Putih ada komplek pamakaman. Ada tulisan di plang “Patilasan Sunan Ibu”. Disana ada makam para leluhur, di antarannya; Eyang Jaga Satru, Eyang Rangsa Sadana, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom dan Eyang Jambrong.

Di salah satu tempat di puncak Gunung Patuha, yang disebut Puncak Kapuk oleh masyarakat dipercaya juga sebagai tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon di tempat ini beberapa warga pernah melihat sagorombolan domba putih yang dipercaya sabagai wujud leluhur.

Dikelola dari tahun 1987

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung, belum lama ini mengunjungi Kawah Putih disertai beberapa awak media dalam rangka sosialisasi dan simulasi menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19 di beberapa objek wisata di Ciwidey.

Dari perbatasan Kota dengan Kabupaten Bandung ke Kawah Putih berjarak kurang lebih 50 km. Menempuh jalan aspal datar dan halus sampai melewati Kecamatan Soreang. Baru terasa jalan menanjak dan berbelok-belok setelah masuk ka Kecamatan Pasirjambu. Udara mulai terasa dingin saat masuk ke Kecamatan Ciwidey, suhu antara 8 sampaii 22 darajat Celcus, sabab tempat tersebut berketinggian 2.400 mdpl.

Dari tahun 1987 Kawah Putih dikelola oleh Perhutani, jadi ikon objek wisata Kabupaten Bandung. Menurut Cluster Manager Ciwidey Perhutani, Trisna Mulyana, selama tilga bulan sejak diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) objek wisata Kawah Putih mengalami kerugian Rp 6 miliar dengan asumsi jumlah pengunjung 3000 orang. New normal ini disambut baik oleh para pengelola objek wisata di Kabupaten Bandung.

Untuk menarik minat pengunjung objek wisata Kawah Putih kini ada tempat parkir luas, ada mushola, toilet, alat transportasi dari gerbang depan sampai ke kawah, pusat informasi, restoran, puluhan warung kuliner.

Alat transportasi yang mengantar pengunjung dari parkir depan sampai ke kawah yang berjarak kurang lebih 3 km itu yakni ontang-anting, bis mini yang dimodifikasi jadi kendaraan wisata. Satu ontang-anting bisa muat 12 orang.

Sampai ke kawah yang luasnya 25 hektare ini, dijamin pengunjung tidak akan tahan untuk berselfie. Yang hapal sajarahnya dan pernah mendengar mitos angkernya mungkin akan lupa karena pesona Kawah Putih. Tidak sangka bahwa kawah yang terbentuk dari meletusnya Gunung Patuha pada abad ka-10 ini bisa ditapaki kaki sampai di tengah-tengahnya.

Di tengah Kawah Putih kini dibangun dermaga ponton terbuat dari kayu yang dilengkapi pelampung. Wisatawan yang ingin berada di tengah-tengah kawah maka di dermaga inilah berada setelah melalui jembatan apung dari tepi kawah. Petugas akan memandu wisatawan untuk keamanan.

Di salah salah satu sisi kawah terlihat asap putih mengepul kaluar dari lubang lava. Jika saja tanpa jejak Junghuhn, mungkin sampai saat ini Kawah Putih belum tentu tergali potensinnya.*** Sopandi

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Dengan Menerapkan Protokol Kesehatan PT Nugraha Jaya Gelar Syukuran

Next Post

Makin meningkatnya Positif Covid-19 DiSubang Dari Hasil Swab Bulan Agustus

Related Posts

Tasyakuran HUT KSPSI ke-53 dan HARPEKINDO 2026 di Purwakarta
Nasional

Tasyakuran HUT KSPSI ke-53 dan HARPEKINDO 2026 di Purwakarta

Sabtu, 21 Februari 2026
PT.Dahana Siap Produksi Bom BNT-250 Untuk TNI AU Siap Mengudara
Nasional

PT.Dahana Siap Produksi Bom BNT-250 Untuk TNI AU Siap Mengudara

Sabtu, 21 Februari 2026
Komplotan Curanmor dan Penadah Berhasil Diamankan Polsek Karangpawitan
deNews

Komplotan Curanmor dan Penadah Berhasil Diamankan Polsek Karangpawitan

Sabtu, 21 Februari 2026
Puluhan Ribu Keluarga Potensi Rentan Rawan Pangan Dapat Bantuan Beras dan Minyak dari CPPD Kabupaten  Bandung
deNews

Puluhan Ribu Keluarga Potensi Rentan Rawan Pangan Dapat Bantuan Beras dan Minyak dari CPPD Kabupaten Bandung

Sabtu, 21 Februari 2026
Korban Hanyut di Sungai Cimanuk Yang Berasal dari Muarasanding Telah Ditemukan Tim SAR Gabungan
deNews

Korban Hanyut di Sungai Cimanuk Yang Berasal dari Muarasanding Telah Ditemukan Tim SAR Gabungan

Sabtu, 21 Februari 2026
Rotasi dan Promosi 154 Pejabat di Lingkungan Pemkab Bandung Momentum Satu Tahun Pemerintahan Dadang Supritana- Ali Syakieb
deNews

7 Pejabat Eselon II Dirotasi Ini Pesan Bupati Bandung

Jumat, 20 Februari 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Andrianto (kiri) saat bersama Siti Mamduhah, Ketua DKKG Kang Jiwan dan salah satu legislator Garut Syamsudin saat berziarah ke makam Raden Tumenggung Ardikusumah di Astana Kalong, bebebrapa waktu lalu.

Kini, Makam Raden Tumenggung Ardikusumah di Astana Kalong Garut Banyak Diziarahi Tokoh Masyarakat

Sabtu, 22 Juli 2023

Resonansi : Tak Ada Pemotongan TPG, Betapa Bahagianya Para Guru

Kamis, 1 Juli 2021

KabarDaerah

Rapat Minggon Kecamatan Pagaden Diwarnai Kebakaran Korsleting Listrik

Selasa, 8 Februari 2022

Ratusan Karyawan PT Indonesia Victory Garment Unjuk Rasa Tuntut Gaji dan THR

Jumat, 15 Mei 2020

Kuota Calhaj Berkurang Drastis, Bupati Bandung Perjuangkan Tambahan Lagi

Rabu, 12 November 2025
Foto : sejumlah kendaraan melintasi alun alun Ciamis Minggu (06/04/2015)

Minggu Sore Kendaraan Meningkat di Ciamis, Kadishub Tidak Ada Rekayasa Lalu Lintas

Minggu, 6 April 2025

Pekerja Migran Asal Garut Berjumlah 1.700 Orang, Tahun 2024 Diusulkan Kirim 420 PMI

Selasa, 28 Februari 2023

Kerja Bakti Warga Bersih-Bersih Lingkungan Desa Sagaracipta, Kades : Semoga Jadi Inspirasi

Jumat, 2 Mei 2025

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste