Dejurnal.com, Bandung – Instalasi air bersih Desa Margahayu Tengah (Marteng) Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung dikelola dari taun 2014. Setiap tahun mengalami kenaikan omsetna.Dari Rp80 juta pertahun di tahun 2020 omset plutonya mencapai Rp1,2 miliar. Jadi Pendapatan Asli Desa (PADes) Rp112 juta. Tahun 2021 Rp120 juta, sampai tahun 2025 Rp175 juta, dan tahun 2026 ini ditargetkan Rp180 juta.
Kepala Desa Marteng, Asep Zaenal Mahmud mengajarkan, sejak menjabat Kepala Desa Marteng, ia bertékad memenuhi kebutuhan warga terhadap air bersih, yang saat itu tahun 2014 jumlah warga Desa Marteng sekitar 17.500 jiwa.
Pada awalnya sejumlah sumur dibuaat untuk memenuhi kebutuh warga yang tersebar di 88 RT dan 16 RW. Namun, selanjutnya dinuat peraturan desa (Perdes) untuk mengelola air bersih dengan serius. Dikelolalah oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diberi nama Marga Bhanti Persada, serta sebagai Manager H. Aep Saepulloh.
PADes dari pengelolaan air bersih ini, kata Asep Zaenal hasilnya dikembalikan lagi kepada masyarakat saperti taun-taun sebelumnya. “Dari nilai sebesar tersebut di atas, untuk beasiswa anak santri di pesantren, utamananya yang tidak mampu. Tahun kemarin sekitar 15 orang, setiap bulan Rp 350 ribu, pertahun Rp4.200.000 X 15 orang Rp63 juta,” kata Asep Zaenal di kantornya, Senin 5 Januari 2026.
Kemudian lanjut, Asep Zaenal bantuan ke Dewam Kemakmuran Masjid (DKM), lantaran dari dana transfer daerah tidak boleh. Jumlah masjid yang biasa dipaké jumaatan di Desa Marteng ada 15 masjid, mushola ada 32. Untuk masjid Rp1 juta pertahun, sedangkan untuk mushola Rp 500 rébu pertahun.
” Jadi ke masjid Rp15 juta setiap tahun, untuk musola Rp16 juta setahun. Selain itu ada pertemuan Silaturahmi Ulama- Umaro 3 bulanan yang dibiayai dari PADes pengelolaan air bersih tersebut, juga untuk kagiatan sosial yang lainnya,” kata Asep.
Selain itu, kata Asep Zaenal ada untuk kas RW. Per RW ada persentase tergantung jumlah warga yang memasang . Pengelolaan air bersih ini 25 persennya untuk pagawai di lapangan .
Untuk biaya listrik 35 persen, masuk ke BUMDes 40 persen. Untuk biaya perawatan mesin dan sambungan juga toren 25 persen dari 40 persen ini untuk kas RW,” katanya.
Sampai saat ini sekurangnya ada dua titik sumur di setiap RW . Jumlah RW di Desa Marteng ada 16 RW , jumlah total 33 titik sumur. Berdasar Pemdes warga dikenakan biaya Rp 4000/ meter kubik.
Pengeloalan air bersih Desa Marteng sampa saat ini ada 3.300 sambungan ke rumah warga yang aktif. Dutambah yang tidak aktif sekitar 200 sambungan. 100 persen rumah warga di Desa Marteng sudah tersambung, kecuali yang memiliki mesin sibel sendiri.
Terkait saluran air PDAM mulai masuk ke dua kecamatan; Margahayu dan Kecamatan Margaasih dari tahun 2021, ke Desa Marteng belum masuk, walaupin waktu PDAM menawarkan ke desa Asep Zaenal mempersilahkan warganya untuk memilih PDAM atau air yang dikelola oleh BUMDes. Malahan mau keduanya juga pihak desa tidak menghalang-halang. Namun, kata Asep, sampai saat ini belum ada saluran dari PDAM masuk ke Desa Marteng. Tapi desa yang lain sudah ada.***Sopandi














