Dejurnal.com, Bandung – Dalam rangka Harlah ke 100 Nahdlatul Ulama (NU) Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kutawaringin menggelar Istighosah Akbar di Masjid Agung Al-Fathu Kabupaten Bandung di Soreang, Minggu (1/2/2026).
Ketua MWC NU Kecamatan Kutawaringin, KH. Andris Fajar, S.Ag., M.Pd mengatakan, kegiatan Istighosah Akbar oleh Ustadz Khoirudin Jamil Mubarok (Pimpinan Ponpes Raudhatul Irfan Kutawaringin), dan tausiah Yaumal Ijtima oleh Suriyah PCNU Kabupaten Bandung yang juga Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, KH. Yusuf Ali Tantowi, LC.MA. Selain itu, acara ini dirangkai dengan pelantikan PAC Muslimat NU Kecamatan Kutawaringin.
“Jadi, satu desa ada sekitar 20 pengurus Muslimat. Muslimat adah ibu-ibu yang sudah usia 45 tahun ke atas yang mengurus NU, biasanya istri-istri dari pengurus MWC,” kata Andris Fajar di sela acara
Andris Fajar mengaku bersyukur karena MWC Kutawaringin yang baru berdiri 5 tahun, dari 2021 -sampai sekarang dipimpin oleh dirinya selalu melakukan kegiatan silaturahmi dan mengaji.
“Pertama berdiri anggotanya paling 10 orang, alhamdulilah sekarang sudah 5 tahun di Kutawaringin sudah ratusan yabg menjadi pengurus,” katanya.
KH. Andris Fajar mengaku tidak peduli di tingkat pusat NU ada ‘kisruh’ bagaimana pun, karena dirinya selalu berpatokan , bahwa mudah-mudahan dirinya diaku sebagai santri pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari.
” Kalau diaku sebagai santrinya, didoakan beserta keluarganya khusnul khotimah. Semua orang tahu, perkataan beliau kalau mengurus NU diaku sebagai santrinya walaupun kita tidak nyantri ke beliau. Nah, saya dan pengurus yang lain yakin, mudah-mudahan kalau pun ada kisruh segala macam itu oknum lah. Mudah-mudahan bisa selesai. Karena kalau di NU itu ada istilah ‘Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq’ . Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya. Walaupun banyak konplik tapi tetap menarik, akhirnya islah lagi,” terang H. Andris Fajar.
Pendiri utama NU, KH. Hasyim Asy’ari yang bertindak sebagai Rais Akbar, didampingi oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Bisri Syansuri. NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya sebagai wadah ulama pesantren untuk mempertahankan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Di momen satu abad ini, khususnya bagi MWC NU Kutawaringin, selain pengajian rutin dan silaturahmi serta istighosah, H.Andris berupaya meningkatkan ekonomi yaitu dengan memelihara ayam petelor di tiap desa.
Sementara itu, Camat Kutawaringin H. Asep Ruswandi menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan pengajian rutin bulanan Muslimah NU yang kali ini dirangkaikan dengan Istighosah Akbar, tausiah Yaumal Ijtima MWC NU Kutawaringin dalam rangka memperingati Harlah 100 tahun NU, dan mengucapkan selamat Konferensi PAC Muslimat NU Kutawaringin.***Sopandi















