CIAMIS, deJurnal,- Setelah sempat meredup pascaboombing beberapa tahun lalu, geliat pengrajin batu akik di Kabupaten Ciamis perlahan kembali menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Meski belum sepenuhnya pulih, aktivitas produksi dan transaksi mulai menggeliat, ditopang oleh para pecinta batu akik yang masih setia mempertahankan hobi mereka.
Di balik kebangkitannya para pengrajin mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Kondisi ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi minat pembeli, sehingga berdampak langsung terhadap omzet para pelaku usaha batu akik.

Rana Maulana, pengrajin sekaligus pelaku usaha aksesoris batu akik PPKJ asal Desa. Gunungsari Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, menyebut bahwa tren batu akik saat ini tidak lagi seperti masa puncak popularitasnya dulu.
“Sekarang mulai ada lagi peminatnya, tapi tidak seramai dulu. Kendalanya lebih ke daya beli, orang yang hobi masih ada, tapi untuk membeli itu yang agak berkurang,” ujarnya. Selasa (31/03/2026)
Ia menjelaskan, pada masa kejayaan batu akik, jenis seperti Bacan dan Kalimaya menjadi primadona dan banyak diburu kolektor.
Namun, seiring waktu, tren tersebut mengalami penurunan signifikan sebelum akhirnya kembali stabil di kalangan penghobi.
Menurut Rana, batu akik saat ini lebih dipandang sebagai bagian dari hobi dan estetika, bukan sekadar tren sesaat.
Meski demikian, sebagian masyarakat masih meyakini adanya nilai lebih dari batu akik, meski hal tersebut tidak menjadi fokus utama para pengrajin.
“Dari kami pengrajin, batu akik itu lebih ke keindahan dan seni. Yang datang ke sini kebanyakan memang karena hobi, bukan karena hal-hal lain,” jelasnya.

Dari sisi harga, batu akik tidak memiliki standar baku yang kaku. Nilai jual sangat ditentukan oleh kualitas batu, jenis, serta keunikan motif yang dimiliki.
Batu dengan kualitas tinggi tentu memiliki harga lebih mahal dibandingkan dengan kualitas biasa.
“Memang ada semacam patokan pasar, tapi tidak baku. Misalnya batu Bacan, ada yang murah, ada juga yang mahal tergantung kualitasnya,” tambahnya.
Ia juga menyebutkan bahwa perbedaan jenis batu akik umumnya dipengaruhi oleh daerah asal penemuan, seperti batu Garut, Bacan dari Maluku Utara, hingga Kalimaya.
Sementara untuk wilayah Ciamis sendiri, potensi batu akik masih ada, meski kualitasnya belum sepopuler daerah lain.
Dalam proses produksinya, pengrajin batu akik di Ciamis umumnya mengerjakan pembuatan cincin atau “batang” secara manual. Biaya pembuatan bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung tingkat kesulitan dan detail ukiran.
“Untuk pembuatan yang sederhana bisa selesai satu hari, tapi kalau yang rumit atau ukiran khusus bisa lebih lama. Semua dikerjakan manual, jadi butuh ketelitian,” ungkap Rana.
Perawatan batu akik pun terbilang sederhana. Bahkan, menurut pengrajin, penggunaan sehari-hari justru dapat meningkatkan kualitas tampilan batu.
“Semakin sering dipakai, justru bisa membuat batu semakin bagus dan mengilap, tinggal di perawatan batangnya saja bisa di cuci menggunakan sabun cuci piring 2 atau 3 bulan sekali,” katanya.
Dikatakan Rana meski belum kembali ke masa kejayaan, dirinya mengaku optimist batu akik memiliki pasar tersendiri yang akan terus bertahan.
Dengan mengandalkan kualitas, kreativitas, dan pasar penghobi, geliat batu akik di Ciamis diyakini akan terus hidup sebagai bagian dari industri kreatif lokal.
Kebangkitan tersebut menjadi harapan baru bagi para pengrajin untuk kembali meningkatkan pendapatan, sekaligus menjaga warisan kerajinan khas yang pernah menjadi kebanggaan daerah. (Nay Sunarti)
















