Ciamis, deJurnal – IJTI Galuh Raya menghadirkan narasumber kompeten untuk membedah peran jurnalisme positif dalam membangun optimisme daerah melalui Talkshow Discussing Life sebagai refleksi dan resolusi awal tahun 2026. Kegiatan digelar di Hollow Cafe, Ciamis, Kamis (8/1/2026).
Di tengah derasnya arus informasi dan disrupsi media sosial yang kian masif, batas antara fakta dan fiksi semakin kabur. Ruang publik kerap dipenuhi narasi krisis, konflik, dan informasi provokatif.
Padahal, pada saat yang sama, daerah menyimpan banyak cerita kemajuan, inovasi, ketangguhan masyarakat, serta praktik-praktik baik yang layak diangkat untuk memperkuat optimisme publik.
Talkshow menghadirkan dua narasumber utama, yakni Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Dr. H. Andang Firman Triyadi, MT, serta akademisi Universitas Galuh (Unigal), Hendra Sukarman, S.E., S.H., M.H. Kegiatan ini juga menjadi forum dialog antara insan pers, pemerintah daerah, dan akademisi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Dr. H. Andang Firman Triyadi, menegaskan bahwa jurnalisme positif harus dimaknai sebagai praktik jurnalistik yang tetap kritis, beretika, dan berpihak pada kepentingan publik.
“Jurnalisme positif bukan menutup mata terhadap persoalan, apalagi menghilangkan kritik. Justru jurnalisme positif menuntut keberanian menyampaikan fakta secara apa adanya, namun dengan etika, tanggung jawab, dan orientasi edukasi,” ujarnya.
Menurut Andang, media memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas ruang publik agar tidak dipenuhi narasi provokatif yang memecah belah masyarakat.
“Media harus selektif dan bijaksana. Informasi yang disampaikan semestinya membangun dialog, kepercayaan, dan optimisme masyarakat, bukan memperkeruh suasana,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Ciamis memandang pers sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.
“Kritik yang objektif dan berbasis data sangat kami butuhkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Ciamis yang maju dan berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Andang menjelaskan bahwa arah pembangunan Kabupaten Ciamis tetap mengacu pada RPJMD 2025–2029 dengan visi “Sinergi Mewujudkan Ciamis Maju dan Berkelanjutan.”
“Tema pembangunan tahun 2026 ditetapkan “Sinergitas Penguatan Modal Dasar dalam Transformasi Pembangunan Daerah”, dengan fokus pada percepatan transformasi ekonomi dan sosial berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi berbasis ekologi, serta penguatan dan pemberdayaan UMKM,” jelasnya.
Akademisi Universitas Galuh, Hendra Sukarman, yang akrab disapa Kang Ebo, menegaskan bahwa media arus utama masih memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk persepsi publik terhadap daerahnya sendiri.
“Berita bukan hanya soal peristiwa, tetapi tentang bagaimana realitas dibingkai. Ketika media mampu menghadirkan pemberitaan yang berimbang, solutif, dan kontekstual, optimisme masyarakat akan tumbuh,” jelasnya.
Hendra menegaskan jurnalisme positif tidak boleh kehilangan daya kritis dan idealisme.
“Optimisme daerah tidak dibangun melalui pencitraan semata, melainkan melalui kolaborasi antara media yang berintegritas dan pemerintah yang terbuka. Jurnalisme positif tetap berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik,” katanya.
Hendra juga mendorong IJTI Galuh Raya menjadikan forum ini sebagai momentum refleksi dan evaluasi kinerja jurnalistik.
“Jurnalis harus memiliki ideologi yang jelas. Jangan menafikan kebenaran dan jangan kehilangan daya kritis itulah fondasi utama profesi ini,” tegasnya.
Sementara itu Ketua IJTI Korda Galuh Raya, Yosep Trisna, menyampaikan bahwa talkshow ini merupakan wujud komitmen IJTI dalam menjawab tantangan dunia jurnalistik di era disrupsi digital.
“Di tengah banjir informasi, jurnalis dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, berimbang, dan bertanggung jawab. IJTI Galuh Raya ingin memastikan jurnalisme tetap menjadi penjaga nalar publik,” ujar Yosep.
Yosep menuturkan jurnalisme positif bukanlah jurnalisme yang lunak atau kompromistis.
“Kritik tetap harus disampaikan, namun secara objektif, beretika, dan konstruktif. Media harus menghadirkan konteks dan solusi, bukan sekadar sensasi,” katanya.
Yosep berharap refleksi dan resolusi awal tahun 2026 dapat memperkuat solidaritas insan pers serta mempererat sinergi antara media, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Kami ingin jurnalisme menjadi bagian dari solusi, menjaga optimisme masyarakat, tanpa kehilangan independensi dan daya kritis,” pungkasnya. (Nay Sunarti)













