Jumat, 12 April 2024
BerandadeNewsTerkait CSR Peternakan Ayam Manggis, Tak Seorang Pun Mengaku Terima Signifikan

Terkait CSR Peternakan Ayam Manggis, Tak Seorang Pun Mengaku Terima Signifikan

Dejurnal.com, Cianjur – Peternakan Ayam Manggis yang sudah berdiri puluhan tahun di Desa Jamali Kecamatan Mande mengaku sudah maksimal dalam memberikan kontribusi berupa Corporate Social Responsibility (CSR) kepada masyarakat sekitar yang berdekatan dengan peternakan ayam manggis, baik warga desa Jamali ataupun Kademangan.

Pernyataan itu disampaikan perwakilan peternakan ayam manggis Dermawan kepada dejurnal.com beberapa waktu lalu di kantornya.

Baca : Peternakan ayam manggis tepis tudingan perusahaan tak salurkan CSR

Perusahaan, menurut Dermawan sudah memberikan kesempatan kerja kepada warga setempat, mendistribusikan air bersih serta memberikan insentif setiap tahun.

“Jika ada warga yang meninggal kita santuni dengan telor karena salah satu produksi kita telor,” ujarnya.

Namun apa yang diucapkan Dermawan sebagai perwakilan dari peternakan ayam manggis tak sebanding lurus dengan yang dinyatakan tokoh masyarakat serta warga baik di Desa Jamali ataupun Kademangan.

Para Ketua RW dan RT di Cibalagung Desa Kademangan yang termasuk warga terdampak dengan peternakan ayam manggis mengaku bahwa mereka mendapatkan kontribusi dari perusahaan Rp 1 juta rupiah per tahun, itupun dibagikan kepada warga, jika satu RT ada 100 kepala keluarga rata-rata mereka mendapat Rp 10 ribu setahun.

“Kalau ke RW, jujur kita tak pernah terima,” ujar salah satu Ketua RW di Cibalagung saat bincang-bincang dengan dejurnal.com di Kantor Desa Kademangan.

Para Ketua RT itu pun mengaku dampak yang paling signifikan terasa kepada warga mereka dari peternakan ayam manggis ialah menurunnya kualitas udara (bau) dan adanya serangan lalat yang luar biasa.

“Jika dibandingkan dengan kompensasi Rp 10 ribu per tahun memang sangat tidak sebanding,” ujar salah satu Ketua RT.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Desa Jamali yang akrab dipanggil Lurah Coan, menyatakan bahwa peternakan ayam manggis tak pernah ada komitmen CSR, kalau ada itu memberi sumbangan yang tak mengikat ke desa.

“Jujur ya pa, kita terima sumbangan setahun Rp 1,5 juta dari manggis,” ujarnya.

Baca : Siapa pengelola dan penerima manfaat csr peternakan ayam manggis, senilai 4 miliar?

Lurah Coan juga menyatakan, persoalan CSR itu hak masyarakat untuk mempertanyakan karena mereka yang berdekatan dan merasakan dampaknya, jika masyarakat sudah kesal paling jalan yang ditutup seperti pernah kejadian dahulu.

“Nah jika sudah begitu, baru kepala desa diminta tolong dan ikut turun tangan,” keluhnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Desa Jamali Saepuloh mengungkapkan bahwa sudah saatnya persoalan CSR atau kontribusi perusahaan terhadap lingkungan bagi peternakan ayam manggis dibuka dengan seterang-terangnya.

“Selama ini saya sebagai pihak yang dianggap mewakili peternakan ayam manggis selalu terkena fitnah saja,” ujarnya.

Saepuloh mengaku sudah puluhan tahun menjadi orang yang dianggap “membackup” peternakan ayam manggis sehingga masyarakat merasa jengah dan segan untuk berhadapan dengan perusahaan.

“Saya sudah cape dengan kondisional ini, dan sudah saatnya masyarakat tahu yang sebenarnya,” pungkasnya.***Man/Iw/Ris

Anda bisa mengakses berita di Google News

Baca Juga

JANGAN LEWATKAN

TERPOPULER

TERKINI