CIAMIS, deJurnal,– Ancaman musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang mendorong Pemerintah Kabupaten Ciamis memperkuat langkah antisipasi di berbagai sektor.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, dan Pertanahan (DPUTRP), pemerintah daerah menyiapkan strategi terpadu untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat sekaligus menjaga pasokan air irigasi bagi lahan pertanian.
Upaya tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas instruksi Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengenai kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan serta surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis terkait siaga bencana kekeringan dan kebakaran.
Kepala DPUTRP Kabupaten Ciamis, Taufik Gumelar, mengatakan kesiapan menghadapi El Nino tidak hanya difokuskan pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga melalui penguatan infrastruktur air yang telah dirancang sejak awal.
“Langkah yang kami lakukan meliputi penyediaan air bersih, penguatan jaringan irigasi, hingga penyiapan sarana pendukung apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat. Tujuannya agar kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian tetap terpenuhi selama musim kemarau,” ujar Taufik, Selasa (14/7/2026).
SPAM Diperluas untuk Wilayah Rawan Kekeringan
Salah satu program utama yang terus diperkuat adalah pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di desa-desa yang selama ini masuk kategori rawan kekeringan.
Pada Tahun Anggaran 2025, DPUTRP membangun SPAM di 19 desa yang tersebar di 14 kecamatan. Program tersebut memberikan akses air bersih kepada 3.991 kepala keluarga melalui pembangunan sumur bor, bak penampungan, dan jaringan perpipaan menuju rumah warga.
Program itu berlanjut pada Tahun Anggaran 2026 dengan pembangunan SPAM di 10 desa yang berada di 10 kecamatan dan menyasar sedikitnya 530 kepala keluarga.
Menurut Taufik, manfaat SPAM tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas kesehatan lingkungan.
“Penyediaan air bersih merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk mendukung penurunan angka stunting melalui akses terhadap air layak konsumsi dan sanitasi yang lebih baik,” katanya.
Survei Geolistrik Jadi Kunci Keberhasilan
Untuk memastikan keberhasilan pembangunan sumur bor, DPUTRP menerapkan kajian teknis melalui survei geolistrik sebelum pekerjaan dimulai.
Metode tersebut digunakan untuk memetakan potensi sumber air tanah sehingga pembangunan dapat dilakukan pada lokasi yang memiliki cadangan air paling memungkinkan.
Taufik mengakui pada beberapa wilayah dengan kontur perbukitan, debit air dapat mengalami penurunan saat kemarau berlangsung cukup lama. Namun kondisi tersebut telah diantisipasi melalui berbagai langkah teknis.
“Kalau ada penurunan debit air, kami mencari sumber alternatif di sekitar lokasi. Sementara jika kualitas air berubah menjadi keruh, dilakukan pendalaman sumur atau pemasangan alat penyaring agar air tetap layak dimanfaatkan,” jelasnya.
KPSPAM Jaga Keberlanjutan Layanan
Keberlangsungan pelayanan SPAM juga didukung keberadaan Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) di setiap lokasi pembangunan.
Sejumlah KPSPAM yang dibentuk sejak 2016 kini telah berkembang dan terintegrasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Melalui pengelolaan iuran masyarakat, operasional dan pemeliharaan jaringan air dapat dilakukan secara mandiri sehingga pelayanan tetap berjalan berkesinambungan.
Perkuat Irigasi Demi Ketahanan Pangan
Selain menjamin kebutuhan air bersih masyarakat, DPUTRP juga memfokuskan perhatian pada sektor pertanian yang rentan terdampak kekeringan.
Di wilayah yang belum memiliki jaringan irigasi permukaan, DPUTRP mengembangkan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui pengeboran sumur yang dikoordinasikan bersama Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Menurut Taufik, sejumlah kawasan rawan kekeringan telah dipetakan sebagai prioritas pembangunan JIAT.
“Air tanah dialirkan ke lahan pertanian agar aktivitas tanam tetap berjalan. Pengelolaannya dilakukan bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sehingga distribusi air berlangsung adil sesuai kebutuhan dan pola tanam,” ungkapnya.
Di samping itu, DPUTRP juga telah mengusulkan rehabilitasi jaringan irigasi primer dan sekunder kepada BBWS melalui skema Instruksi Presiden (Inpres) guna meningkatkan keandalan sistem pengairan di Kabupaten Ciamis.
Siapkan Logistik Darurat
Menghadapi kemungkinan kerusakan infrastruktur akibat bencana, DPUTRP turut menyiapkan berbagai logistik darurat seperti bronjong, karung, dan pipa paralon.
Peralatan tersebut disiagakan agar penanganan kerusakan saluran irigasi dapat dilakukan dengan cepat sehingga distribusi air ke lahan pertanian tidak terganggu dalam waktu lama.
Selain itu, kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi terus dilaksanakan secara berkala untuk memastikan seluruh saluran tetap berfungsi optimal selama musim kemarau.
“Kami berharap berbagai langkah yang telah disiapkan ini mampu menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat sekaligus memastikan sektor pertanian tetap produktif sehingga ketahanan pangan di Kabupaten Ciamis tetap terjaga meski menghadapi ancaman El Nino,” pungkas Taufik.















