Dejurnal.com, CIAMIS. Karya inovasi yang mengangkat kearifan lokal Galuh mengantarkan Mia Sumiari Dewi, S.Pd., Gr., dari SMAN 1 Panawangan, Kabupaten Ciamis, lolos enam besar ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 kategori Best Employee.
Mia berhasil melewati seleksi tahap II dan berhak melanjutkan ke tahap III berupa visitasi lapangan.
Tahapan ini menjadi kesempatan bagi Mia untuk mempresentasikan sekaligus menunjukkan secara langsung karya inovasi yang diusung dalam ajang tersebut.
Berdasarkan jadwal Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Barat, visitasi lapangan terhadap Mia akan dilaksanakan di SMAN 1 Panawangan, Jalan Ciamis-Cirebon No. KM 159, Cinyasag, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 10.00 hingga 12.00 WIB.
Karya yang akan ditampilkan dalam visitasi tersebut yakni “Motif Batik Cakra Galuh: Transformasi Kearifan Lokal sebagai Media Penyampai Filosofi Kebaikan Universal dan Penyemaian Karakter Pancawaluya.”
Karya tersebut tidak sekadar mengangkat batik sebagai produk budaya. Mia menjadikan motif batik sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan sekaligus mengenalkan kembali filosofi kearifan lokal Galuh kepada masyarakat dan generasi muda.
“Bagi saya, batik bukan sekadar kain. Batik adalah bahasa. Melalui Motif Cakra Galuh, saya mencoba mentransformasikan kearifan lokal menjadi sebuah media pendidikan karakter yang hidup,” ujarnya
Melalui Motif Batik Cakra Galuh, Mia mengangkat filosofi yang terkandung dalam simbol budaya Galuh dan menghubungkannya dengan nilai-nilai Pancawaluya, yakni Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
Nilai tersebut masing-masing merepresentasikan pribadi yang sehat, baik, benar, cerdas, serta memiliki kepekaan dan kewaspadaan dalam menjalani kehidupan.
Bagi Mia, Pancawaluya tidak cukup hanya dikenalkan sebagai sebuah konsep. Nilai tersebut perlu disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan, termasuk melalui seni dan budaya.
“Pancawaluya bukan hanya slogan. Nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer bisa disampaikan melalui goresan motif batik, sehingga nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan dengan cara yang indah, membudaya, dan membekas di hati,” katanya.
Gagasan itulah yang kemudian menjadi ruh dalam pengembangan Motif Batik Cakra Galuh. Kearifan lokal tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi diolah menjadi media yang memiliki pesan pendidikan dan relevan dengan kehidupan generasi saat ini.
Masuknya Mia ke enam besar Best Employee ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 merupakan hasil dari beberapa tahapan seleksi yang telah dilaluinya. Setelah dinyatakan lolos tahap II, para kandidat melanjutkan proses ke tahap III berupa visitasi lapangan.
Dalam ketentuan seleksi, peserta yang lolos tahap II diwajibkan menampilkan karya inovatif dan/atau inspiratif berikut bukti pendukung.
Bukti tersebut dapat berupa penghargaan, rekomendasi, publikasi maupun dukungan dari pimpinan, rekan kerja, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, pemangku kepentingan dan media publikasi.
Mia pun menyambut capaian tersebut dengan rasa syukur. Menurutnya, keberhasilannya masuk enam besar bukan semata hasil kerja pribadi, tetapi juga tidak terlepas dari dukungan dan doa berbagai pihak.
“Dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT, alhamdulillah saya bisa lolos enam besar ASN Berprestasi ke tahap tiga. Capaian ini tidak lepas dari dukungan dan doa dari semuanya. Maka dari itu, saya mengucapkan banyak terima kasih,” tuturnya.
Tahap visitasi lapangan nantinya menjadi momentum penting bagi Mia untuk memperlihatkan secara langsung gagasan dan implementasi karya inovasi yang diusungnya.
Ia berharap Motif Batik Cakra Galuh tidak berhenti sebagai karya untuk kebutuhan seleksi ASN Berprestasi, tetapi dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus menanamkan karakter kepada generasi muda.
“Semoga saya bisa menjaga amanah untuk terus menyampaikan filosofi kebaikan tersebut seluas-luasnya. Semoga saya bisa terus berkarya, melestarikan budaya, dan mendidik dengan hati,” ujarnya.
Mia juga memohon doa dan dukungan dari masyarakat serta berbagai pihak agar dapat menjalani tahap III dengan lancar.
Ia ingin kesempatan tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi SMAN 1 Panawangan, Kabupaten Ciamis, dan Jawa Barat.
“Mohon doa dan dukungannya agar di tahap tiga ini saya dapat memberikan yang terbaik untuk SMAN 1 Panawangan, Kabupaten Ciamis, dan Jawa Barat, serta diberikan kelancaran dalam segala hal hingga tahap-tahap selanjutnya,” katanya.
Bagi Mia, Motif Batik Cakra Galuh menjadi cara untuk mempertemukan tiga hal sekaligus budaya, pendidikan, dan pembentukan karakter.
“Melalui motif dan filosofi yang dibawa dalam Batik Cakra Galuh ini, saya berharap kearifan lokal Galuh tetap hidup dan dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















