Dejurnal.com, Cianjur – Penantian panjang para petani di Kampung Penderawey, Desa Babakancaringin, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akhirnya mulai menemukan titik terang.
Selama bertahun-tahun, lebih dari 20 hektare lahan sawah dan kebun di wilayah tersebut mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. Kondisi itu menjadi persoalan serius bagi masyarakat yang mayoritas menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian.
Keterbatasan air membuat para petani harus mencari sumber air alternatif agar lahan tetap dapat digarap. Salah satu cara yang dilakukan adalah mengambil air dari sungai menggunakan pompa yang ditenagai genset. Jarak sumber air yang cukup jauh membuat aktivitas bertani menjadi lebih berat, terutama saat kebutuhan air meningkat pada musim tanam padi.
Harapan baru mulai muncul setelah rehabilitasi jaringan irigasi Ciheulang yang bersumber dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai direalisasikan.
Bagi masyarakat setempat, pembangunan tersebut bukan sekadar perbaikan infrastruktur, tetapi menjadi jawaban atas persoalan pengairan yang telah mereka nantikan selama kurang lebih lima tahun.
Salah seorang petani sekaligus pemilik sawah, Gandi, menyambut baik terealisasinya rehabilitasi jaringan irigasi tersebut.
Ia berharap setelah pembangunan selesai, aliran air menuju areal persawahan dapat kembali normal sehingga para petani tidak lagi terlalu bergantung pada pompa dan genset.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan ke depannya pengairan kembali lancar dan normal. Irigasi ini sudah sekitar lima tahun ditunggu masyarakat, dan akhirnya bisa terealisasi,” ujar Gandi, Selasa (6/10/2026).
Menurut Gandi, selama jaringan irigasi belum berfungsi sebagaimana mestinya, para petani terpaksa mengandalkan sumber air alternatif. Untuk mengairi sawah, mereka menggunakan genset untuk memompa air dari sungai atau genangan air yang dalam bahasa Sunda disebut jublekan cai.
“Selama ini kalau menggarap sawah kami menggunakan genset untuk memompa air dari sungai. Kalau musim padi, kebutuhan air cukup tinggi.
Namun pengambilan air tidak bisa dilakukan setiap saat, sehingga dalam kondisi tertentu kami harus menunggu beberapa hari,” katanya.
Keterbatasan air tersebut membuat aktivitas pertanian menjadi penuh tantangan.Para petani tidak hanya harus mengelola lahan dan tanaman, tetapi juga mengatur penggunaan air secara bergantian karena sama-sama membutuhkan pasokan air..
Kondisi tersebut tentunya membutuhkan tambahan tenaga dan waktu, sekaligus menambah biaya produksi. Bahkan, keterbatasan air tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman di antara para petani ketika kebutuhan pengairan meningkat.
Musim kemarau menjadi periode yang paling dikhawatirkan. Tanpa pasokan air yang memadai, sebagian lahan berisiko tidak dapat digarap secara optimal. Ancaman gagal panen pun menjadi persoalan yang selama ini menghantui para petani.
“Sebagai petani, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang sudah memahami kebutuhan kami, Mayoritas masyarakat di sini adalah petani, sehingga air menjadi kebutuhan yang sangat penting,” ungkapnya.
Gandi berharap rehabilitasi jaringan irigasi tersebut nantinya mampu memberikan kepastian pengairan bagi seluruh areal persawahan di wilayah Penderawey dan sekitarnya.
Dengan jaringan irigasi yang kembali berfungsi, para petani diharapkan dapat menggarap lahan secara lebih optimal tanpa harus terus-menerus bergantung pada pompa dan genset untuk mengambil air dari sungai.
“Harapannya nanti semuanya kembali normal. Area sawah yang selama ini terkendala air bisa kembali digarap. Jadi ketika musim kemarau datang, kami tidak perlu khawatir atau was-was lagi untuk bertani atau mengalami gagal panen karena kekurangan air,” tegasnya.
Bagi petani Penderawey, air bukan sekadar unsur penting dalam proses produksi pertanian. Air merupakan denyut kehidupan yang menentukan apakah sawah dapat ditanami, dirawat, hingga menghasilkan panen untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Setelah sekitar lima tahun berhadapan dengan keterbatasan pengairan, rehabilitasi irigasi Ciheulang kini menghadirkan harapan baru. Mengalirnya kembali air ke areal persawahan diharapkan dapat menghidupkan produktivitas lahan sekaligus memperkuat sumber penghidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.
Bagi para petani, lancarnya aliran air berarti terbukanya kembali kesempatan untuk mengolah tanah, menanam, dan mempertahankan hasil pertanian sebagai sumber kehidupan keluarga.
***Latief


















