Dejurnal.com, CIAMIS. Pembinaan sepak bola usia dini membutuhkan lebih dari sekadar latihan rutin. Anak-anak juga perlu mendapatkan kesempatan bertanding untuk mengasah kemampuan, membangun mental, sekaligus merasakan atmosfer kompetisi.
Semangat itulah yang dihadirkan Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis melalui gelaran Piala Rektor KU-10 dan KU-11 Se-Priangan Timur.
Turnamen berlangsung di Lapangan Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Minggu (01/11/2026).
Diikuti 18 tim dari sembilan Sekolah Sepak Bola (SSB) di wilayah Priangan Timur. Para pemain muda tersebut bersaing menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam suasana kompetisi yang mengedepankan sportivitas dan kebersamaan.

Mengusung tema Sportif Bertanding, Ceria Bermain, Tumbuh Bersama, Piala Rektor INU Ciamis tidak sekadar menjadi ajang perebutan gelar juara.
Kompetisi ini juga menjadi ruang bagi para pemain untuk mendapatkan pengalaman bertanding, mengukur hasil latihan, serta belajar menghadapi lawan dari berbagai daerah.
Ketua Pelaksana, H. Johan J. Anwari, M.Si., mengatakan turnamen tersebut dirancang sebagai wadah latihan tanding bersama bagi SSB di Priangan Timur.
Melalui kegiatan ini, para pemain usia dini diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kemampuan sepak bola mereka.
Menurutnya, penyelenggaraan Piala Rektor juga menjadi salah satu upaya memperkenalkan INU Ciamis kepada masyarakat, khususnya komunitas dan insan sepak bola di wilayah Priangan Timur.
“Ini adalah bagian dari pembinaan sepak bola usia dini yang berkelanjutan. Selain itu, kami ingin mengenalkan INU Ciamis lebih dekat kepada masyarakat luas, khususnya insan sepak bola se-Priangan Timur,” ujarnya.
Rektor INU Ciamis, Dr. KH. Kusoy Fadliyah, M.Si., menegaskan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai turnamen sesaat.
Piala Rektor direncanakan menjadi agenda tahunan sebagai bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung pembinaan olahraga, terutama sepak bola sejak usia muda.
Ia berharap para pemain yang mengikuti kompetisi tidak hanya berkembang dari sisi kemampuan teknis, tetapi juga memiliki karakter, kedisiplinan, dan etika yang baik.
“Kami ingin alumni Piala Rektor INU Ciamis ini unggul secara SDM, kuat secara skill, namun tetap menjunjung etika dan nilai keislaman. Ini adalah ikhtiar INU Ciamis untuk ikut membina sepak bola Ciamis sejak usia muda,” katanya.
Dukungan terhadap penyelenggaraan turnamen juga datang dari tokoh sepak bola Ciamis, H.R. Yoyo S. Adiredja.
Ia menilai kompetisi seperti ini penting bagi setiap SSB karena memberikan kesempatan kepada pemain untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kemampuan yang selama ini diasah dalam latihan.
Menurutnya, pengalaman menghadapi lawan yang berbeda menjadi bagian penting dalam proses pembentukan pemain.
Dari pertandingan, anak-anak belajar mengambil keputusan, bekerja sama, menjaga disiplin, hingga menerima hasil dengan sikap sportif.
“Setiap SSB butuh panggung untuk mengukur hasil latihan. Pengalaman bertanding adalah guru terbaik bagi pemain untuk terus berkembang,” ungkapnya.
Suasana turnamen semakin semarak dengan kehadiran dua pemain PSGC Ciamis, Surya Wardhana dan Izmir.
Keduanya hadir memberikan motivasi kepada para peserta sekaligus berbagi semangat agar para pemain muda terus berlatih dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita di dunia sepak bola.
Persaingan di dua kelompok usia berlangsung dengan semangat kompetitif. Pada kategori KU-10, HARATA Kuningan berhasil keluar sebagai juara pertama, disusul PERSIM Manonjaya Tasikmalaya di posisi kedua. Sementara juara ketiga bersama diraih Putra Banjarsari dan IKOCI Cisaga.
Adapun pada kategori KU-11, gelar juara pertama diraih Putra Nusantara Ciamis. PERSIM Manonjaya Tasikmalaya menempati posisi kedua, sedangkan Putra Sekawan Ciamis dan IKOCI Cisaga berbagi posisi juara ketiga.
Penyelenggaraan perdana Piala Rektor INU Ciamis ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan ruang kompetisi yang lebih luas bagi sepak bola usia dini di Priangan Timur.
Jika konsisten digelar setiap tahun, turnamen tersebut berpeluang menjadi salah satu wadah pembinaan sekaligus mempertemukan talenta-talenta muda dari berbagai daerah.
Bagi para pemain cilik, kemenangan memang menjadi kebanggaan. Namun, pengalaman bertanding, keberanian menghadapi lawan, dan semangat untuk terus berkembang menjadi bekal yang tidak kalah penting dalam perjalanan mereka di dunia sepak bola. (Nay Sunarti)



















