Dejurnal.com, CIAMIS. Perguruan pencak silat Gerak Suci kembali menata langkah untuk menjaga warisan Adjat Sudrajat sekaligus melahirkan atlet berprestasi dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Setelah sempat vakum, perguruan yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pencak silat di Ciamis ini berupaya menghidupkan kembali tradisi melalui pembinaan pesilat dari tingkat dasar.
Upaya tersebut terlihat dalam Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Gerak Suci yang berlangsung di Gedung Golkar Ciamis, Minggu (11/10/2026).
Sebanyak 46 anggota mengikuti gelombang pertama ujian, mulai dari pemula anak-anak dan remaja hingga pesilat yang menjalani kenaikan sabuk kuning ke hijau.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi tahapan untuk mengukur kemampuan anggota, tetapi juga bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus pencak silat yang mampu bersaing di arena kejuaraan. 
Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Ciamis, H. Ramli, turut mendorong Gerak Suci agar tidak berhenti pada upaya melestarikan tradisi. Ia berharap perguruan tersebut mampu mengambil peran lebih besar dalam mencetak atlet yang mengharumkan nama daerah.
Ramli berharap Gerak Suci dapat melahirkan pesilat-pesilat berprestasi seperti Wewey Wita, atlet pencak silat asal Ciamis yang dikenal melalui kiprahnya di tingkat nasional dan internasional.
Harapan itu menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bagi Gerak Suci untuk memperkuat pembinaan, menemukan bibit potensial, dan mempersiapkan mereka agar mampu mengikuti jejak atlet kebanggaan Ciamis tersebut.
UKT Jadi Tahapan Pembinaan Pesilat
Pengurus IPSI Ciamis bidang seni dan budaya, Hendra Sundara, mengatakan UKT merupakan bagian penting dari proses pembelajaran seorang pesilat. Setiap kenaikan tingkat menuntut penguasaan materi dan kemampuan yang berbeda.
“Kalau di sekolah, ini seperti kenaikan kelas. Dari sabuk putih ke kuning dan seterusnya, materi yang diberikan tentu berbeda. Ada tahapan pembelajaran yang harus dilalui setiap anggota,” kata Hendra.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali Gerak Suci setelah sempat vakum menyusul meninggalnya pendiri perguruan, Adjat Sudrajat, pada 2004.
Ia berharap aktivitas latihan dan pembinaan semakin berkembang sehingga Gerak Suci kembali mampu melahirkan atlet yang mengharumkan nama Ciamis.
UKT tahun ini direncanakan berlangsung dalam empat gelombang. Pada gelombang pertama, 46 peserta hadir dari perkiraan awal yang mendekati 80 orang. Sejumlah anggota tidak dapat mengikuti kegiatan karena sakit.
Pemilik sekaligus pelatih Gerak Suci, Noorman Subagja, mengatakan pembinaan di perguruannya telah menghasilkan sejumlah atlet yang meraih medali dalam berbagai kejuaraan pencak silat.
Ia mencontohkan, dari 20 peserta yang pernah dikirim mengikuti salah satu kejuaraan, sebanyak 12 orang berhasil meraih medali emas, sedangkan peserta lainnya membawa pulang medali perak dan perunggu.
“Tujuan kami bukan hanya membuat anggota bisa naik tingkat, tetapi juga membuka jalan bagi mereka yang ingin menjadi atlet. Kalau ada yang punya kemauan dan potensi, harus kita dorong dan bina,” ujar Noorman.
Menurutnya, menjadi atlet membutuhkan proses panjang. Penguasaan teknik harus disertai kedisiplinan, latihan berkelanjutan, mental bertanding, dan pengalaman mengikuti kejuaraan.
Karena itu, UKT menjadi salah satu tahapan untuk mengevaluasi perkembangan kemampuan anggota sekaligus mengenali potensi yang dapat dikembangkan melalui pembinaan lanjutan.
Meneruskan Perjalanan Adjat Sudrajat
Bagi Noorman, menghidupkan kembali Gerak Suci bukan sekadar melanjutkan aktivitas sebuah perguruan. Ia juga memikul tanggung jawab menjaga warisan sang ayah, Adjat Sudrajat, yang dikenal sebagai seniman sekaligus atlet pencak silat Ciamis.
Gerak Suci berdiri pada era 1960-an. Adjat diketahui pernah berguru kepada Aom Tur’at, sosok yang dikenal sebagai pejuang Ciamis.
Pada masa kejayaannya, terutama sekitar 1970-an hingga 1990-an, Gerak Suci disebut memiliki ribuan murid dari berbagai generasi.
“Almarhum bapak pernah bercerita bahwa murid Gerak Suci pada masa itu mencapai ribuan orang jika dihitung dari berbagai generasi,” kata Noorman.
Adjat mendedikasikan hidupnya untuk pencak silat hingga meninggal dunia pada 2004. Saat itu, ia masih menjabat sebagai Ketua IPSI Ciamis. Setelah kepergiannya, aktivitas Gerak Suci sempat terhenti sebelum Noorman kembali membuka perguruan tersebut pada 2017.
Sejak itu, Noorman berupaya mempertahankan karakter Gerak Suci sekaligus menyesuaikan metode latihan dengan kebutuhan masa kini. Teknik bela diri dikembangkan agar lebih sederhana dan berfokus pada keterampilan praktis untuk melindungi diri.
Latihan rutin kini digelar setiap Sabtu di Gedung Golkar Ciamis. Perguruan ini terbuka bagi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki maupun perempuan.
Menyiapkan Generasi Atlet Ciamis
Selain memperkuat pembinaan internal, Noorman menilai kemajuan pencak silat Ciamis membutuhkan persatuan ant perguruan.
Menurutnya, kerja sama melalui IPSI dapat membantu menciptakan pembinaan yang lebih terarah dan membuka peluang lebih luas bagi atlet untuk berkembang.
Ia menyebut saat ini terdapat 27 perguruan yang telah bergabung dengan IPSI Ciamis. Ia berharap perguruan lain yang belum bergabung dapat ikut berpartisipasi dalam membangun ekosistem pencak silat yang lebih kuat.
“Harapan saya, semua perguruan bisa lebih bersatu untuk mendukung IPSI sebagai induk organisasi. Yang belum bergabung juga mudah-mudahan segera bergabung agar pembinaan pencak silat di Ciamis semakin kuat,” ujarnya.
Noorman juga menekankan pentingnya kemandirian atlet dan perguruan. Dukungan pemerintah tetap diperlukan, tetapi harus diiringi kesungguhan dalam berlatih, pembinaan yang konsisten, serta upaya nyata untuk meraih prestasi.
Menurutnya, perguruan perlu menunjukkan hasil pembinaan agar dukungan dari berbagai pihak dapat berkembang seiring dengan prestasi yang dicapai.
Harapan IPSI Ciamis agar Gerak Suci mampu melahirkan Wewey-Wewey baru menjadi salah satu dorongan untuk memperkuat pembinaan sejak tingkat pemula.
Tantangannya kini bukan hanya menjaga nama besar masa lalu, melainkan memastikan tradisi yang diwariskan Adjat Sudrajat terus hidup melalui generasi pesilat yang berkualitas.
Melalui UKT, latihan rutin, dan kesempatan mengikuti kejuaraan, Gerak Suci berupaya menjadikan warisan pencak silat sebagai jalan untuk membangun prestasi sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Ciamis. (Nay Sunarti)



















