CIAMIS, deJurnal,- Suasana peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 tingkat Kabupaten Ciamis tahun 2026 berlangsung berbeda. Bukan hanya rangkaian sambutan dan seremoni, para kader PKK justru mengajak tamu yang hadir tertawa sekaligus berpikir lewat kabaret bertajuk “Emak-Emak vs Inflasi”.
Kabaret yang diproduksi Pokja 2 dan Pokja 3 TP PKK Kabupaten Ciamis itu tampil pada puncak peringatan HKG PKK ke-54 di Aula PKK Kabupaten Ciamis, Rabu (2/9/2026).
Di atas panggung, para pemeran menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat ketika harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan.

Mulai dari sayuran, sembako hingga berbagai kebutuhan rumah tangga disajikan dalam cerita ringan yang dekat dengan kehidupan emak-emak.
Namun, kabaret tersebut tidak berhenti pada persoalan kenaikan harga. Pesan yang disampaikan justru mengarah pada bagaimana keluarga dapat menghadapi tekanan ekonomi dengan menguatkan pemberdayaan dari lingkungan paling kecil, yakni rumah.
Geng Mall dan Geng PKK Beradu Gaya
Cerita diawali dengan kemunculan “Geng Mall” yang diperankan Ila Wawan, Swesti Dadang, Rose Ayi dan Lia Wawan.

Dengan gaya centil dan penuh kelucuan, mereka menggambarkan kebiasaan berbelanja, berburu diskon hingga mengikuti tren konsumsi.
Penampilan tersebut menjadi gambaran perilaku konsumtif yang dalam kondisi tertentu justru dapat memperbesar pengeluaran keluarga.
Suasana kemudian berubah ketika “Geng PKK” muncul membawa pesan berbeda. Mereka tidak menawarkan gaya hidup konsumtif, tetapi memperkenalkan berbagai kegiatan pemberdayaan keluarga yang selama ini menjadi bagian dari program PKK.
Geng PKK diperankan Lia David, Megya Taufik, Atik Hendra, Tusi Yadi, Yati Asep, Rusmini Giyatno, drh. Asri dan Herher.
Sementara tokoh insflasi Nani Yusup turut menjadi bagian dalam cerita yang dikemas dengan pendekatan komedi.
Kabaret tersebut dipimpin oleh Lia David dan Megya Taufik sebagai pimpinan produksi, dengan produksi bersama Pokja 2 dan Pokja 3 TP PKK Kabupaten Ciamis.
Inflasi Tak Hanya Dilawan dengan Uang
Salah satu pesan kuat yang muncul dalam kabaret adalah bahwa menghadapi inflasi tidak selalu harus dimulai dengan memiliki penghasilan besar.

Keluarga justru diajak melihat kembali potensi yang ada di sekitar rumah.
Jika harga cabai, sayuran atau kebutuhan pangan lainnya meningkat, halaman rumah dapat dimanfaatkan untuk menanam.
Tidak perlu lahan luas, sejumlah tanaman pangan seperti cabai, sayuran dan buah-buahan dapat dikembangkan dari lingkungan rumah.
Pesannya sederhana kalau halaman bisa membuat kenyang, mengapa tidak dimanfaatkan?
Ketahanan pangan pun tidak harus selalu berbicara tentang lahan pertanian yang luas. Dari rumah, keluarga dapat mulai membangun kemandirian pangan sekaligus mengurangi sebagian pengeluaran sehari-hari.
Stop Pemborosan Pangan
Kabaret juga menyentil fenomena konsumsi makanan berlebihan di tengah masih adanya masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Pesan yang dibawa adalah ajakan untuk menghentikan kebiasaan makan berlebihan dan pemborosan pangan.
Makanan yang tersedia seharusnya dihargai. Mengambil makanan secukupnya, mengolah bahan pangan dengan bijak dan tidak membuang makanan menjadi bagian kecil dari upaya membangun keluarga yang lebih hemat.
Bagi PKK, perubahan kebiasaan tersebut dapat dimulai dari meja makan dan dapur masing-masing keluarga.
Sampah Rumah Tangga Bisa Jadi Nilai Ekonomi
Pesan lain yang diangkat adalah persoalan sampah. Setiap rumah menghasilkan sampah setiap hari. Namun, sampah tidak harus selalu dipandang sebagai musuh.
Keluarga diajak memilah sampah sejak dari rumah. Sampah plastik dapat dipisahkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah organik dari dapur dapat dimanfaatkan menjadi kompos atau kebutuhan lain yang bernilai guna.
Dengan keterampilan, sampah bahkan dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pesan ini sekaligus memperkuat peran PKK dalam pendidikan dan keterampilan keluarga.
Membaca untuk Membuka Jalan Masa Depan Anak
Tidak hanya soal ekonomi, kabaret juga membawa pesan tentang pentingnya literasi keluarga.
Keberadaan pojok baca di rumah maupun taman bacaan masyarakat dinilai penting untuk membiasakan anak-anak membaca sejak dini.
Membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Kebiasaan membaca dapat membantu anak mengenal berbagai pengetahuan, memperluas wawasan dan meningkatkan daya pikir.
Karena itu, keluarga didorong untuk menciptakan lingkungan rumah yang dekat dengan buku dan aktivitas membaca.
Koperasi dan Keterampilan Jadi Jalan Pemberdayaan
Dalam menghadapi tekanan ekonomi, koperasi juga disinggung sebagai salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Koperasi diharapkan mampu menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, termasuk bagi pelaku usaha kecil yang membutuhkan dukungan permodalan.
Semangat yang dibawa adalah pinjaman kecil, usaha besar, dengan pengelolaan yang bijak dan bertanggung jawab.
Selain koperasi, keterampilan keluarga juga menjadi bagian penting. Pelatihan menjahit, memasak hingga membuat kerajinan dapat menjadi bekal untuk membuka peluang usaha dari rumah.
Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya berbicara tentang bantuan, tetapi bagaimana keluarga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang ekonomi sendiri.
Inflasi Tidak Pernah Pensiun
Melalui gaya komedi yang ringan, kabaret “Emak-Emak vs Inflasi” menyampaikan satu pesan bahwa persoalan ekonomi akan selalu berubah dan masyarakat harus mampu beradaptasi.
Inflasi tidak pernah pensiun. Karena itu, keluarga perlu memiliki kemampuan mengatur pengeluaran, memanfaatkan sumber daya yang ada, memperkuat keterampilan dan membangun ketahanan pangan.
Di tengah dinamika ekonomi dan politik, masyarakat juga diajak tetap bijak dan tidak mudah terbawa pola konsumsi berlebihan.
Pendidikan, keterampilan dan pemberdayaan menjadi bekal penting untuk menjaga ketahanan keluarga.
Menguatkan 10 Program Pokok PKK
Pesan yang dibawa dalam kabaret tersebut sejalan dengan semangat HKG PKK ke-54 tahun 2026 yang mengangkat tema “Menguatkan 10 Program Pokok PKK, Laksanakan Asta Cita, Wujudkan Indonesia Emas 2045.”
PKK tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi berupaya menerjemahkan program pemberdayaan ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mulai dari ketahanan pangan, pengelolaan sampah, pendidikan, literasi, keterampilan hingga pemberdayaan ekonomi, semuanya dapat dimulai dari keluarga.
Kabaret tersebut akhirnya ditutup dengan satu gagasan sederhana yang menjadi benang merah seluruh cerita:
Inflasi bisa dilawan dari rumah.
Menanam, membaca, memilah sampah, mengasah keterampilan dan membangun kemandirian ekonomi merupakan langkah yang dapat dilakukan keluarga tanpa harus menunggu sesuatu yang besar.
Sebab, dari halaman rumah yang dimanfaatkan dengan baik, keluarga bisa memperoleh pangan. Dari keterampilan, bisa lahir penghasilan. Dari kebiasaan membaca, bisa tumbuh generasi yang lebih siap menghadapi masa depan.
Semangat itulah yang ingin disampaikan PKK Ciamis melalui panggung sederhana “Emak-Emak vs Inflasi” ketahanan keluarga dimulai dari rumah. (Nay Sunarti)













