Dejurnal.com, Garut — Setelah melalui proses panjang selama lebih dari tiga bulan, Yayasan Salman Mardia Salsabila akhirnya memperoleh persetujuan atau approval dari BGN terkait penggantian PIC yang dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan operasional dapur. Meski demikian, persetujuan tersebut belum menjadi akhir dari perjuangan yayasan karena masih terdapat sejumlah tahapan yang harus diselesaikan agar kegiatan operasional dapat kembali berjalan.
Perwakilan Yayasan Salman Mardia Salsabila Mahmud Rizal, menyampaikan hal tersebut saat ditemui dejurnal.com, Sabtu (24/10/2026). Ia mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan yang telah dicapai setelah pihaknya berupaya memperjuangkan penyelesaian persoalan tersebut sejak beberapa bulan lalu.
Menurutnya, upaya untuk mendapatkan kepastian sebenarnya sudah dilakukan sejak Juli 2026. Namun, proses yang harus dilalui tidak berjalan mudah karena adanya kerumitan regulasi serta kendala komunikasi dengan pihak BGN.
“Alhamdulillah, setelah penantian lebih dari tiga bulan, akhirnya BGN memberikan persetujuan kepada yayasan untuk melakukan penggantian PIC. Ini tentu menjadi kabar baik bagi kami. Namun, persetujuan ini belum berarti seluruh persoalan selesai karena masih ada beberapa tahapan yang harus kami tuntaskan agar dapur bisa kembali berjalan,” ungkapnya.
Proses Panjang dan Sulitnya Komunikasi Menjadi Kendala
Yayasan Salman menjelaskan, sejak awal pihak yayasan berupaya mencari jalan keluar agar persoalan yang menghambat operasional dapur dapat segera diselesaikan. Bahkan, pihaknya beberapa kali mendatangi Jakarta untuk berkomunikasi langsung dengan pihak terkait.
Akan tetapi, upaya tersebut belum membuahkan hasil konkret dalam waktu singkat. Ia menilai komunikasi yang terjalin selama proses tersebut belum mampu memberikan kepastian mengenai langkah penyelesaian yang harus ditempuh.
Kondisi internal BGN yang menurutnya, sedang dalam proses pembenahan juga disebut menjadi salah satu faktor yang menyulitkan komunikasi. Akibatnya, pihak yayasan mengaku kesulitan mendapatkan informasi yang jelas maupun keputusan yang dapat dijadikan pegangan untuk melanjutkan proses.
“Kami beberapa kali ke Jakarta, tetapi ketika bertemu dengan pegawai yang ada, mereka juga tidak bisa memberikan keputusan. Akhirnya, kami hanya bisa menyampaikan keluhan dan menjelaskan persoalan yang dihadapi, sementara solusi konkret yang kami harapkan belum juga didapatkan,” jelasnya.
Situasi tersebut membuat yayasan harus menjalani proses yang cukup panjang, meskipun kebutuhan untuk menyelesaikan persoalan operasional dinilai semakin mendesak.
Bagi yayasan, persoalan ini bukan sekadar urusan administrasi atau penggantian perangkat. Lebih dari itu, kepastian tersebut berkaitan langsung dengan keberlangsungan program yang telah diamanahkan kepada mereka.
Persetujuan Sudah Diperoleh, Operasional Belum Sepenuhnya Pulih
Meski persetujuan penggantian PIC telah diperoleh Yayasan Salman, menegaskan bahwa pihaknya masih harus memastikan seluruh tahapan lanjutan berjalan tanpa hambatan.
Ia menyebutkan bahwa sejauh ini pihak yayasan baru menerima konfirmasi melalui surat elektronik atau email. Karena itu, masih diperlukan kejelasan mengenai proses berikutnya agar persetujuan tersebut dapat segera ditindaklanjuti dan tidak kembali berlarut-larut.
Yayasan Salman berharap seluruh proses administrasi dan teknis dapat diselesaikan secepat mungkin. Bahkan, ia menginginkan dapur bisa kembali berproduksi dalam waktu dekat apabila seluruh persyaratan telah terpenuhi.
“Kalau memungkinkan, kami berharap secepatnya bisa berjalan. Kalau besok sudah bisa produksi, tentu kami sangat bersyukur. Namun, semuanya tetap bergantung pada proses dan kepastian dari pihak terkait,” katanya.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa bagi yayasan, persetujuan yang baru diterima merupakan pintu awal untuk memulihkan kegiatan operasional, bukan jaminan bahwa seluruh persoalan telah selesai.
Oleh karena itu, tindak lanjut dari pihak terkait menjadi faktor penting agar proses yang sudah diperjuangkan selama berbulan-bulan tidak kembali terhambat oleh persoalan komunikasi maupun administrasi.
Program Terhambat, Penerima Manfaat dan Relawan Ikut Terdampak
Yayasan Salman juga menyoroti dampak yang muncul ketika program tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Menurutnya, yayasan menerima amanah untuk menjalankan program dari BGN, tetapi dalam pelaksanaannya, hambatan yang terjadi membuat program tersebut belum dapat memberikan manfaat secara optimal.
Kondisi ini, lanjutnya, bukan hanya menjadi persoalan internal yayasan. Ada penerima manfaat dan para relawan yang turut terdampak ketika kegiatan operasional tidak berjalan.
Ia menilai, keberlangsungan program seharusnya menjadi perhatian bersama karena tujuan utamanya adalah menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Ketika operasional terhenti atau tertunda, maka tujuan tersebut juga ikut terhambat.
“Secara moril, kami tentu merasa memiliki tanggung jawab karena yayasan ini diberi amanah untuk menjalankan program. Namun, ketika program tidak bisa berjalan, penerima manfaat dan para relawan juga tidak bisa memperoleh manfaat sebagaimana yang diharapkan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan besarnya tanggung jawab yang harus dipikul yayasan di tengah ketidakpastian proses penyelesaian masalah. Di satu sisi, yayasan dituntut menjalankan program sesuai amanah, tetapi di sisi lain, terdapat persoalan yang membutuhkan keputusan dan tindak lanjut dari pihak terkait.
Undangan untuk Membangun Komunikasi dan Memulai Kembali
Dalam kesempatan itu, Yayasan Salman juga menjelaskan bahwa pihaknya telah mengundang pihak terkait sebagai bentuk itikad baik untuk membangun kembali komunikasi dan kerja sama ke depan.

Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi sebelumnya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama. Ia menginginkan agar semua pihak tidak terus terjebak dalam persoalan masa lalu, melainkan mulai berfokus pada langkah konkret untuk memastikan program dapat berjalan kembali.
Ia pun menyampaikan bahwa pihak yayasan menghargai apabila pihak yang diundang belum dapat hadir karena adanya kendala atau halangan tertentu.
Bagi Yayasan Salman, yang terpenting adalah adanya kemauan untuk kembali membangun komunikasi, menyelesaikan persoalan secara terbuka, serta memastikan setiap pihak memahami tanggung jawabnya masing-masing.
“Kami mengundang sebagai bentuk itikad baik. Apa pun yang terjadi di masa lalu, biarlah menjadi bagian dari proses yang sudah dilalui. Ke depan, kami berharap semuanya bisa bekerja sama dengan baik agar program ini kembali berjalan,” ungkapnya.
Menanti Kepastian dan Langkah Nyata
Persetujuan penggantian PIC menjadi perkembangan positif setelah yayasan menunggu selama lebih dari tiga bulan. Namun, pekerjaan rumah yang tersisa masih cukup penting, terutama memastikan persetujuan tersebut segera ditindaklanjuti hingga operasional dapur benar-benar dapat berjalan kembali.
Dalam situasi ini, komunikasi yang jelas, kepastian prosedur, serta koordinasi yang efektif menjadi kebutuhan mendesak. Sebab, keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari persetujuan administratif semata, tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak memastikan program tersebut terlaksana dan manfaatnya benar-benar dirasakan.
Yayasan berharap proses selanjutnya tidak kembali menghadapi hambatan berkepanjangan. Mereka juga menginginkan adanya kejelasan mengenai tahapan yang harus diselesaikan, sehingga dapat mempersiapkan operasional secara lebih terarah.
Kini, setelah melewati masa penantian yang panjang, perhatian tertuju pada langkah konkret selanjutnya. Apakah persetujuan penggantian PIC tersebut dapat segera direalisasikan dan memungkinkan dapur kembali berproduksi, atau masih akan ada tahapan lain yang memperpanjang waktu tunggu.
Bagi yayasan, relawan, dan penerima manfaat, kepastian bukan lagi sekadar harapan administratif. Kepastian menjadi kunci agar amanah program dapat kembali dijalankan dan manfaatnya tidak terus tertunda.
Hingga seluruh tahapan selesai, persoalan ini masih menyisakan satu tuntutan utama persetujuan harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata agar operasional dapur kembali berjalan dan masyarakat yang menjadi sasaran program tidak terus menanggung dampak keterlambatan.***Willy Esha



















