Dejurnal.com, Garut – Ambruknya Jembatan Cibereum yang merupakan jembatan penghubung antara Kecamatan Pangatikan dengan Kecamatan Sukawening menjadi sorotan publik. Pasalnya, jembatan ambruk yang berlokasi di Desa Babakan Loa Kecamatan Pangatikan, merupakan akses vital penghubung tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pangatikan, Sukawening dan Karangtengah dan menyebabkan arus lalu lintas macet serta akses jalan terganggu, selama ini jembatan tersebut tidak terpelihara dan berumur tua.
Mengantisipasi hal tersebut, BPBD, Dinas PUPR, Kecamatan, dan Pemdes serta masyarakat tetempat turut membantu pembuatan jembatan sementara, karena begitu pentingnya akses jalan tersebut.
Informasi yang dihimpun dejurnal.com, faktor yang menjadi penyebab ambruknya jembatan tersebut selain karena faktor umur dari jembatan juga akibat jebolnya dingding penahan dan pondasi, yang diduga akibat adanya intensitas curah hujan dan beberapa kali gempa.
Aos salah satu warga setempat menyebutkan jembatan Cibeureum merupakan salah satu sarana penghubung utama, sayangnya kurang dapat perhatian.
“Sepengetahuan saya diperbaiki hanya saat waktu gunung Galunggung yah sekitar tahun 1982, baru setelah ada kejadian begini ada perhatian, yah kalau menurut saya sih karena syarat beban kendaraan yang tinggi, usia jembatan juga sudah tua, Karena hujan dan gempa itu mungkin faktor utamanya, sehingga besi pondasi dingding penahan tidak kuat menahan beban jadi ambruk,” terangnya.
Kepala Desa Babakan Loa Asep Jampang sulit untuk dimintai informasi terkait ambruknya jembatan karena sedang sibuk ikut memperbaiki jembatan, demikian juga dari Pihak kecamatan dan Dinas PUPR, sedang fokus dan konsentrasi.
Kabid Kedarurtan dan Logistik BPBD Garut, Daris menjelaskan bahwa pihak BPBD Kabupaten Garut melihat kondisi yang ada, jembatan ini merupakan sebagai penghubung antar Kecamatan, dan mengatipasi timbulnya korban maka dipandang perlu sebagai kondisi tanggap darurat.
“Untuk tahap pertama sebagaimana aturan kita berikan waktu 7 hari, dan saat ini kita sedang berupaya membuat jembatan penghubung sementara, selanjutnya nanti kita berkordinasi dengan Dinas terkait Pasca ditetapkan, yah tentu kita pasti menggunakan alokasi dari BTT,” Tegasnya.
Sementara Yanyan selaku perwakilan dari Dinas PUPR melalui perpesanan mengatakan, alhamdulillah untuk sementara antipasi akses jalan sudah lancar dan jembatan sementara sudah bisa dipakai oleh warga.
“Selanjutnya kita sudah kordinasi dengan BPBD Kabupaten Garut dan RB sudah diserahkan juga, maaf saya sedang diluar,” ungkapnya.
Sementara Menurut Kalak BPBD Garut saat dihubungi melalui via telepon selulernya mengatakan
“Ya saya tadi malam sampai jam tiga pagi dilokasi, Alhamdulillah akses jalan sudah bisa dipakai masyarakat, ya tentu kita untuk alokasi pakai BTT untuk penangan jembatan tersebu, silahkan nanti bisa kordinasi dengan Dinas Teknis PUPR dan BPKAD Pemda Kabupaten Garut, boleh lah kalau warga bersikap demikian memang berdasarkan warga Jembatan Cibeureum itu sudah lama sejak Gunung Galunggung ya Tahun 1982, karena faktor usia dan beban syarat kendaraan cukup tinggi juga ada intesita hujan dan ada beberap gempa ini juga bisa jadi salah satu faktor penyebab ambruk pondasi jembatan” Tandasnya.
Ambruknya Jembatan Cibeureum ini harus jadi contoh jangan sampai ada jembatan jembatan lain yang sudah cukup umur harus mendapat perawatan dan perbaikan, salah satu yang harus diperhatikan Jembatan Penghubung Karangpawitan Wanaraja (Jembatan Sadang Layungsari) jika dibiarkan ini akan lebih fatal.
Pertanyaannya sejauh apa kinerja pengawasan dilapangan haruskan menunggu korban berjatuhan, dan berusan dengan APH apalagi saat ini intesitas curah hujan serta gempa bumi cukup tinggi.***Yohaness