Ciamis, deJurnal,- Kabupaten Ciamis resmi ditetapkan sebagai pilot project nasional penyelenggaraan Workshop Perencanaan Keluarga Sakinah Maslahat bagi Remaja Usia Nikah, kegiatan dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bangunsirna, Ciamis, Sabtu (29/11/2025)
Program tersebut merupakan kolaborasi Kementerian Agama Republik Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Keluarga Maslahat (GKM NU), Universitas Islam Darussalam (UID), PCNU Ciamis, serta Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Program juga merupakan langkah strategis memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kesiapan remaja sebelum menikah, serta menekan angka perceraian dan dispensasi nikah yang cukup tinggi di Ciamis.
Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya, melalui Asisten Daerah (Asda) III Setda Ciamis Drs. H. Wawan Ruhyat, M.M., resmi membuka workshop tersebut.
Dalam sambutannya, Wawan mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah dengan Kemenag, NU, pesantren, dan dunia pendidikan tinggi seperti UID yang turut terlibat dalam penyusunan materi dan pendampingan instruktur.
“Terima kasih kepada semua pihak NU, Kemenag, pesantren, dan Universitas Islam Darussalam, juga pejabat yang hadi telah bersama Pemkab Ciamis mempersiapkan kegiatan ini. Semoga upaya ini menjadi amal baik yang dicatat oleh Allah SWT,” katanya.
Ia menekankan bahwa keluarga sakinah mawaddah warahmah tidak hadir otomatis, tetapi harus direncanakan sejak remaja.
“Generasi muda kita harus memahami kesiapan mental, spiritual, ekonomi, dan kesehatan sebelum berumah tangga. Inilah fondasi ketahanan sosial yang akan menentukan masa depan Ciamis,” tambahnya.
Pimpinan Ponpes Miftahul Ulum sekaligus Ketua PCNU Ciamis, KH. Arief Ismail Chowas, menyampaikan rasa syukur karena Ciamis terpilih sebagai daerah percontohan nasional.
Menurutnya, kolaborasi NU mulai dari PBNU hingga PCNU bersama Kemenag RI, UID, dan Pemkab Ciamis menegaskan pentingnya pendidikan keluarga pada generasi muda.
“Keluarga sakinah maslahat bukan hanya harmonis, tapi mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Ini bagian dari amanah umat agar hadirnya keluarga mampu membawa kebaikan yang lebih luas,” tegasnya.
Lebih lanjut Arief menambahkan bahwa pesantren juga sudah membekali santri dengan pendidikan akhlak, termasuk kitab Uqudul Lijain, sebagai dasar adab berumah tangga.
Melalui kerja sama Pemkab Ciamis, Kemenag RI, UID, NU, dan Stakeholder terkait Arief menyampaikan maka pemerintah mempunyai target:
– Meningkatnya kesiapan remaja dalam merencanakan pernikahan,
– Menurunnya angka perceraian dan dispensasi nikah,
– Serta terciptanya keluarga yang sejahtera, kuat, dan berdaya saing.
“Program ini juga mendukung upaya Ciamis mempertahankan predikat sebagai kabupaten harmonis nasional yang baru baru ini di raih,” imbuhnya.
Instruktur Nasional Bina Keluarga Sakinah sekaligus dosen Universitas Islam Darussalam (UID), Dr. Wiwin Siti Aminah Rohmawati, menjelaskan bahwa workshop yang dilaksanakan merupakan bagian dari Program Strategis Nasional Kementerian Agama RI.
“Kabupaten Ciamis dipilih sebagai pilot project karena dua indikator yaitu angka perceraian yang cukup tinggi dan menjadi salah satu penyumbang terbesar di Jawa Barat serta tingginya angka dispensasi nikah terutama pada kasus pernikahan usia remaja,” jelasnya.
Dikatakan Wiwin program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang tidak serta merta dirasakan hari ini, tapi untuk masa depan.
“Kita ingin menekan perceraian, KDRT, stunting, dan masalah keluarga yang sering muncul akibat kurangnya literasi kehidupan berumah tangga,” tuturnya.
Wiwin menyebutkan bahwa kolaborasi dengan Pemkab Ciamis dan PCNU mempermudah pelaksanaan program, sementara UID berperan dalam menyediakan instruktur, riset, serta penyusunan modul pelatihan.
Peserta workshop diikuti oleh para penyuluh perkawinan KUA se-Kabupaten Ciamis, perwakilan Fatayat NU, serta perwakilan pemuda Anshor yang menjadi target edukasi ketahanan keluarga.
“Mereka akan menjadi agen perubahan (agent of change) di lingkungannya masing-masing untuk mengedukasi remaja dan calon pengantin,” ungkap Wiwin
Dr. Wiwin menegaskan bahwa pilot project ini bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi langkah awal perubahan sosial yang lebih besar.
“Kami berharap Ciamis menjadi contoh nasional bagaimana ketahanan keluarga bisa dibangun melalui edukasi sejak remaja. Jika remajanya siap, rumah tangganya kuat,” ujarnya.
Wiwin juga berharap kolaborasi kuat antara Kemenag, Pemkab Ciamis, NU, pesantren, dan universitas menjadi modal besar untuk menciptakan model ketahanan keluarga yang bisa direplikasi di daerah lain.
“Kami ingin melihat Ciamis menjadi daerah yang tidak hanya menurunkan angka perceraian, tetapi juga melahirkan generasi keluarga yang sejahtera, sadar literasi keuangan, kuat secara emosional, dan mampu membangun peradaban yang maslahat,” pungkasnya. (Nay Sunarti)











