Dejurnal.com, Bandung – Rasulullah selalu mengingatkan setiap orang yang akan melakukan ibadah, termasuk kegiatan dagang agar bertaqwa. Yang dimaksud bertaqwa disini manusia harus mempunyai rasa bahwa apa saja yang dilakukan dan dimana saja berada Allah selalu mengawasi.
Karenanya, jika dalam urusan saum ada kalimat Tattaqun, menurut Imam Al-Maraghi dalam tafsirnya (Tafsir Al-Maraghi), taqwa yang menjadi tujuan puasa, seperti dalam QS. Al-Baqarah: 183, adalah hasil dari latihan mengekang hawa nafsu dan kesadaran penuh akan pengawasan Allah SWT.
Hal itu petikan dari ceramah yang disampaikan Ustadz H. Muhammad Nurdin Mudir Am Pesantren Persatuan Islam Persis Rahayu Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung pada Pengajian Umum menyambut bulan Ramadlan bertema Fiqih Ramdlan di Masjid Al-Haq, Jalan Manglid Nomor 13, RT 05/RW 02 Desa Margahayu Selatan, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Ahad, 15 Februari 2026.
Di hadapan puluhan mustami Masjid Al-Haq, M Nurdin menjelaskan, menurut pandangan Imam Al-Maraghi bahwa saum mendidik jiwa untuk meninggalkan makanan, minuman. Menurut Al-Maraghi, ini bukan sekadar menahan lapar, melainkan bentuk ketaatan mutlak untuk meninggalkan apa yang diharamkan Allah.
Di akhir ceramah disediakan waktu untuk interaktif. Banyak pertanyaan dilontarkan oleh mustami, di antaranya yang berkaitan dengan Ramadlan. Apakah ada dalil atau disunnahkan nadran menjelang bulan Ramadlan?
Menjawab pertanyaan ini, M Nurdin menjelaskan. Bahwa tidak ada satu pun dalil tentang yang mengharuskan atau disunnahkan nadran menjelang Ramadhan. Kata M Nurdin, jika nadran dikaitkan dengan ziarah, juga tidak. Karena ziarah itu dilakukan kapan saja, tak harus menjelang Ramadlan. Ziarah itu mengingatkan bahwa manusia itu akan mati. “Anda (yang telah dimakamkan) telah mendahului, dan kita akan menyusul,” kata M Nurdin.
M Nurdin menjelaskan juga bahwa tak hanya nadran yang sering dilakukan orang menjelang bulan Ramadlan yang sebenarnya tidak diharuskan atau disyariatkan. Itu hanya sebagai tradisi. Seperti Munggahan, berkumpul saling memaafkan sambil makan-makan, ngaliwet ‘balakécrajan’.
“Bukan tidak boleh makan-makan atau saling memaafkan. Justru yang seharusnya menghadapi saum itu dilatih dengan puasa sunat sebelum bulan Ramadlan, melatih perut kosong, sehingga ketika menjalankan saum di bulan Ramadlan itu perut sudah terbiasa, tidak kaget lagi,” katanya.***Sopandi

















