CIAMIS, deJurnal,- Angka stunting di Kabupaten Ciamis masih berada di kisaran 20 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi Jawa Barat yang telah mencapai sekitar 15 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ciamis yang mendorong percepatan penanganan melalui program yang lebih terukur, berbasis data, dan tepat sasaran agar mampu menekan prevalensi stunting secara berkelanjutan.
Sorotan tersebut disampaikan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat memberikan sambutan pada pelantikan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Ciamis periode 2026–2029 di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Ciamis, Jumat (10/7/2026).
Menurut bupati, penurunan angka stunting tidak cukup dilakukan melalui program rutin ataupun pendekatan yang bersifat administratif.
Seluruh intervensi harus dirancang secara matang, memiliki target yang jelas, dan didukung data yang valid sehingga anggaran yang dialokasikan benar-benar memberikan dampak terhadap penurunan kasus.
“Stunting kita masih tinggi. Jawa Barat sudah sekitar 15 persen, sedangkan Ciamis masih sekitar 20 persen. Penanganannya harus terprogram, terencana, dan terukur,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, sejak periode pertama memimpin Kabupaten Ciamis, dirinya telah meminta perangkat daerah terkait menyusun data stunting secara lengkap hingga tingkat keluarga.
Basis data yang akurat, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam menentukan sasaran program sekaligus mengukur efektivitas setiap kebijakan yang dijalankan.
“Saya sejak periode pertama meminta daftar yang lengkap, bukan sekadar hasil survei. Sampai hari ini saya ingin data yang benar-benar valid agar kita mengetahui siapa yang harus ditangani dan bentuk intervensi yang harus diberikan,” ujarnya.
Bupati mengingatkan agar setiap anggaran yang dialokasikan untuk penanganan stunting mampu menghasilkan perubahan yang nyata.
Ia menilai keberhasilan program tidak diukur dari besarnya anggaran yang terserap, melainkan dari menurunnya angka stunting di masyarakat.
“Jangan sampai anggaran sudah dikeluarkan, tetapi hasilnya tidak ada. Program harus memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan.
Persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh perangkat daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dunia pendidikan, hingga masyarakat.
Dalam kesempatan itu, bupati juga mengajak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Ciamis untuk mengambil peran lebih aktif melalui edukasi kesehatan, pendampingan ibu hamil dan balita, serta penguatan upaya promotif dan preventif sebagai bagian dari percepatan penurunan stunting.
Menurutnya, dokter memiliki peran strategis karena tidak hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pencegahan stunting sejak dini.
Bupati optimistis angka stunting di Kabupaten Ciamis dapat terus ditekan apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama dan bekerja berdasarkan data yang akurat.
“Kuncinya adalah kerja bersama. Dengan data yang valid, program yang tepat sasaran, dan kolaborasi semua pihak, saya yakin angka stunting di Kabupaten Ciamis dapat terus diturunkan sehingga mampu melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas,” pungkasnya. (Nay Sunarti)















