Tasikmalaya, deJurnal,- Aksi dua bersaudara asal Kabupaten Ciamis mencuri perhatian publik dalam ajang Tasik Series Beraksi Championship 2026 yang digelar di GOR Mayasari, Kecamatan Bungursari, Jumat–Sabtu (13–14/2/2026).
Keduanya sukses mempersembahkan medali emas dari kategori berbeda dan menjadi sorotan di kejuaraan pencak silat terbesar di Kota Tasikmalaya tersebut.
Adalah Iqlima Amatul Mugit (16), siswi SMAN 2 Ciamis dari kontingen SMI Unit Gunungcupu, yang keluar sebagai Juara 1 kategori Remaja Kelas Tanding G Putri (63–67 kg)
Tak kalah membanggakan, sang adik, Nadhif Raffa Zavier (7), siswa MI Elbas Ciamis, juga meraih Juara 1 kategori Usia Dini Kelas Tanding E Putra (26–26 kg).
Keduanya tampil memukau dengan teknik yang solid, semangat juang tinggi, serta mental tanding yang matang. Bukan sekadar kemenangan, mereka menunjukkan nilai-nilai luhur pencak silat seperti disiplin, sportivitas, dan keberanian di atas gelanggang.
Kejuaraan Tasik Series Beraksi Championship 2026 diikuti sebanyak 613 pesilat dari berbagai perguruan di wilayah Priangan Timur hingga Bandung.
Selain menjadi ajang kompetisi, turnamen juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Wilayah dan Porprov XV Jawa Barat 2026 yang dijadwalkan berlangsung November mendatang.
Ketua Panitia, Yudi Rahman, mengungkapkan ajang tersebut merupakan penyelenggaraan perdana di Tasikmalaya dengan antusiasme tinggi dari peserta maupun masyarakat.
“Sebanyak 613 atlet ambil bagian, mulai dari kategori SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Peserta datang dari Priangan Timur dan Bandung,” ujarnya.
Menurut Yudi, dukungan juga datang dari Kapolda Jawa Barat yang dijadwalkan menyerahkan langsung piala dan hadiah utama pada partai final, Sabtu (14/2/2026).
Ia berharap ajang tersebut mampu melahirkan atlet-atlet muda berprestasi yang siap bersaing di level regional, nasional, hingga internasional, sekaligus mengangkat nama Tasikmalaya di kancah olahraga pencak silat.
Orang tua kedua atlet, Yogi, mengaku bersyukur dan haru atas pencapaian anak-anaknya. Ia menegaskan bahwa prestasi tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang.
“Ini bukan akhir, tapi awal. Perjuangan mereka masih panjang,” katanya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada tim pelatih, khususnya Pak Pipin dan jajaran pengurus SMI Gunungcupu, atas pembinaan dan pendampingan selama ini.
Yogi menjelaskan, latihan yang dijalani kedua anaknya cukup intens. Mereka bahkan harus mengurangi waktu bermain, termasuk membatasi penggunaan gawai demi fokus berlatih.
“Latihan mereka rutin setiap hari. Kadang harus menahan diri untuk tidak bermain. Alhamdulillah, pengorbanan itu berbuah manis,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sebenarnya ada tiga bersaudara yang aktif mengikuti pertandingan. Anak keduanya, Syahmina, tidak turun di ajang ini karena sebelumnya telah mengikuti kompetisi di GGT Ciamis.
Bagi Yogi, prestasi yang diraih putra-putrinya lebih dari sekadar medali. Ia memandang pencak silat sebagai sarana pembentukan karakter.
“Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, dan percaya diri. Prestasi hanyalah bonus,” ujarnya.
Iqlima, peraih emas kategori remaja, mengaku bahagia atas hasil yang diraihnya setelah melalui latihan panjang.
“Latihan tiap hari, kadang capek. Tapi akhirnya menang juga. Bahagia banget,” katanya singkat.
Sementara itu, Zavier, sang bungsu, mengungkapkan keinginannya untuk terus berlatih agar bisa berprestasi seperti kakaknya.
Yogi menuturkan prestasi putra putrinya merupakan suatu bukti bahwa pembinaan usia dini dan remaja yang konsisten mampu melahirkan atlet bermental juara.
“Harapannya, pencapaian ini menjadi langkah awal menuju panggung nasional bahkan internasional, dengan tetap menjaga sikap rendah hati dan semangat belajar yang tinggi,” pungkasnya. (Nay Sunarti)

















