Dekurnal.com, Garut – Kepala SMAN 11 Garut, Dadang Mulyadi, S.Pd., menegaskan bahwa pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026-2027 di sekolah yang dipimpinnya dilaksanakan secara transparan, objektif, dan bebas dari praktik titip-menitip. Hal tersebut disampaikannya saat ditemui dejurnal.com di ruang kerjanya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Dadang, seluruh proses penerimaan siswa baru di SMAN 11 Garut mengacu sepenuhnya pada aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya surat edaran Gubernur Jawa Barat terkait pelaksanaan SPMB Tahun 2026.
“Saya sebagai kepala sekolah menegaskan bahwa di SMAN 11 Garut tidak ada titip-titipan dalam proses penerimaan murid baru. Kami mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Bapak Gubernur melalui surat edaran mengenai pelaksanaan SPMB yang secara tegas melarang adanya praktik titip-menitip. Karena itu kami melaksanakan seluruh instruksi tersebut dengan penuh komitmen,” ujar Dadang.
Ia menegaskan bahwa setiap calon peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk diterima di SMAN 11 Garut tanpa adanya perlakuan khusus bagi pihak tertentu.
“Kami ingin memastikan bahwa siapa pun yang mendaftar memiliki hak dan peluang yang sama untuk diterima. Tidak ada perlakuan istimewa bagi siapa pun. Semua mengikuti mekanisme dan sistem yang sudah ditetapkan,” katanya.
Jumlah Pendaftar Membludak, Kuota Hanya 504 Siswa
Dadang mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMAN 11 Garut sangat tinggi. Hingga pukul 12.00 WIB pada hari terakhir pemantauan, jumlah pendaftar telah mencapai 3.344 siswa.
Sementara itu, daya tampung yang tersedia di SMAN 11 Garut hanya sebanyak 504 siswa dari seluruh jalur penerimaan yang dibuka.
“Hingga siang ini jumlah pendaftar sudah mencapai 3.344 siswa. Sedangkan kuota yang tersedia di SMAN 11 Garut hanya 504 siswa. Artinya, ada ribuan calon siswa yang tidak dapat tertampung karena keterbatasan kuota yang tersedia,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, persaingan antarcalon peserta didik menjadi sangat ketat. Dari total pendaftar yang ada, hanya sebagian kecil yang nantinya dapat diterima sesuai kuota yang telah ditentukan.
Beragam Jalur Penerimaan Dibuka
Dalam pelaksanaan SPMB 2026, SMAN 11 Garut membuka berbagai jalur penerimaan sesuai ketentuan yang berlaku. Jalur-jalur tersebut memberikan kesempatan kepada siswa dengan berbagai latar belakang prestasi dan kondisi sosial untuk mengikuti seleksi.
Dadang menjelaskan bahwa jalur penerimaan yang tersedia meliputi jalur prestasi akademik berbasis nilai rapor, jalur prestasi non-akademik melalui berbagai kejuaraan, jalur kepemimpinan, jalur domisili, serta jalur afirmasi.
“Jalur yang dibuka cukup beragam. Ada jalur akademik berdasarkan nilai rapor, kemudian jalur prestasi non-akademik dari berbagai kejuaraan seperti O2SN dan FLS3N. Selain itu ada juga jalur kepemimpinan bagi siswa yang memiliki pengalaman menjadi pengurus OSIS atau ketua OSIS di tingkat SMP,” paparnya.
Selain itu, terdapat pula jalur domisili yang mempertimbangkan lokasi tempat tinggal calon siswa, serta jalur afirmasi yang diperuntukkan bagi peserta didik dari keluarga yang masuk kategori desil 1 hingga desil 5 sesuai data pemerintah.
“Semua jalur tersebut mendapatkan respons yang sangat tinggi dari masyarakat sehingga jumlah pendaftar membludak,” tambahnya.
Bantah Isu Titipan dalam Seleksi
Menanggapi berbagai isu yang berkembang terkait adanya dugaan titipan dalam proses penerimaan siswa baru, Dadang menegaskan bahwa pihak sekolah tidak akan menerima tuduhan tanpa disertai bukti yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menyatakan bahwa sejak awal sosialisasi SPMB, pihak sekolah telah berulang kali menyampaikan kepada masyarakat bahwa tidak ada ruang bagi praktik titipan dalam proses seleksi.
“Kalau ada yang menyebut ada titipan, tentu harus ada bukti yang jelas. Kami tidak bisa menerima tuduhan tanpa dasar. Sejak awal sosialisasi SPMB 2026, kami sudah sangat tegas dan saklek bahwa sekolah tidak menerima titipan dalam bentuk apa pun,” tegasnya.
Menurutnya, munculnya berbagai asumsi tersebut kemungkinan disebabkan oleh tingginya tingkat persaingan dalam seleksi tahun ini. Dengan jumlah pendaftar yang mencapai ribuan orang dan kuota yang sangat terbatas, banyak calon siswa yang akhirnya tidak dapat diterima.
“Mungkin karena seleksinya sangat ketat sehingga muncul berbagai persepsi di masyarakat. Padahal sistem berjalan sesuai aturan yang berlaku dan dilakukan secara objektif,” ujarnya.
Tidak Berkomentar Terkait Program Sekolah Unggulan Maung
Saat dimintai tanggapan mengenai program Sekolah Unggulan Maung yang menjadi kebijakan pemerintah pusat, Dadang memilih untuk tidak memberikan komentar lebih jauh.
Menurutnya, SMAN 11 Garut bukan bagian dari program tersebut sehingga pihak sekolah tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan mekanisme maupun proses seleksi yang diterapkan.
“Terkait Sekolah Unggulan Maung, kami tidak bisa berkomentar banyak karena SMAN 11 Garut bukan bagian dari program tersebut. Kami tidak mengetahui secara detail bagaimana proses seleksi dan mekanisme yang diterapkan di sana. Itu merupakan kebijakan pemerintah pusat,” jelasnya.
Berharap Siswa Terpilih Sesuai Prestasi
Di akhir keterangannya, Dadang berharap seluruh siswa yang nantinya dinyatakan lolos seleksi benar-benar merupakan peserta didik terbaik sesuai dengan kriteria pada masing-masing jalur penerimaan.
Ia menekankan bahwa sistem yang diterapkan bertujuan memberikan kesempatan yang adil kepada seluruh calon peserta didik sekaligus menjaring siswa-siswa yang memiliki prestasi dan kompetensi terbaik.
“Mudah-mudahan siswa yang diterima di SMAN 11 Garut adalah siswa-siswa yang memang layak dan berprestasi sesuai jalur masing-masing. Kami ingin proses ini berjalan adil, transparan, dan sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.***Deri acong














