CIAMIS, deJurnal,- Ketua Pembina Yayasan Universitas Galuh (Unigal), Agun Gunandjar Sudarsa, membeberkan proses panjang yang dilalui dalam pemilihan Rektor Universitas Galuh periode 2026–2030.
Menurutnya, seluruh tahapan dirancang mengedepankan prinsip transparansi, objektivitas, dan akuntabilitas agar menghasilkan pemimpin yang mampu membawa kampus menghadapi tantangan ke depan.
Penjelasan tersebut disampaikan usai pelantikan Dr. Hj. Tita Rohita, S.Kep., Ners., M.M., M.Kep. sebagai Rektor Universitas Galuh periode 2026–2030 di Auditorium Universitas Galuh, Selasa (7/7/2026). Tita menggantikan Prof. Dr. Dadi, M.Si. yang telah menuntaskan masa jabatannya.
Agun mengatakan, proses pemilihan dimulai setelah kepengurusan Yayasan Universitas Galuh memperoleh pengesahan dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU).
Sejak saat itu, yayasan langsung membentuk mekanisme seleksi yang melibatkan tim independen.
“Kami ingin memastikan proses pemilihan berjalan profesional. Karena itu, sejak awal kami meminta agar seluruh tahapan dilaksanakan sesuai prinsip good governance dengan melibatkan pihak yang independen,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penjaringan diawali dengan mengidentifikasi 13 dosen yang memenuhi persyaratan untuk menjadi calon rektor.
Selanjutnya, tim independen yang terdiri atas profesor dan akademisi melakukan penilaian terhadap kapasitas kepemimpinan, kompetensi manajerial, hingga rekam jejak masing-masing kandidat.
Hasil seleksi tersebut kemudian mengerucut menjadi lima nama terbaik. Kelima kandidat selanjutnya mengikuti uji publik yang menghadirkan unsur pembina, pengurus, pengawas yayasan, serta perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan gagasan dan arah pengembangan Universitas Galuh.
“Dari lima kandidat itu kemudian dipilih dua nama terbaik, yakni Dr. Tita Rohita dan Dr. Dewi. Keduanya kembali menjalani tahapan konsultasi bersama pembina untuk memaparkan visi, misi, serta strategi pengembangan universitas selama lima tahun mendatang,” kata Agun.
Menurutnya, pembina yayasan tidak sekadar menentukan pilihan, tetapi juga menguji kesiapan calon rektor dalam menjawab berbagai persoalan strategis yang tengah dihadapi Universitas Galuh.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah upaya meningkatkan jumlah mahasiswa baru di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat. Selain itu, pembina juga meminta solusi terhadap ratusan mahasiswa yang belum menyelesaikan studinya.
“Kami ingin mengetahui strategi yang akan ditempuh untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kampus, termasuk bagaimana menyelesaikan persoalan mahasiswa yang studinya belum tuntas,” ungkapnya.
Agun menilai tantangan tersebut bukan hanya dialami Universitas Galuh, tetapi juga menjadi persoalan banyak perguruan tinggi di Indonesia. Karena itu, kepemimpinan baru dituntut mampu menghadirkan inovasi sekaligus memperkuat daya saing institusi.
Di sisi lain, ia memberikan apresiasi kepada Prof. Dr. Dadi atas kontribusinya selama memimpin Universitas Galuh. Menurutnya, berbagai capaian yang telah diraih menjadi fondasi penting yang harus diteruskan dan ditingkatkan oleh rektor baru.
“Kepemimpinan sebelumnya telah meletakkan dasar yang baik. Tugas berikutnya adalah mempercepat peningkatan mutu sehingga seluruh program studi maupun fakultas mampu meraih predikat unggul,” katanya.
Selain fokus pada peningkatan kualitas akademik, Agun juga menegaskan pentingnya mempertahankan jati diri Universitas Galuh sebagai kampus yang mengusung nilai konservasi alam dan budaya.
Ia menjelaskan, konservasi budaya tidak hanya diwujudkan melalui pelestarian seni dan tradisi, tetapi juga tercermin dalam pembentukan karakter sivitas akademika yang menjunjung etika, kedisiplinan, kepedulian terhadap lingkungan, serta menciptakan kawasan kampus yang bersih, sehat, bebas narkoba, dan bebas asap rokok.
“Nilai-nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh harus menjadi budaya yang hidup di lingkungan kampus. Nama Galuh harus menjadi simbol karakter, integritas, dan kualitas,” tegasnya.
Melalui kepemimpinan baru tersebut, Yayasan Universitas Galuh berharap kampus dapat semakin adaptif menghadapi perubahan, memperkuat tata kelola perguruan tinggi, meningkatkan mutu pendidikan, serta memperluas daya saing di tingkat regional maupun nasional. (Nay Sunarti)
















