CIAMIS, deJurnal,- Gagasan mengubah hamparan eceng gondok di Bendungan Leuwi Keris menjadi produk yang bernilai ekonomi mulai memasuki tahap nyata.
Berawal dari forum diskusi bersama Gerakan Amaliyah Ciamis Cinta Organik Sejati (GACCORS), Staf Ahli Bupati Ciamis Dr. Giatno, unsur Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Ciharalang, serta para pegiat pertanian organik yang berlangsung di kawasan wisata Leuwi Keris, Minggu (19/7/2026).
Dalam forum itu, para peserta sepakat bahwa eceng gondok tidak lagi cukup dipandang sebagai gulma yang mengganggu kawasan bendungan. Sebaliknya, tanaman air tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik, pakan ternak, hingga produk kerajinan yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy kini menyepakati pelaksanaan uji coba pemanfaatan eceng gondok menjadi pupuk organik.
Hasil diskusi tersebut kemudian dibawa ke tingkat yang lebih teknis melalui rapat koordinasi di Kantor BBWS Citanduy, Kamis (23/7/2026), yang dipimpin Kepala BBWS Citanduy Roy Panagom Pardede dan dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis Andang Firman Triyadi, jajaran perangkat daerah, GACCORS, serta pengurus KDMP Ciharalang.
Dari pertemuan tersebut lahir kesepahaman untuk memulai uji coba pemanfaatan eceng gondok sebagai pupuk organik dengan mempertimbangkan aspek teknis, operasional, dan keberlanjutan program.
Eceng Gondok Dinilai Punya Nilai Ekonomi
Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi, mengatakan eceng gondok tidak seharusnya hanya menjadi persoalan lingkungan.
Menurutnya, apabila dikelola dengan baik, tanaman tersebut justru dapat menjadi sumber ekonomi baru sekaligus mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan.
“Program ini sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Ciamis untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat. Apa yang selama ini dianggap sebagai masalah justru dapat menjadi potensi apabila dikelola secara bersama,” ujarnya.
Andang berharap kolaborasi antara pemerintah, komunitas, koperasi, dan masyarakat mampu melahirkan sistem pengelolaan eceng gondok yang berkelanjutan.
Dukung Program Pertanian Organik
Koordinator GACCORS, Alik Sutaryat, menjelaskan eceng gondok memiliki kandungan organik yang berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB).
Menurutnya, selain menjadi pupuk organik, eceng gondok juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak hingga produk kerajinan.
“Eceng gondok dapat diolah menjadi pupuk organik, pakan ternak maupun produk kerajinan. Ini menjadi bagian dari upaya mendukung pertanian sehat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Alik didampingi Koswara.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan, DPRKPLH, Dinas Peternakan dan Perikanan, serta KDMP Ciharalang yang siap berkolaborasi dalam pelaksanaan program.
BBWS Prioritaskan Fungsi Bendungan
Di sisi lain, Kepala BBWS Citanduy Roy Panagom Pardede menegaskan bahwa pengelolaan Bendungan Leuwi Keris tetap mengutamakan fungsi utama bendungan sebagai penyedia pasokan air bagi daerah irigasi Lakbok Utara dan Bendungan Manganti.
Karena itu, pemanfaatan eceng gondok harus dilakukan secara bertahap melalui uji coba.
“Kami mendukung pemanfaatan eceng gondok, tetapi pelaksanaannya harus melalui tahapan uji coba. Fungsi bendungan sebagai penyedia air tetap menjadi prioritas utama,” tegas Roy.
Ia menjelaskan, kondisi debit air yang mulai menurun selama musim kemarau menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pola penanganan eceng gondok.
Selain itu, BBWS Citanduy saat ini juga tengah berkoordinasi dengan organisasi non-pemerintah (NGO) asal Belanda yang sedang melakukan studi kelayakan pengelolaan sampah di kawasan bendungan.
Tahapan yang dilakukan masih berupa survei lapangan dan pemasangan kamera pemantau (CCTV) sebagai bagian dari sistem monitoring.
Pengangkatan Dilakukan Melalui Uji Coba
Roy mengakui pengangkatan eceng gondok langsung dari badan bendungan masih menghadapi berbagai kendala.
Medan yang curam, akses jalan yang terbatas, serta tingginya biaya operasional membuat proses pengangkutan kurang efektif apabila dilakukan secara langsung.
Karena itu, BBWS mengusulkan pelaksanaan uji coba di sekitar TPS Guha, Handapherang, Kabupaten Ciamis, yang dinilai memiliki akses lebih mudah.
“Hasil pengangkatan nantinya dapat langsung dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan untuk diolah menjadi pupuk organik maupun produk lainnya. Uji coba ini penting untuk mengukur efektivitas metode kerja, biaya operasional, serta aspek keselamatan sebelum diterapkan dalam skala lebih luas,” jelas Roy.
Empat Kelompok Siap Menjadi Pelopor
Dalam rapat tersebut, BBWS Citanduy juga mengungkapkan telah ada empat kelompok yang siap memanfaatkan eceng gondok karena telah memiliki sarana pengolahan.
Keempat kelompok tersebut adalah PSRLB Kelurahan Cigembor, PSRLB Sikuraja, PSRLB Cisadap, dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Ciharalang.
Kelompok-kelompok tersebut nantinya akan memanfaatkan eceng gondok menjadi pupuk organik, pakan ternak, maupun berbagai produk lain yang memiliki nilai ekonomi.
Roy menilai program ini selaras dengan upaya BBWS menjaga kebersihan Bendungan Leuwi Keris sekaligus mendukung kebijakan pemerintah pusat dalam pengembangan ekonomi sirkular berbasis pemanfaatan sumber daya lokal.
“Kami berharap koordinasi seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar pemanfaatan eceng gondok ini benar-benar memberikan manfaat nyata, baik bagi kelestarian lingkungan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Melalui rangkaian proses yang diawali dari forum diskusi di Leuwi Keris hingga rapat koordinasi bersama BBWS Citanduy, Kabupaten Ciamis kini mulai menapaki langkah baru dalam pengelolaan eceng gondok.
Jika uji coba berjalan sesuai rencana, gulma yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan berpotensi berubah menjadi sumber daya produktif yang mendukung pertanian organik, ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem Bendungan Leuwi Keris. (Nay Sunarti)
















