CIAMIS, deJurnal,– Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi Kelurahan Sindangrasa yang berhasil meraih predikat Kelurahan Terbaik I Tingkat Provinsi Jawa Barat.
Di tengah keterbatasan anggaran, Sindangrasa mampu mengungguli kelurahan dari sejumlah kota besar di Jawa Barat. Menurut bupati, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan kekuatan gotong royong dan partisipasi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Bupati Herdiat Sunarya saat memberikan sambutan pada kegiatan Gerakan Edukasi dan Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya bersama Anggota Komisi XI DPR RI di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Ciamis, Rabu (29/7/2026).
Di hadapan Kepala OJK Tasikmalaya Nova Herawati, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Heri Rafni, jajaran pemerintah daerah, kepala sekolah, dan tenaga pendidik se-Kabupaten Ciamis, Herdiat menjadikan capaian Sindangrasa sebagai contoh nyata keberhasilan pembangunan berbasis kolaborasi masyarakat.
“Kelurahan Sindangrasa menjadi kelurahan terbaik pertama di Jawa Barat. Padahal anggarannya hanya sekitar Rp280 juta dalam setahun. Bandingkan dengan kelurahan di kota-kota besar seperti Depok, Bogor, atau Kota Bandung yang anggarannya bisa mencapai Rp3 miliar hingga Rp4 miliar per tahun,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lahir karena besarnya kemampuan fiskal daerah, melainkan karena budaya gotong royong yang masih terpelihara kuat di tengah masyarakat Ciamis.
Ia mengatakan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama yang ikut menyumbangkan tenaga, pikiran, hingga sumber daya untuk memajukan lingkungan tempat tinggalnya.
“Yang membuat Ciamis berbeda adalah kebersamaan masyarakatnya. Gotong royong masih menjadi budaya. Ketika ada pembangunan jalan, irigasi, kebersihan lingkungan, masyarakat ikut terlibat. Inilah modal sosial yang tidak dimiliki semua daerah,” katanya.
Bupati bahkan menilai nilai gotong royong masyarakat jauh melampaui kemampuan fiskal pemerintah daerah. Menurutnya, jika kontribusi masyarakat dihitung secara ekonomi, nilainya bisa lebih besar dibandingkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tercatat setiap tahun.
“Peran serta masyarakat itu luar biasa. Kalau dihitung nilainya, bisa lebih besar daripada PAD kita. Ini menjadi kekuatan utama Kabupaten Ciamis dalam membangun daerah meski dengan kemampuan anggaran yang terbatas,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut, lanjut bupati, juga tercermin dari capaian Kabupaten Ciamis yang berhasil meraih predikat kota kecil terbersih di ASEAN. Penghargaan itu diraih bukan karena besarnya anggaran pengelolaan kebersihan, tetapi karena tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Ia menjelaskan, budaya memilah sampah dari rumah telah menjadi kebiasaan masyarakat sehingga volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan.
“Daerah lain harus mengeluarkan anggaran sangat besar untuk mengelola sampah. Ciamis mampu melakukannya dengan modal kebersamaan dan kesadaran masyarakat. Itu yang membuat saya bangga,” katanya.
Di tengah keterbatasan fiskal daerah, bupati mengakui tantangan pembangunan tidaklah ringan. Bahkan, ia sempat merasa pesimistis ketika melihat kondisi keuangan daerah yang mengalami defisit.
Semangat masyarakat yang terus bergotong royong menjadi alasan baginya untuk tetap optimistis memimpin Kabupaten Ciamis.
“Saya pernah berpikir, dengan fiskal yang kecil dan APBD yang defisit, apakah pembangunan bisa terus berjalan. Tetapi setiap melihat semangat masyarakat yang mau bergerak bersama, saya kembali yakin. Kebersamaan seperti inilah yang menjadi energi bagi kami untuk terus membangun Ciamis,” tuturnya.
Herdiat menegaskan, membangun daerah bukan hanya soal menghadirkan infrastruktur. Yang jauh lebih penting adalah membangun karakter dan mental masyarakat agar tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan, sesama, serta daerahnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh kepala sekolah, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, hingga seluruh elemen masyarakat untuk terus menanamkan nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan akhlak mulia kepada generasi muda.
“Membangun fisik relatif mudah kalau anggarannya ada. Yang paling sulit adalah membangun mental masyarakat. Itu tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Harus ada kolaborasi seluruh elemen agar kita dapat melahirkan generasi yang berakhlakul karimah sekaligus mampu membawa Ciamis menjadi daerah yang semakin maju dan berkelanjutan,” pungkasnya.(Nay Sunarti)
















