CIAMIS, deJurnal,- Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) memberikan pembekalan kepada masyarakat mengenai tata cara pemulasaran jenazah. Kegiatan tersebut digelar di Aula Desa Rawa, Kecamatan Lumbung, Kamis (20/8/2026).
Sekitar 140 peserta mengikuti sosialisasi yang tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga praktik pemulasaran jenazah. Materi difokuskan pada tahapan memandikan dan mengkafani jenazah sesuai tuntunan agama.
Kepala Bagian Kesra Setda Kabupaten Ciamis, Anwar Solahudin, S.Ag., M.M., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemulasaran jenazah.
Menurutnya, kemampuan melakukan pemulasaran jenazah penting dimiliki masyarakat karena kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat diketahui kapan datangnya.
“Secara agama dan spiritual, kegiatan ini mengingatkan kita kepada kematian. Kematian bisa datang kapan saja, sehingga kita perlu mempersiapkan bekal, salah satunya dengan memahami tata cara pemulasaran jenazah,” kata Anwar.
Pemulasaran Jenazah Merupakan Fardhu Kifayah
Anwar menjelaskan, pemulasaran jenazah dalam ajaran Islam merupakan fardhu kifayah. Kewajiban tersebut meliputi proses memandikan, mengkafani, menyalatkan hingga menguburkan jenazah.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diberikan kesempatan untuk memahami sekaligus mempraktikkan tahapan pemulasaran, khususnya memandikan dan mengkafani.
“Praktik yang kita lakukan sampai pada tahapan mengkafani. Untuk menyalatkan dan menguburkan tentu membutuhkan kondisi serta media yang berbeda,” ujarnya.
Ia berharap peserta tidak hanya memahami materi untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga dapat membagikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
Dengan demikian, ketika ada warga yang meninggal dunia, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung kepada orang tertentu yang memiliki kemampuan pemulasaran jenazah.
Diharapkan Berlanjut di Tingkat Desa
Anwar menyebutkan, kegiatan sosialisasi dan praktik pemulasaran jenazah sebelumnya juga pernah dilaksanakan di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis.
Namun, kegiatan tersebut belum dapat menjangkau seluruh kecamatan secara merata karena keterbatasan anggaran. Karena itu, pelaksanaan kegiatan kali ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi pemerintah desa maupun masyarakat untuk mengadakan kegiatan serupa secara mandiri.
“Memang belum bisa menjangkau seluruh kecamatan karena keterbatasan anggaran. Mudah-mudahan ke depan ada kegiatan serupa yang bisa diinisiasi oleh desa, sehingga pemerataan pembelajaran pemulasaran jenazah bisa lebih luas,” katanya.
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari STAI. Kehadiran mahasiswa diharapkan turut memperkuat edukasi keagamaan dan sosial di tengah masyarakat.
Perkuat Kepedulian dan Gotong Royong
Selain aspek keagamaan, Anwar menilai pembelajaran pemulasaran jenazah memiliki nilai sosial yang kuat. Ketika seorang warga meninggal dunia, masyarakat biasanya ikut membantu keluarga yang sedang berduka.
Mulai dari menyiapkan kebutuhan pemulasaran, membantu proses memandikan dan mengkafani hingga membantu pelaksanaan pemakaman.
“Pemulasaran jenazah ini juga merupakan bentuk gotong royong. Ketika ada warga yang meninggal, masyarakat membantu keluarga yang ditinggalkan. Jadi bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga ada nilai sosial di dalamnya,” jelas Anwar.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan budaya gotong royong yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat Kabupaten Ciamis.
Gotong royong, kata dia, tidak hanya terlihat ketika ada warga yang meninggal, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial, kebersihan lingkungan dan aktivitas kemasyarakatan lainnya.
“Ciamis dikenal dengan budaya gotong royong. Nilai itu harus terus kita jaga dan hidupkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk dalam pemulasaran jenazah,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
















