BANJAR, deJurnal,- Setelah memperkenalkan Batik Cakra Galuh yang mengangkat sejarah dan filosofi Galuh di Kabupaten Ciamis, Mia Sumiari Dewi kembali melahirkan karya baru.
Guru Sejarah SMAN 1 Panawangan sekaligus pendiri Prameswari Galuh tersebut kini berkolaborasi dalam pengembangan Motif Batik Cangkoreh Majeti, yang mengangkat kearifan lokal Pulo Majeti, Kota Banjar.
Motif Batik Cangkoreh Majeti diperkenalkan dalam kegiatan STISIP Bina Putra Banjar di Banjar Convention Hall, Rabu (9/9/2026).

Karya ini digagas Dr. H. Yat Rospia Brata, M.Si., bersama mahasiswa STISIP Bina Putra Banjar Ari Kurnia dan Rudi Ilham Ginanjar, serta berkolaborasi dengan Mia Sumiari Dewi melalui Prameswari Galuh.
Bagi Mia, lahirnya motif Cangkoreh Majeti menjadi pengalaman baru dalam menggali kekayaan budaya daerah. Jika Batik Cakra Galuh membawa narasi sejarah Galuh dan Kembang Cakra dari Kawali, Batik Cangkoreh Majeti mengambil inspirasi dari alam, sejarah dan kearifan lokal yang hidup di kawasan Pulo Majeti.
“Setiap daerah sebenarnya memiliki kekayaan budaya yang bisa diangkat menjadi motif batik. Tidak hanya untuk menjadi karya seni, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan cerita, sejarah dan filosofi daerah tersebut,” ujar Mia.
Cangkoreh Majeti Angkat Filosofi Alam
Bambu Cangkoreh menjadi unsur utama dalam motif baru tersebut. Karakternya yang tumbuh merambat dan meliuk mengikuti lingkungan dimaknai sebagai gambaran manusia dalam menghadapi perubahan.
Bambu Cangkoreh tidak digambarkan sebagai tanaman yang lemah karena mengikuti arah angin. Sebaliknya, kemampuan untuk meliuk menjadi simbol keluwesan dan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan kekuatan.
Filosofi tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan manusia. Seseorang perlu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, tetapi tetap memiliki prinsip dan nilai yang menjadi pijakan.
Selain bambu, motif ini menghadirkan tunas Cangkoreh sebagai simbol regenerasi dan harapan generasi penerus. Sementara bulir air menjadi simbol kejernihan pandangan serta kebermanfaatan yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat.
Bunga Padma atau teratai turut menjadi bagian motif sebagai simbol kemurnian niat dan keanggunan budi. Sementara bingkai segitiga atau tumpal membawa gagasan Tri Tangtu sebagai simbol keseimbangan kehidupan.
Seluruh unsur tersebut dirangkai menjadi motif yang memiliki cerita, bukan sekadar ornamen pada kain.
Dari Ciamis, Kini Menyentuh Banjar
Kehadiran Mia dalam pengembangan Batik Cangkoreh Majeti memperluas kiprah Prameswari Galuh dalam menggali budaya lokal melalui batik.
Sebelumnya, Mia dikenal melalui Batik Cakra Galuh yang mengangkat unsur sejarah dan filosofi Galuh. Karya tersebut kemudian diperkenalkan kepada masyarakat, termasuk kepada Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya yang memberikan apresiasi dan memesan Batik Cakra Galuh.
Kini, pengalaman tersebut dibawa ke ruang budaya yang berbeda. Pulo Majeti di Kota Banjar menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan motif baru yang memiliki karakter dan narasi tersendiri.
Menurut Mia, pendekatan tersebut memungkinkan batik berkembang menjadi media dokumentasi budaya.
Setiap motif dapat merekam kekayaan sebuah daerah sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Batik Bisa Jadi Jalan Kolaborasi Budaya
Mia melihat pengembangan motif berbasis budaya lokal tidak harus berhenti di satu daerah.
Ia justru berharap konsep serupa dapat dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia. Setiap daerah bisa menggali kekhasan masing-masing, mulai dari tanaman lokal, sejarah, situs budaya, tradisi hingga kearifan masyarakat, kemudian menerjemahkannya menjadi motif batik.
“Bisa jadi nanti kota lain di Indonesia juga berkolaborasi untuk mengangkat budaya etniknya masing-masing dan dijadikan batik,” kata Mia.
Gagasan tersebut membuka ruang bagi batik untuk menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan ekonomi kreatif.
Batik tidak hanya menjadi produk fesyen, tetapi juga membawa identitas daerah. Ketika sebuah motif memiliki cerita yang kuat, kain tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah dan kearifan lokal kepada generasi berikutnya.
Dari Motif ke Gerakan Pelestarian Budaya
Peluncuran Batik Cangkoreh Majeti menjadi langkah baru dalam perjalanan Mia Sumiari Dewi mengembangkan batik berbasis sejarah dan budaya lokal.
Dari Cakra Galuh di Ciamis hingga Cangkoreh Majeti di Kota Banjar, pendekatan yang dibawa tetap sama menggali kekayaan daerah, merangkumnya dalam sebuah karya dan menyertakan narasi agar masyarakat memahami makna di balik motif.
Motif Cangkoreh Majeti diharapkan dapat menjadi salah satu identitas budaya Kota Banjar sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Lebih jauh, karya ini menjadi pengingat bahwa budaya tidak selalu harus disampaikan melalui ruang formal.
Sejarah dan kearifan lokal juga dapat hadir dalam selembar kain, dikenakan sehari-hari, sekaligus menjadi cerita yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Nay Sunarti)

















