Dejurnal.com, CIAMIS. Sebanyak 490 siswa sekolah dasar dari 27 kecamatan di Kabupaten Ciamis mengikuti Invitasi Olahraga Tradisional (Oltrad) SD tingkat Kabupaten Ciamis 2026 di Stadion Atletik Prabu Linggabuana, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses seleksi untuk membentuk tim Kabupaten Ciamis yang akan berlaga pada kejuaraan olahraga tradisional tingkat Provinsi Jawa Barat di Pakansari, Bogor, pada 28 Oktober 2026.
Kelima nomor yang dipertandingkan yakni hadang, dagongan, bakiak atau tarompah panjang, egrang, dan sumpitan. Para peserta merupakan siswa SD yang sebelumnya telah mengikuti proses seleksi di tingkat kecamatan.
Pembukaan dilakukan Kepala Bidang Keolahragaan Disbudpora Ciamis, Sinung Nugroho, S.H., yang mewakili Kepala Disbudpora Ciamis Dr. Dian Budiyana, M.Si.
Dalam sambutannya Kepala Bidang Keolahragaan Disbudpora Ciamis, Sinung Nugroho, menyampaikan bahwa olahraga tradisional tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar prestasi.
Menurutnya, permainan tradisional juga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu dikenalkan kepada anak sejak usia sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman bertanding, tetapi juga belajar mengenai sportivitas, disiplin, kebersamaan, gotong royong dan penghargaan terhadap lawan.
“Olahraga tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang perlu terus kita lestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda,” demikian disampaikan dalam sambutan pembukaan.
Sinung juga berharap proses seleksi tersebut dapat melahirkan atlet-atlet muda yang mampu membawa nama Ciamis pada jenjang yang lebih tinggi.
Lebih lanjut Sinung menuturkan pemilihan Stadion Atletik Prabu Linggabuana sebagai lokasi kegiatan juga dinilai menjadi bagian penting dari pengembangan ekosistem olahraga di Ciamis.
Fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya atlet-atlet muda daerah.
“Semoga stadion ini menjadi saksi lahirnya atlet-atlet berprestasi yang akan mengharumkan Tatar Galuh Ciamis ke depan,” katanya.
Bukan Sekadar Mengejar Medali
Sementara itu ketua pelaksana sekaligus Ketua IGORNAS Kabupaten Ciamis, Asep Rustandi, mengatakan kegiatan tersebut difasilitasi atas permintaan Disbudpora Kabupaten Ciamis untuk menjaring atlet-atlet terbaik dari setiap kecamatan.
“Setiap kecamatan mengirimkan sekitar 22 atlet untuk mengikuti seleksi. Kalau dikalikan 27 kecamatan, jumlahnya sekitar 490 siswa,” kata Asep.
Dari proses tersebut nantinya akan dipilih atlet yang akan memperkuat kontingen Ciamis di tingkat Jawa Barat. Jumlah atlet yang diberangkatkan ke tingkat provinsi juga sebanyak 22 orang.
Asep menjelaskan, masing-masing nomor memiliki ketentuan peserta yang berbeda. Hadang, misalnya, diperuntukkan bagi putri, sementara egrang dan dagongan diikuti putra. Adapun sumpitan terdiri dari dua putra dan satu putri.
Menurut Asep, beberapa nomor selama ini menjadi andalan Ciamis. Sumpitan dan bakiak termasuk nomor yang dinilai memiliki potensi untuk kembali menyumbangkan prestasi.
Ciamis sendiri memiliki catatan prestasi cukup baik dalam olahraga tradisional. Dalam beberapa tahun sebelumnya, kontingen Ciamis sempat menjadi juara umum tingkat Jawa Barat.
“Insya Allah kalau tiga tahun ke belakang kita sempat jadi juara umum di provinsi. Mungkin ada masalah pembiayaan, pembinaan dan sebagainya sehingga sempat merosot. Mudah-mudahan tahun sekarang kita bisa memberikan yang terbaik untuk Ciamis,” ujarnya.
Pembinaan Jangan Berhenti di SD
Di balik proses seleksi menuju kejuaraan tingkat Jawa Barat, Asep juga menyoroti persoalan keberlanjutan pembinaan atlet olahraga tradisional.
Menurut dia, selama ini potensi anak-anak di tingkat SD cukup besar. Namun, ketika mereka memasuki jenjang pendidikan berikutnya, ruang kompetisi olahraga tradisional menjadi semakin terbatas.
“Kalau dulu berkelanjutan ada SMP, SMA. Sekarang hanya sekolah dasar. Jadi bakat dan minat anak yang tadinya di SD sudah bagus, ternyata tidak ada kelanjutan untuk usia berikutnya,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah provinsi dapat membuka kembali kompetisi olahraga tradisional pada jenjang SMP hingga SMA. Dengan demikian, atlet yang telah dibina sejak SD tidak kehilangan jalur untuk mengembangkan kemampuannya.
“Mudah-mudahan ke depan Dispora Jabar mengadakan event invitasi dari setiap jenjang, baik SMP maupun SMA. Jadi berkelanjutan. Orang tua dan pembina guru juga bisa melanjutkan pembinaan karena ada fasilitas kompetisi,” pungkasnya. (Nay Sunarti)




















