Dejurnal.com, Bandung – Pelukis asal Kabupaten Bandung yang telah melanglang buana ke berbagai negara, R. Cahyadi, akan menampilkan karya lukisan monumental berjudul “Di Balik Merah Putih, Luka Sejarah Berbicara” dalam Pameran Seni Rupa Internasional “Bara Pejuang ’45”.
Pameran yang akan berlangsung pada 10–25 November 2026 di Plataran Gastro Central Bandung tersebut bakal menghadirkan 80 karya seni rupa dari para pelukis Indonesia dan mancanegara. Sebanyak 12 pelukis di antaranya berasal dari luar negeri, yakni Malaysia, Vietnam, Jepang, China, Thailand, Bangladesh, Australia, India, Kanada, dan Korea.
Lukisan karya R. Cahyadi yang dibuat pada 2026 menggunakan media akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 250 sentimeter. Karya tersebut mengangkat kembali peristiwa heroik Bandung Lautan Api yang dinilai mulai terlupakan oleh sebagian masyarakat.
Ketua Komunitas Perupa Gradasi itu mengatakan, lukisan tersebut bukan sekadar menggambarkan sebuah kota yang terbakar, melainkan merekam pengorbanan besar Prajurit Siliwangi bersama rakyat Bandung dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Lukisan ini berkisah tentang bukan sekadar kota yang terbakar, melainkan kisah pengorbanan total Prajurit Siliwangi bersama rakyat. Pada 23–24 Maret 1946, atas perintah Kolonel A.H. Nasution, mereka membakar rumah dan harta benda sendiri agar Bandung tidak jatuh utuh ke tangan Sekutu,” ujar R. Cahyadi kepada Dejurnal.com, Selasa (3/11/2026).
Pemilik Sanggar Salaras tersebut menjelaskan, setiap objek dalam lukisannya memiliki makna sejarah dan filosofi perjuangan.
Harimau yang mengaum di hadapan para prajurit menjadi poros utama lukisan. Sosok tersebut merupakan simbol Maung Siliwangi, yang merepresentasikan semangat Prajurit Siliwangi dalam menjaga rakyat, keberanian menghadapi ancaman, serta kesediaan berkorban bersama masyarakat.
Di dalam bingkai berwarna emas, Cahyadi menggambarkan suasana Bandung tahun 1946 yang dilalap api. Mulai dari ledakan gudang Dayeuhkolot, kobaran api yang membakar kota, hingga siluet rakyat yang mengungsi membawa obor.
“Bingkai itu adalah sejarah yang sudah jadi pajangan. Kini kita keluarkan kembali nilainya,” tuturnya.
Sementara itu, di luar bingkai, tepat di atas hamparan Merah Putih sebagai dasar kehidupan, berdiri sosok Elang Jawa dengan rantai yang terputus. Sosok tersebut dimaknai sebagai Garuda Pancasila, lambang negara sekaligus simbol perjuangan mempertahankan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tanah Pasundan.
Di bagian atasnya, tiga ekor merpati putih tampak terbang sebagai lambang perdamaian yang menjadi harapan seluruh rakyat.
Menurut Cahyadi, pengorbanan para pejuang dalam peristiwa Bandung Lautan Api bukanlah untuk melanggengkan peperangan, melainkan demi mewujudkan perdamaian dalam kemerdekaan.
“Demi menjaga Pancasila dan NKRI tetap ada di tanah Pasundan. Mereka rela kehilangan segalanya bukan untuk terus perang, tetapi untuk damai yang merdeka,” jelasnya.
Ia menilai, karya tersebut sangat tepat apabila dibuka secara resmi oleh Pangdam III/Siliwangi. Hal itu sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur Maung Siliwangi yang semangat perjuangannya diabadikan melalui lukisan tersebut.
Lebih lanjut, R. Cahyadi menuturkan bahwa lukisan itu juga merupakan bentuk penghormatan kepada Prajurit Siliwangi dan rakyat Bandung. Kain Merah Putih berukuran besar sengaja digambarkan menyerupai kain sutra yang menjuntai, bukan seperti bendera kaku.
Filosofinya, Merah Putih merupakan napas, selimut, sekaligus darah pengorbanan dalam perjuangan. Seluruh pengorbanan para pejuang berlangsung di atas dan demi mempertahankan Sang Merah Putih.
“Mereka, para pejuang, mengajarkan bahwa kemerdekaan kadang harus dibayar dengan kehilangan segalanya. Semoga dengan dibukanya lukisan ini oleh Pangdam III/Siliwangi, semangat Maung Siliwangi, berani, berkorban, dan selalu bersama rakyat, kembali menyala di dada kita dan tetap menjadi semangat hidup kita semua,” ujarnya.
R. Cahyadi mengungkapkan, lukisan “Di Balik Merah Putih, Luka Sejarah Berbicara” tersebut telah diserahterimakan kepada panitia Pameran Seni Rupa Internasional “Bara Pejuang ’45” sejak 15 Oktober 2026.
Melalui karya monumental ini, ia berharap generasi sekarang tidak hanya mengenang Bandung Lautan Api sebagai peristiwa pembakaran kota, tetapi juga memahami nilai keberanian, pengorbanan, persatuan, dan kecintaan terhadap Tanah Air yang diwariskan para pejuang.***Sopandi

















