Dejurnal.com, Garut – Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Bakti Kusumah yang berlokasi di Desa Sukamerang, Kecamatan Kersamanah, Kabupaten Garut, mulai menerapkan sistem absensi digital sebagai upaya meningkatkan kedisiplinan siswa sekaligus memperkuat pengawasan terhadap aktivitas kehadiran di lingkungan sekolah. Melalui sistem ini, orang tua dapat memantau kehadiran anak secara langsung melalui aplikasi yang terintegrasi dengan sekolah.
Kepala SMKS Bakti Kusumah, H. Aming Kurniawan, S.Pd.I., M.Si., mengatakan bahwa penerapan absensi digital tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
Menurutnya, sistem absensi digital memungkinkan pencatatan kehadiran siswa dilakukan secara lebih akurat dan transparan. Setiap siswa nantinya memiliki kartu pelajar yang dilengkapi barcode untuk dipindai oleh guru saat memasuki kelas dan memulai kegiatan pembelajaran.
“Jadi, ketika guru masuk kelas, absensi siswa langsung dilakukan dengan memindai barcode pada kartu pelajar masing-masing. Dengan begitu, kehadiran siswa dapat tercatat secara langsung melalui aplikasi,” jelas Aming kepada Dejurnal.com, Kamis (5/11/2026).
Tidak hanya mencatat kehadiran, aplikasi tersebut juga memberikan kemudahan bagi orang tua untuk mengetahui aktivitas kehadiran anaknya di sekolah. Termasuk ketika siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran karena sakit atau izin, orang tua cukup menyampaikan pemberitahuan melalui aplikasi tanpa harus membuat surat izin secara tertulis.

Sekolah juga dapat memantau informasi kehadiran maupun aktivitas siswa yang tercatat dalam sistem tersebut. Dengan demikian, komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua diharapkan menjadi lebih efektif.
Aming menjelaskan, sebelum diterapkan secara lebih luas, sistem absensi digital tersebut telah melalui tahap uji coba selama kurang lebih satu bulan. Dalam pelaksanaannya, sekolah sempat menemukan kendala pada mekanisme pemindaian barcode.
Pada sistem awal, siswa melakukan pemindaian kartu secara mandiri. Namun, cara tersebut memiliki kelemahan karena kartu pelajar berbarcode berpotensi dititipkan kepada teman, sehingga siswa yang sebenarnya tidak hadir tetap tercatat masuk.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekolah kemudian melakukan penyempurnaan mekanisme absensi. Kini, pemindaian barcode dilakukan langsung oleh guru yang mengajar di kelas dengan memeriksa kartu setiap siswa satu per satu.
“Awalnya siswa melakukan pemindaian sendiri, tetapi ada kekhawatiran kartu dititipkan kepada teman. Sekarang sistemnya diubah, pemindaian dilakukan langsung oleh guru yang bersangkutan ketika masuk kelas. Jadi, kehadiran siswa benar-benar dapat dipastikan,” ungkapnya.
Sosialisasi penerapan aplikasi tersebut saat ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari siswa kelas X yang terdiri atas tiga rombongan belajar, dengan program keahlian Teknik Sepeda Motor (TSM) dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).
Kegiatan sosialisasi kepada orang tua juga dilaksanakan secara terpisah agar penjelasan mengenai penggunaan aplikasi dapat diterima dengan baik. Sekolah membagi kegiatan berdasarkan jurusan, sehingga orang tua memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai fungsi dan manfaat sistem tersebut.
Setelah kelas X, penerapan dan sosialisasi direncanakan berlanjut ke kelas XI dan XII. Aming menyebutkan, jumlah siswa SMK Bakti Kusumah dari kelas X hingga XII saat ini mencapai sekitar 240 orang.
Ia juga mengakui bahwa tidak semua orang tua terbiasa menggunakan teknologi digital. Sebagian orang tua masih membutuhkan pendampingan dalam mengakses aplikasi, terutama mereka yang belum terbiasa menggunakan telepon pintar.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pihak sekolah akan melibatkan wali kelas guna membantu dan memberikan pendampingan kepada orang tua agar dapat menggunakan aplikasi dengan baik.
Menariknya, aplikasi absensi digital tersebut merupakan hasil pengembangan salah seorang guru di SMKS Bakti Kusumah sendiri. Dengan demikian, sekolah tidak perlu membeli aplikasi dari pihak luar untuk mulai menerapkan sistem tersebut.
Aming berharap inovasi ini dapat membawa perubahan signifikan terhadap kedisiplinan siswa maupun tenaga pendidik. Sistem digital tersebut juga berlaku bagi guru, termasuk dalam pencatatan izin maupun cuti, sehingga aktivitas kehadiran tenaga pendidik dapat terpantau dan kegiatan pembelajaran tetap terkoordinasi, termasuk dalam pemberian tugas kepada siswa.
Ia menegaskan, kehadiran siswa merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan. Semakin baik tingkat kedisiplinan dan kehadiran siswa, semakin besar pula kesempatan mereka mengikuti materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru secara optimal.
“Harapan kami, melalui sistem ini tingkat kehadiran siswa bisa semakin baik, idealnya mencapai 100 persen. Orang tua juga bisa mengetahui apakah anaknya benar-benar sudah sampai di sekolah atau belum. Jadi, pengawasan tidak hanya dilakukan oleh pihak sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga,” tuturnya.
Lebih jauh, Aming berharap penerapan absensi digital di SMKS Bakti Kusumah dapat menjadi contoh bagi sekolah lain yang belum menggunakan sistem serupa. Ia juga membuka peluang agar aplikasi hasil karya guru tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan.
Menurutnya, transformasi digital di lingkungan sekolah bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan menjadi langkah nyata untuk membangun tata kelola pendidikan yang lebih disiplin, transparan, efektif, dan akuntabel.***Deri Acong




















