Dejurnal.com, CIAMIS. Peringatan Hari Batik Nasional di Ciamis tak selalu harus berlangsung dengan kegiatan membatik menggunakan canting dan malam.
Di Alfabeta Learning Center, para siswa justru diajak mengenal batik melalui eksperimen sederhana yang mempertemukan seni tradisional dengan konsep sains.
Kegiatan bertajuk Sentuhan Sains dalam Lembaran Batik itu digelar bertepatan dengan Hari Batik Nasional, Jumat (2/10/2026).
Siswa mewarnai pola batik di atas kertas, kemudian bereksperimen menggunakan larutan kunyit dan deterjen untuk melihat perubahan warna yang terjadi.
Kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar yang berbeda. Anak-anak tidak hanya mewarnai pola dan bermain dengan warna, tetapi juga diajak mengamati mengapa warna pada pola batik dapat berubah ketika terkena bahan tertentu.
Larutan kunyit terlebih dahulu digunakan untuk memberikan warna kuning keemasan pada pola. Setelah itu, cotton bud yang telah dicelupkan ke dalam larutan deterjen digunakan untuk menyentuh bagian tertentu dari gambar.
Perubahan warna pun muncul. Bagian yang terkena larutan deterjen berubah dari kuning menjadi warna kemerahan hingga kecokelatan.
Di situlah konsep kimia diperkenalkan kepada siswa secara sederhana.
Perubahan tersebut berkaitan dengan kandungan kurkumin pada kunyit. Senyawa alami itu dapat berperan sebagai indikator asam-basa.
Ketika berada dalam kondisi basa, seperti pada larutan deterjen, kurkumin mengalami perubahan yang memengaruhi warna.

Bagi siswa, konsep yang biasanya dijelaskan melalui buku pelajaran itu hadir dalam bentuk yang lebih mudah diamati.
Mereka dapat melihat sendiri proses perubahan warna sekaligus menghasilkan karya bermotif batik.
Owner sekaligus pengajar Alfabeta Learning Center, Arsyiyatul Alawiyah atau yang akrab disapa Miss Aci mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang agar siswa melihat bahwa sains tidak selalu identik dengan laboratorium, rumus, maupun buku teks.

Menurutnya, lingkungan sekitar dan kebudayaan Indonesia juga dapat menjadi ruang belajar sains.
“Batik bukan sekadar kain bergambar, tetapi merupakan karya yang memiliki filosofi, ketelitian dan proses. Dari situ anak-anak bisa belajar bahwa ada banyak hal yang dapat diamati dan dipelajari,” kata Arsyatul.
Ia menilai batik dan sains memiliki titik temu dalam hal proses. Keduanya membutuhkan ketelitian, pengamatan dan kesabaran untuk mendapatkan hasil.
Melalui eksperimen kunyit dan deterjen, siswa juga diperkenalkan pada gagasan bahwa perubahan warna bukan sekadar sesuatu yang menarik untuk dilihat, tetapi memiliki penjelasan ilmiah.
“Harapannya anak-anak tidak hanya mencintai batik sebagai warisan budaya, tetapi juga tumbuh rasa ingin tahunya terhadap sains. Mereka bisa bertanya, mengamati, kemudian mencari tahu mengapa sesuatu bisa terjadi,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran berbasis STEM yang mencoba menghubungkan sains dengan bidang lain.
Dalam kegiatan ini, unsur seni dan budaya batik dipadukan dengan konsep dasar kimia melalui eksperimen yang dapat dilakukan secara sederhana.
Bagi Alfabeta, pengalaman belajar seperti itu penting karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi terlibat langsung dalam prosesnya.
Di sisi lain, momentum Hari Batik Nasional dimanfaatkan untuk mengenalkan batik kepada siswa dari sudut pandang yang berbeda.
Batik tidak hanya ditempatkan sebagai produk budaya yang harus dikenali, tetapi juga sebagai bagian dari proses belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Alfabeta Learning Center yang berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda No. 252, Ciamis, selama ini menyelenggarakan pembelajaran untuk siswa jenjang SD hingga SMA, dengan mata pelajaran Matematika, Sains dan Bahasa Inggris serta persiapan UTBK.
Melalui kegiatan seperti Sentuhan Sains dalam Lembaran Batik, pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk bereksperimen, bertanya dan menemukan hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan di sekitarnya.
Peringatan Hari Batik Nasional pun akhirnya tidak sekadar menjadi seremoni. Di ruang belajar Alfabeta, batik menjadi media untuk mengajak anak-anak melihat bahwa warisan budaya dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan. (Nay Sunarti)



















