Ciamis, Dejurnal,- Gerakan menanam sejuta pohon kembali menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Momentum Hari Gerakan Satu Juta Pohon 2026 yang diperingati setiap 10 Januari dimanfaatkan untuk mengajak warga memulai kepedulian lingkungan dari langkah-langkah sederhana namun berdampak besar.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap alam, penanaman pohon dinilai sebagai solusi nyata yang tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga memperkuat daya dukung alam.
Beberapa waktu terakhir, Indonesia dalam menghadapi peningkatan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, yang turut dirasakan di Kabupaten Ciamis.
Sejumlah wilayah di Ciamis juga dilaporkan mengalami tanah longsor akibat curah hujan tinggi yang tidak diimbangi dengan tutupan vegetasi yang memadai.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya pelestarian lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PRKPLH) Kabupaten Ciamis, Dr. Giyatno, menyampaikan gerakan menanam pohon merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas lingkungan dan keberlangsungan hidup generasi mendatang.
“Kalau bukan kita yang menanam hari ini, siapa yang akan menjaga Ciamis esok hari. Satu pohon yang ditanam hari ini bisa menjadi sumber oksigen, penyangga air, sekaligus pelindung lingkungan di masa depan,” ujar Giyatno, Selasa (12/1/2026).
Giyatno menjelaskan, penanaman pohon memiliki peran strategis dalam menekan risiko bencana, terutama banjir dan tanah longsor. Akar pohon mampu memperkuat struktur tanah dan meningkatkan daya serap air, sehingga dapat mengurangi potensi erosi di wilayah rawan.
“Bencana yang terjadi harus menjadi alarm bagi kita semua. Menanam pohon adalah langkah konkret untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya di daerah perbukitan dan wilayah rawan longsor,” katanya.
Giyatno menambahkan, Dinas PRKPLH Ciamis secara khusus mengajak dan mengimbau masyarakat agar memprioritaskan penanaman pohon di titik-titik strategis, seperti daerah tangkapan air, bantaran sungai, serta lokasi sumber mata air yang saat ini mengalami kekurangan tutupan pohon.
“Sumber mata air harus kita jaga bersama. Jika kawasan sekitarnya ditanami dan dirawat dengan baik, maka ketersediaan air bersih dan keberlanjutan lingkungan akan lebih terjamin,” jelasnya.
Lebih lanjut Giyatno mengungkapkan selain berdampak pada mitigasi bencana, penanaman pohon juga berpengaruh langsung terhadap Indeks Kualitas Udara (IKU) yang merupakan salah satu indikator dalam Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen KLHK) Nomor 27 Tahun 2021.
“Pohon berfungsi menyerap polutan dan menghasilkan oksigen. Saat ini, Indeks Kualitas Udara Kabupaten Ciamis masih berada dalam kategori baik. Capaian ini patut disyukuri, namun juga harus dijaga melalui konsistensi gerakan penghijauan,” ungkapnya.
Menurut Giyatno, Kabupaten Ciamis memiliki potensi alam yang besar dengan tanah yang subur dan ekosistem yang beragam. Namun tanpa kepedulian bersama, potensi tersebut dapat berubah menjadi ancaman bencana di masa depan.
“Gerakan Sejuta Pohon ini bukan sekadar seremonial tahunan. Kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari rumah masing-masing. Tanam satu pohon, rawat dengan baik, dan rasakan manfaatnya,” tambahnya.
Selain menanam pohon, Giyatno juga mengingatkan pentingnya kebiasaan ramah lingkungan lainnya, seperti merawat tanaman di sekitar rumah, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan sirkulasi udara yang baik di dalam hunian.
Melalui Gerakan Sejuta Pohon, Giyatno berharap kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh menjadi budaya di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai respons atas bencana, tetapi sebagai komitmen jangka panjang.
“Satu pohon dari setiap warga adalah sejuta harapan untuk Ciamis yang hijau, aman dari bencana, sehat kualitas udaranya, dan berkelanjutan,” imbuh Giyatno.
Dengan semangat kebersamaan, Giyatno optimistis gerakan tersebut mampu memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus menjaga warisan alam bagi generasi yang akan datang. (Nay sunarti)














