Dejurnal.com, CIAMIS. Di tengah perhatian terhadap Program Sekolah Rakyat, ada cerita pendidikan dari Ciamis yang menarik untuk dilihat dari sisi berbeda.
SMK Hepweti Ciamis telah berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak sekadar mengejar kelulusan, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tumbuh dan membangun kemandirian.
SMK Hepweti bukan bagian dari Program Sekolah Rakyat pemerintah. Namun, pola pendampingan yang selama ini dibangun sekolah memperlihatkan semangat yang sejalan dengan gagasan pendidikan yang memberi kesempatan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sekolah berusaha menjadi tempat anak-anak mendapatkan lebih dari sekadar pelajaran. Mereka dibimbing untuk memiliki keterampilan, keberanian mencoba, belajar mengelola uang, menabung, hingga mengenal pengalaman berusaha sejak masih duduk di bangku sekolah.
Di balik proses tersebut ada kepedulian kepala sekolah dan guru yang berusaha memahami kondisi setiap siswa.
Bagi sekolah, kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan potensi dirinya.
Pendidikan yang Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Semangat itu kemudian diterjemahkan dalam kegiatan yang memberi pengalaman langsung kepada siswa.
Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga diperkenalkan pada kegiatan usaha sederhana.
Mereka diberi kesempatan untuk belajar bagaimana sebuah usaha dimulai, bagaimana modal dikelola, bagaimana hasil dibagi, dan bagaimana sebagian keuntungan dapat disimpan.
Siswa diberikan modal sekitar Rp200 ribu per kelompok untuk menjalankan usaha.
Nominal tersebut memang tidak besar. Namun, sekolah tidak menjadikan jumlah modal sebagai ukuran utama.
Yang ingin dibangun adalah pengalaman.
Anak-anak belajar bahwa modal kecil tetap bisa menjadi awal untuk menghasilkan sesuatu apabila dikelola dengan kemauan, kreativitas dan tanggung jawab.
Dari kegiatan tersebut, siswa juga belajar mengenai pentingnya menabung.
Ada anak yang mampu menyisihkan hasil usahanya secara rutin hingga tabungannya terkumpul lebih dari Rp1 juta.
Bagi sekolah, angka tersebut bukan sekadar nominal. Di baliknya terdapat proses pendidikan tentang disiplin, tanggung jawab dan kemampuan mengendalikan diri.
Anak belajar bahwa hasil kerja tidak harus selalu habis digunakan hari itu juga. Sebagian bisa disimpan untuk kebutuhan yang lebih besar di kemudian hari.
Kepala Sekolah: Jangan Sampai Keterbatasan Mematikan Harapan
Kepala SMK Hepweti Ciamis, Hari Raka Septian melihat kondisi ekonomi siswa sebagai bagian yang harus dipahami dalam proses pendidikan.
Menurutnya, tidak semua anak datang ke sekolah dengan latar belakang dan kemampuan ekonomi yang sama. Karena itu, pendekatan kepada siswa juga tidak bisa hanya dilakukan dari sisi akademik.
“Kami menyadari tidak semua anak datang ke sekolah dengan kondisi keluarga dan kemampuan ekonomi yang sama. Karena itu, tugas kami bukan hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga memastikan mereka tetap punya kesempatan untuk berkembang dan percaya pada masa depannya,” ujarnya.
Hari menuturkan sekolah ingin siswa tidak hanya lulus dengan membawa ijazah, tetapi juga memiliki keterampilan dan keberanian untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kami ingin anak-anak di sini tidak hanya lulus membawa ijazah, tetapi juga membawa keterampilan, keberanian, pengalaman dan kemandirian. Kalau mereka belum bisa memiliki banyak hal, setidaknya kami ingin mereka memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu dan punya sesuatu yang bisa diperjuangkan,” katanya.
Karena itu, pendampingan terhadap siswa menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di sekolah.
Ketika ada anak yang menghadapi keterbatasan, sekolah berusaha mencari jalan agar persoalan tersebut tidak membuatnya berhenti sekolah ataupun kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
“Ketika ada anak yang memiliki keterbatasan, jangan sampai keterbatasan itu justru membuatnya berhenti sekolah atau kehilangan harapan. Sekolah harus hadir, guru harus peduli, dan kami harus mencari jalan bersama,” tuturnya.
Keberhasilan Tidak Selalu Diukur dari Nilai
Bagi kepala sekolah, keberhasilan pendidikan tidak selalu dapat dilihat dari angka di rapor.
Ada ukuran lain yang mungkin tidak terlihat, tetapi justru penting dalam perjalanan seorang anak.
Ketika siswa yang sebelumnya minder mulai berani mencoba usaha, mampu mengelola uang sendiri, atau bahkan berhasil menabung dari hasil kerja kelompoknya, sekolah melihatnya sebagai bagian dari keberhasilan pendidikan.
“Bagi kami, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika anak mendapatkan nilai yang bagus. Ketika seorang anak yang sebelumnya minder kemudian berani mencoba usaha, mampu mengelola uangnya, bahkan bisa menabung dari hasil usahanya sendiri, itu juga merupakan keberhasilan yang sangat berarti,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sekolah berusaha menempatkan siswa sebagai pribadi yang memiliki potensi, bukan hanya sebagai penerima pembelajaran.
Mereka diberi kesempatan untuk mencoba, belajar dari pengalaman, kemudian perlahan memahami kemampuan dirinya sendiri.
Kepala Sekolah dan Guru Ikut Turun Tangan
Upaya seperti itu tentu tidak berlangsung dengan sendirinya.
Dibutuhkan keterlibatan kepala sekolah dan guru untuk mendampingi siswa, terutama ketika sekolah berhadapan dengan anak-anak yang memiliki persoalan ekonomi maupun kondisi keluarga yang berbeda-beda.
Bagi kepala sekolah, perhatian terhadap siswa tidak boleh berhenti pada persoalan akademik.
Guru perlu mengetahui ketika ada anak yang menghadapi masalah, sementara sekolah harus berusaha mencari jalan keluar sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Kami tidak ingin menjanjikan sesuatu yang besar. Kami hanya ingin melakukan apa yang bisa kami lakukan agar anak-anak ini memiliki bekal untuk menjalani kehidupannya. Sebab kami percaya, pendidikan akan memiliki arti ketika anak-anak yang kita didik mampu berdiri dengan kemampuan mereka sendiri,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bagaimana sekolah memandang pendidikan.
Bukan sekadar mengantarkan siswa dari kelas ke kelas hingga akhirnya menerima ijazah, tetapi juga berusaha menyiapkan mereka menghadapi kehidupan nyata.
Prototipe Sekolah Rakyat dari Ciamis
Jika Sekolah Rakyat dimaknai sebagai upaya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus memberikan dukungan agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik, pengalaman SMK Hepweti memperlihatkan bagaimana semangat tersebut dapat tumbuh dari lingkungan sekolah.
Sekali lagi, SMK Hepweti bukan bagian dari Program Sekolah Rakyat pemerintah.
Namun, apa yang dilakukan sekolah menunjukkan sebuah pola pendidikan yang berangkat dari kepedulian terhadap kondisi siswa.
Anak tidak hanya diberi kesempatan untuk belajar, tetapi juga didorong agar memiliki kemampuan untuk berkembang secara mandiri.
Modal usaha sekitar Rp200 ribu per kelompok menjadi pintu masuk untuk mengenalkan dunia usaha. Kebiasaan menabung menjadi latihan mengelola hasil. Pendampingan guru menjadi penguat ketika siswa menghadapi persoalan.
Sementara keberanian siswa untuk mencoba menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Semua itu berlangsung dalam skala sekolah, dengan kemampuan yang dimiliki.
Merawat Asa Anak Kurang Mampu
Kisah SMK Hepweti menjadi gambaran bahwa keberpihakan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak selalu harus dimulai dari program besar.
Kadang, semuanya berawal dari kepedulian seorang kepala sekolah yang mau turun tangan, guru yang bersedia mendampingi, dan sekolah yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba. Dari sana, tumbuh pengalaman.
Anak belajar bekerja sama. Belajar mengelola uang. Belajar menabung. Belajar bertanggung jawab. Dan yang paling penting, belajar percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menentukan masa depan.
Di tengah semakin kuatnya perhatian terhadap pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, pengalaman SMK Hepweti Ciamis menjadi potret bahwa semangat tersebut bisa tumbuh dari sekolah mana saja.
Bukan karena sekolah memiliki fasilitas yang serba lengkap, melainkan karena ada kepedulian untuk tidak membiarkan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi seorang anak untuk belajar dan berkembang.
Dari Ciamis, semangat itu tumbuh melalui langkah-langkah sederhana: membuka kesempatan, mendampingi siswa, mengenalkan kemandirian, dan menjaga agar harapan anak-anak tetap hidup.
Sebab bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat untuk mengejar ijazah.
Sekolah adalah tempat anak belajar meyakini bahwa, apa pun kondisi keluarganya, ia tetap punya masa depan yang layak diperjuangkan. (Nay Sunarti)



















