CIAMIS, deJurnal,– Pertanian tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjaga amanah Allah SWT.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Tadarus Tani bertema Membangun Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) Berbasis Syariat Islam yang digelar di Kabupaten Ciamis, Sabtu (24/7/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan Gerakan Amaliah Ciamis Cinta Organik Sejati (GACCORS) itu menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan komitmen antara ulama, petani, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan pertanian yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Ketua FSPP Kabupaten Ciamis, KH. Nonop Hanafiah, mengatakan pembangunan pertanian perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Menurutnya, nilai-nilai keagamaan harus menjadi landasan dalam mengelola sumber daya alam agar memberi manfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Kegiatan diawali dengan tadabbur Surah ‘Abasa yang disampaikan KH. Nonop Hanafiah. Melalui pemaknaan ayat tersebut, peserta diajak merefleksikan pentingnya membangun peradaban melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, kepedulian terhadap lingkungan, serta pemanfaatan alam secara bijaksana sesuai tuntunan syariat Islam.
Selanjutnya, Ir. H. Alik Sutaryat, M.P. memaparkan konsep Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) sebagai model pembangunan pertanian yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas lahan, kelestarian lingkungan, dan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pertanian masa depan tidak cukup hanya mengejar peningkatan hasil panen, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan ekosistem. Tanah yang tetap subur, air yang terjaga, serta pangan yang aman dan sehat menjadi fondasi penting bagi terwujudnya ketahanan pangan nasional.
Sekitar 200 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Kabupaten Ciamis, Drs. Endang, unsur pemerintah daerah yang diwakili Plt. Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Ciamis, tokoh masyarakat, akademisi, serta para pegiat GACCORS.
Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa Tadarus Tani bukan sekadar membahas teknik budidaya pertanian. Lebih jauh, kegiatan ini merupakan gerakan moral yang mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari ibadah.
Konsep PSRLB menekankan pentingnya menjaga kesuburan tanah, melindungi sumber daya air, melestarikan keanekaragaman hayati, sekaligus menghasilkan pangan yang sehat, aman, dan berkualitas. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan sistem pertanian yang produktif tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Penggiat PSRLB, Kuswara Suwarman, mengatakan perubahan cara pandang terhadap pertanian menjadi salah satu kunci mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
“Sudah saatnya pertanian dipandang sebagai bagian dari ibadah. Menjaga tanah, air, dan lingkungan berarti menjaga amanah Allah SWT untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Melalui Tadarus Tani, para peserta berharap kolaborasi antara ulama, petani, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat terus diperkuat.
Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan gerakan pertanian sehat yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan serta memperkuat kemandirian pangan demi kesejahteraan masyarakat.
Tadarus Tani menjadi pengingat bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya diukur dari besarnya hasil panen, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan alam dan menghadirkan keberkahan bagi kehidupan. (Nay Sunarti)
















