• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Jumat, September 4, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in OpiniKita

Korupsi dan Koruptor Musuh Bersama Berdasarkan Psikologi

bydejurnalcom
Kamis, 9 November 2023
Reading Time: 2 mins read
Korupsi dan Koruptor Musuh Bersama Berdasarkan Psikologi
ShareTweetSend

Oleh : Rizqi Fathullah Mahfudz *)

Kenapa seseorang itu bisa melakukan tindak korupsi dan menjadi koruptor ? menurut para ahli psikologi, korupsi adalah gejala kompleks. Gejala darimana? Gejala dari segelintir orang orang yang takut mati, Apakah ada manusia yang tidak takut mati? Pasti disetiap saat pun selalu ada kecemasan akan kematian dan itu fakta. Fakta itu membawa perasaan hampa seperti “Hubungan saya tidak akan berlanjut” , “ saya tidak akan menjadi apa-apa “.

Nah, agar seseorang tidak memiliki pikiran seperti itu, mereka membangun pola hidup. Tujuannya satu, yaitu untuk melindungi diri dari kecemasan akan kematian. Pola hidup seperi apa yang bisa sukses mengatasi kecemasan seperti itu?.

BacaJuga :

Bantuan Beras Tiga Bulan Disalurkan, Warga Cigembor Terbantu

Jajaran Polsek Leles Amankan 10 Knalpot Brong dari Pelajar di Kabupaten Garut

DPRD Kabupaten Bandung Soroti Tarif Blogger di Destinasi Wisata: Harus Ada Batas Atas dan Bawah

Manusia adalah makhluk yang kreatif untuk membangun suatu cara bertahan hidup. Ada beberapa orang yang menyerahkan dirinya pada penekanan penguasaan terhadap lingkungan. Dengan berkuasa, dia merasa dirinya bermakna karena kekuasaan dipandang sebagai rantai yang menghubungkan segala macam hal, orang dan peristiwa dan membuat dia jauh dari rasa cemas lagi.

Dengan hal itu (kekuasaan), dia merasa memiliki hal yang tidak dapat diambil oleh kematian dan eksistensi dirinya pun merasa ditangguhkan. Hasrat berkuasa tidak luput dari hasrat akan materi.

Bila kita telaah lebih dalam, materialisme dan konsumtivisme telah menjadi penyakit bagi para koruptor untuk mendapatkan hasrat kekuasan dengan berbagai cara yang dipilih untuk meningkatkan makna dan harga diri yang dirusak oleh ancaman kematian.

Dengan uang, kekuasaan dan kepemilikan, kebanyakan orang akan bahagia secara biologis, psikologis dan kultural. Tidak heran jika mereka (koruptor) berlomba-lomba dalam hal tersebut, agara kecemasan akan kematian berhenti mengejar mereka.

Namun, apakah kecemasan itu akan berhenti? Tentu saja tidak, mereka lupa bahwa setiap tindakan yang besar akan memiliki konsekuensi yang besar juga.

Maka, melalui kreativitas manusia, perasaan akan kekuasaan juga diciptakan melalui pemikiran bahwa walaupun fisiknya hancur namun meraka masih memiliki gen yang dia warisi melalui putra-putri dan cucu-cicitnya yang akan mengembangkan keberadaannya akan berlanjut walau dia sudah mati. Gen itupun, berkorespondensi dengan nama keluarga itu sebabnya, korupsi itu sangat egois. Pusat penyebabnya adalah diri sendiri, tetapi seolah-olah diabadikan untuk kepentingan orang lain.

Dengan pola pikir seperti itu, tanpa mereka sadari mereka telah melupakan apa dampak dari korupsi tersebut. Bukan hanya pada diri seorang koruptor saja namun, keluarga pun akan terkena dampak nya. Relasi yang terbangun dengan koruptor juga, bisa menjadi sumber identifikasi masalah dalam kasus korupsi, karena dikaitkan dengan ungkapan sebelumnya bahwa “Kekuasaan adalah rantai penghubung” maka pihak keadilan pun akan memberantas satu demi satu pihak-pihak yang terhubung akan kekuasaan tersebut.

Dari relasi tersebut juga mereka pun termasuk kedalam kasus “korupsi berjamaah”. Meskipun memiliki dampak yang begitu buruk, pada zaman sekarang terkadang beberapa orang membenarkan aksi korupsi tersebut, dengan banyaknya tekanan kecemasan akan kematian dan hausnya kekuasaan yang mereka alami, hal yang seharusnya mereka tidak lakukan pun, akan mereka langgar.

Penulis mengajak kepada semua pihak untuk terus membangun Indonesia tanpa adanya korupsi, dengan cara apa? Mari kita sama-sama memperhatikan kinerja para penguasa. Apakah kinerja mereka akan menuju kepada pembangunan yang berkemajuan atau tidak. Memperhatikan semua pengelolaan keuangan negara yang terpakai, apakah dana yang mengalir itu benar benar mereka gunakan untuk masyarakat atau untuk keluarga dan golongan tertentu.

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogjakarta, Jurusan Sastra Inggris.

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Cegah Stunting Dinkes Jabar Kampanyekan Gizi Seimbang di SMA 1 Garut

Next Post

TNI Dan POLRI Bersinergi Lakukan Pengamanan Kunjungan Presiden

Related Posts

Milad & Syukuran 1 Tahun SPPG Citalang 02 Purwakarta, Mitra: “Satu Hidangan, Seribu Harapan” Jadi Semangat ke Depan
deHumaniti

Milad & Syukuran 1 Tahun SPPG Citalang 02 Purwakarta, Mitra: “Satu Hidangan, Seribu Harapan” Jadi Semangat ke Depan

Jumat, 4 September 2026
BP2D Bidik Nyangku Panjalu 2026, Konsep Wisata Terintegrasi Ciamis
deNews

BP2D Bidik Nyangku Panjalu 2026, Konsep Wisata Terintegrasi Ciamis

Jumat, 4 September 2026
Bantuan Pangan Bantu Penuhi Kebutuhan Keluarga di Ciamis
deNews

Bantuan Pangan Bantu Penuhi Kebutuhan Keluarga di Ciamis

Jumat, 4 September 2026
Bantuan Beras Tiga Bulan Disalurkan, Warga Cigembor Terbantu
deNews

Bantuan Beras Tiga Bulan Disalurkan, Warga Cigembor Terbantu

Jumat, 4 September 2026
Jajaran Polsek Leles Amankan 10 Knalpot Brong dari Pelajar di Kabupaten Garut
deNews

Jajaran Polsek Leles Amankan 10 Knalpot Brong dari Pelajar di Kabupaten Garut

Jumat, 4 September 2026
DPRD Kabupaten Bandung Soroti Tarif Blogger di Destinasi Wisata: Harus Ada Batas Atas dan Bawah
deNews

DPRD Kabupaten Bandung Soroti Tarif Blogger di Destinasi Wisata: Harus Ada Batas Atas dan Bawah

Jumat, 4 September 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Cerita Warga : Situs Makam Tumenggung Ardikusumah di Garut Disebut Makam Astana Kalong

Jumat, 30 Juni 2023

Siapa Pengelola dan Penerima Manfaat CSR Peternakan Ayam Manggis Senilai 4 Miliar?

Rabu, 6 November 2019

KabarDaerah

Aksi Bersama Warga dan Camat Ciamis Normalisasi Sungai Cipalih–Nagawiru Langkah Nyata Menuju Ketahanan Air dan Lingkungan

Minggu, 27 April 2025

Gelar Seni Budaya Kecamatan Ciwidey, Camat Nardi : Mengakrabkan Masyarakat kepada Akar Budaya dan Hari Jadi Kabupaten Bandung

Rabu, 30 April 2025
Kepala Bidang Ketenagaan, Pengembangan Bahasa dan Sastra Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Erom Suparman, S.IP., M.Si.,

Status Guru Honorer Lulusan PPG Dipertanyakan, Begini Kata Disdik Garut

Kamis, 6 November 2025

Viral Jalan Rusak, Kades Handapherang Jelaskan Kendala Anggaran dan Skala Prioritas Pembangunan Desa

Senin, 12 Januari 2026

Polres Purwakarta Bubarkan Warga Yang Lolos Menuju Jalur Tikus ke Tempat Wisata

Selasa, 26 Mei 2020

Tutup Reses Masa Sidang II Tahun 2025 DPRD Kabupaten Bandung, Ir. Aep Dedi Menyoal Pemekaran Desa Sangkanhurip

Kamis, 13 Maret 2025

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste