CIAMIS, deJurnal,- Liga Merpati Ciamis 2026 kembali membuktikan bahwa hobi tradisional dapat tumbuh menjadi kekuatan sosial dan ekonomi berbasis komunitas.
Tak sekadar ajang adu kecepatan burung, kompetisi ini menjelma ruang pemberdayaan lapak desa sekaligus pemersatu penghobi merpati balap lintas daerah.
Hal tersebut terlihat pada pelaksanaan liga yang digelar sehari penuh, Sabtu (31/01/2026), di Lapak Merpati Cibuntu, Desa Kertasari, Kecamatan Ciamis.
Sebanyak 266 peserta dari Ciamis, Tasikmalaya, hingga Cisaga turut ambil bagian dalam kelas umum, menciptakan atmosfer kompetisi yang semarak.
Antusiasme ratusan peserta dan penonton menunjukkan bahwa merpati balap masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat. Lebih jauh, liga ini memberi dampak nyata bagi kehidupan ekonomi di sekitar lapak.
Ketua Lapak Merpati Cibuntu, Widodo, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari Putaran ke-12 Liga Merpati Ciamis, sekaligus rangkaian menuju anniversary Liga Merpati Ciamis yang direncanakan berlangsung di Lapak Kawali.
“Lapak yang menjadi tuan rumah selalu merasakan manfaat ekonomi. Warung, jasa penangkaran, sampai pengrajin sangkar ikut bergerak. Jadi ini bukan sekadar lomba,” ujar Widodo.
Menurutnya, Liga Merpati Ciamis dirancang sebagai kompetisi yang inklusif dan terbuka bagi seluruh penghobi. Tidak ada sistem kualifikasi maupun pembatasan kelas burung.
“Semua peserta bisa ikut tanpa sekat. Yang terpenting adalah sportivitas, etika kompetisi, dan kebersamaan,” jelasnya.
Konsep tersebut membuat Liga Merpati Ciamis selalu menarik minat peserta dari berbagai daerah, termasuk Banjar dan Tasikmalaya. Selain berkompetisi, para peserta memanfaatkan momentum ini sebagai ajang silaturahmi dan berbagi pengetahuan.
“Di sinilah para peternak dan joki saling tukar pengalaman. Banyak ilmu yang tidak didapat di tempat lain,” tutur Widodo.
Ia menambahkan, setiap putaran liga juga menjadi wadah regenerasi peternak merpati unggul. Merpati hasil persilangan lokal khas Ciamis kerap tampil dan menarik perhatian pembeli maupun penghobi baru.
“Kami ingin Ciamis dikenal sebagai sentra merpati unggulan. Dari ajang ini mulai lahir peternak-peternak muda yang berani tampil dan menunjukkan kualitas,” katanya.
Di balik gegap gempita perlombaan, denyut ekonomi rakyat skala kecil ikut tumbuh. Kehadiran ratusan peserta dan penonton menciptakan perputaran uang yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar lapak.
“Ajang seperti ini membuktikan bahwa hobi, jika dikelola secara profesional dan kolektif, mampu memberi nilai ekonomi yang berkelanjutan,” ungkap Widodo.
Ia berharap Liga Merpati Ciamis ke depan terus mendapat dukungan, baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat luas, mengingat potensinya sebagai wadah sportivitas sekaligus penguatan ekonomi berbasis komunitas.
“Kami membangun dari komunitas, oleh komunitas, dan untuk komunitas. Semoga liga ini terus hidup dan membawa manfaat jangka panjang, tidak hanya bagi peternak, tetapi juga bagi Ciamis secara luas,” pungkasnya. (Nay Sunarti)













