Ciamis, deJurnal – Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Ciamis berlangsung khidmat dan penuh makna melalui Sholawat Kebangsaan bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, Jumat malam (9/1/2026).
Bertempat di Stadion Galuh Ciamis, kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 15 ribu jemaah dari berbagai daerah.
Sholawat Kebangsaan merupakan agenda nasional Kementerian Agama RI yang pelaksanaannya diamanahkan kepada Kabupaten Ciamis, sekaligus menjadi momentum doa bersama bagi keselamatan bangsa di tengah berbagai musibah dan tantangan yang sedang dihadapi Indonesia.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, H. Asep Lukman Hakim, M.Si, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran dan kesuksesan kegiatan yang mendapat dukungan penuh lintas sektor.
“Alhamdulillah, kegiatan Sholawat Kebangsaan ini berjalan lancar, tertib, dan sukses. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa, jemaah yang hadir membludak hingga diperkirakan lebih dari 15 ribu orang. Ini berkat kerja sama dan sinergi semua pihak,” ungkapnya.
Asep secara khusus menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengamanan yang telah bekerja maksimal demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh jemaah.
“Peran petugas keamanan sangat besar. Mereka memastikan kegiatan ini berlangsung aman, tertib, dan kondusif, sehingga jemaah dapat mengikuti sholawat dengan khusyuk,” katanya.
Asep turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis, khususnya Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya, yang dinilai sangat responsif dan mendukung penuh pelaksanaan kegiatan berskala besar tersebut.
“Pak Bupati sangat cepat merespons ketika kami menyampaikan rencana menghadirkan Habib Syech. Beliau langsung mengizinkan penggunaan Stadion Galuh dan mengajak seluruh jajaran SKPD untuk ikut menyukseskan kegiatan ini. Ini luar biasa dan patut diapresiasi,” ujarnya.
Menurut Asep, penggunaan Stadion Galuh untuk kegiatan keagamaan menjadi momen bersejarah, mengingat stadion tersebut selama ini jarang digunakan di luar agenda olahraga.
Lebih lanjut, Asep menjelaskan Sholawat Kebangsaan memiliki makna spiritual yang mendalam, terutama sebagai ikhtiar batin di tengah maraknya bencana alam yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di Sumatera.
“Kegiatan ini pada intinya adalah doa bersama. Kita tidak ingin hanya berdoa setelah bencana terjadi, tetapi memohon sejak dini agar Jawa Barat, khususnya Ciamis, dan Indonesia secara umum senantiasa dilindungi Allah SWT dari marabahaya,” tuturnya.
Asep menambahkan meskipun belum dipastikan menjadi agenda tahunan, semangat berdoa, berdzikir, dan memperkuat nilai kebangsaan harus terus dipelihara dalam berbagai kegiatan keagamaan.
“Doa tidak harus menunggu acara besar. Dalam kondisi apa pun dan di kegiatan apa pun, doa harus terus kita panjatkan,” tambahnya.
Dikatakan Asep kehadiran Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Ciamis disebut sebagai keberkahan tersendiri bagi masyarakat.
Dalam sholawat tersebut, turut dipanjatkan doa dan harapan agar Kabupaten Ciamis dan Jawa Barat semakin maju, sejahtera, dan diberkahi.
“Kami mengambil hikmahnya. Ini keberkahan bagi masyarakat Ciamis. Doa-doa untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat disampaikan langsung dan diamini bersama,” ungkap Asep.

Sementara itu, Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kabupaten Ciamis, KH Nonop Hanafi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara Kementerian Agama, pondok pesantren, dan seluruh elemen umat.
“Sholawat Kebangsaan ini bertujuan menumbuhkembangkan kecintaan umat Islam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sekaligus memperkuat sinergi Kementerian Agama dengan pondok pesantren sebagai pilar pembinaan umat,” jelasnya.
Nonop menilai, di tengah situasi bangsa yang sedang diuji oleh bencana alam, ketidakpastian global, dan dinamika geopolitik, kegiatan sholawat menjadi refleksi atas kelemahan manusia di hadapan Allah SWT.
“Kerukunan dan kedamaian adalah prasyarat utama lahirnya peradaban besar. Dzikir dan sholawat ini adalah ikhtiar spiritual agar Indonesia tetap rukun, damai, dan kuat menghadapi berbagai tantangan,” tegasnya.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai pukul 22.00 menjadi simbol kuat sinergi pemerintah, ulama, dan masyarakat dalam memperkuat nilai keagamaan, kebangsaan, serta optimisme daerah menuju Indonesia yang rukun, damai, dan maju. (Nay Sunarti)














