Ciamis, deJurnal,- Di tengah hidup yang makin sibuk dan dipenuhi notifikasi tanpa henti, sebagian orang kini mulai mencari cara sederhana untuk “menghilang” sejenak dari kebisingan dunia.
Bukan ke pusat hiburan atau kota besar, melainkan ke tempat-tempat tenang yang memberi ruang untuk bernapas lebih lega.
Tren itu kini dikenal dengan istilah silent tourism atau wisata sunyi. Sebuah konsep perjalanan yang tidak lagi mengejar keramaian, melainkan ketenangan, keheningan, dan kedekatan dengan alam.
Kabupaten Ciamis menjadi salah satu daerah yang dinilai memiliki kekuatan besar dalam tren wisata baru tersebut.
Hamparan hutan, aliran sungai, kawasan budaya hingga destinasi alam yang masih asri membuat Tatar Galuh perlahan mulai dilirik sebagai tempat pelarian dari penatnya kehidupan modern.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Kabupaten Ciamis,Endang Haris Juandana, mengatakan pola perjalanan wisata saat ini mulai berubah.
Banyak wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat ramai untuk berfoto, tetapi mulai mengejar pengalaman yang lebih personal dan menenangkan.
“Orang sekarang sudah mulai lelah dengan rutinitas digital. Mereka ingin tempat yang membuat pikiran lebih tenang, lebih rileks, dan bisa menikmati suasana alami tanpa gangguan,” ujarnya.
Menurut Endang, konsep silent tourism tumbuh seiring meningkatnya kejenuhan masyarakat terhadap tekanan pekerjaan, media sosial, hingga kehidupan perkotaan yang serba cepat.
Tak sedikit wisatawan kini memilih perjalanan yang memberi kesempatan untuk benar-benar beristirahat secara mental.
Karakter geografis Ciamis sendiri didominasi kawasan hijau, hutan, sungai hingga kawasan budaya yang dinilai mendukung lahirnya destinasi wisata reflektif yang kini mulai diminati wisatawan, khususnya kalangan solo traveler.
“Banyak wisatawan justru mencari ketenangan, suasana alami, dan ruang untuk kembali terhubung dengan dirinya sendiri. Ciamis memiliki potensi besar untuk itu,” ujar Endang.
Ia menjelaskan, silent tourism merupakan konsep perjalanan yang menitikberatkan pada ketenangan, relaksasi, dan pemutusan sementara dari gangguan eksternal, termasuk penggunaan perangkat digital.
Tren ini berkembang di berbagai negara melalui aktivitas seperti meditasi di alam terbuka, forest bathing, hingga penginapan dengan konsep minim interaksi dan bebas gawai.
“Di tengah kehidupan yang serba cepat, orang mulai merindukan suasana yang sunyi dan alami. Ini bukan sekadar wisata, tetapi bagian dari proses pemulihan mental dan emosional,” katanya.
Ia menilai Ciamis memiliki modal alam yang sangat kuat untuk mengembangkan wisata berbasis ketenangan tersebut.
Salah satu kawasan yang disebut memiliki nuansa paling mendukung adalah kawasan Situs Karangkamulyan Kecamatan Cijeungjing.
Selain dikenal sebagai situs budaya dan sejarah Galuh, kawasan itu juga menawarkan suasana rindang dan alami di sekitar aliran Sungai Citanduy yang dinilai cocok untuk refleksi diri hingga meditasi.
“Karangkamulyan itu punya suasana yang berbeda. Udara masih alami, lingkungannya tenang, dan ada energi budaya yang kuat. Sangat cocok untuk wisata yang sifatnya reflektif,” jelasnya.
Tak hanya Karangkamulyan, sejumlah lokasi lain di Ciamis juga dinilai cocok menjadi bagian dari pengembangan silent tourism.
Kawasan Curug Tujuh Cibolang dan hutan pinus Darmacaang misalnya, menawarkan pengalaman forest bathing atau menikmati terapi alami dengan berjalan santai di tengah hutan sambil menghirup udara segar khas pegunungan.
Sementara bagi wisatawan yang ingin menikmati ketenangan malam, Puncak Jamiaki Panumbangan menghadirkan panorama langit penuh bintang ditemani hamparan cahaya kota dari kejauhan.
Adapun disebut menjadi destinasi yang menghadirkan perpaduan suasana hening, alam, dan nilai spiritual sejarah Prabu Borosngora.
Endang menyebut, tren wisata sunyi diperkirakan akan terus berkembang karena masyarakat modern mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental.
Menurutnya, ketenangan kini menjadi sesuatu yang mahal dan mulai dicari banyak orang melalui perjalanan wisata.
“Kadang orang tidak membutuhkan tempat mewah. Mereka hanya ingin duduk tenang, mendengar suara alam, jauh dari kebisingan dan tekanan hidup sehari-hari. Itu yang sekarang mulai dicari wisatawan,” pungkasnya. (Nay Sunarti)









