JAKARTA, deJurnal,- Hubungan artistik antara Indonesia dan Jepang kembali dipererat melalui pentas teater kolaboratif bertajuk Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam (Inheritance of the Black Flower).
Setelah menjalin kerja sama kreatif selama lebih dari lima tahun, Lab Teater Ciputat (Indonesia) dan Theatre Company shelf (Jepang) kembali menghadirkan karya lintas budaya yang mengajak penonton merefleksikan persoalan kekuasaan, ingatan, trauma, dan kemanusiaan melalui bahasa teater kontemporer.
Pertunjukan akan digelar pada 15–16 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta, dengan dukungan Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Berbeda dari pertunjukan teater konvensional, Crossing Text 2.0 tidak sekadar menyajikan cerita di atas panggung. Produksi ini lahir dari proses riset, dialog lintas budaya, hingga eksplorasi tubuh yang melibatkan seniman dari dua negara dengan latar budaya berbeda.
Karya tersebut merupakan pengembangan dari proyek Crossing Text: Between Mystery and Mystical – The Smiling Old Woman yang berlangsung pada 2020–2023.
Jika proyek sebelumnya mempertemukan sastra Indonesia dan Jepang dalam ruang dialog artistik, edisi terbaru ini berangkat dari monolog Sebelum Bunga Hitam, karya dan gagasan artistik Sir Ilham Jambak, yang terinspirasi dari tokoh Macbeth dalam tragedi klasik karya William Shakespeare.
Namun demikian, pertunjukan ini bukan adaptasi langsung dari naskah Shakespeare. Warisan Bunga Hitam justru menggunakan Macbeth sebagai titik tolak untuk membaca ulang berbagai persoalan yang masih relevan hingga kini, seperti bagaimana kekuasaan memengaruhi kehidupan manusia, bagaimana kekerasan meninggalkan jejak pada tubuh dan ingatan, serta bagaimana trauma diwariskan lintas generasi.
Sutradara Indonesia, Sir Ilham Jambak, mengatakan karya tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap dampak yang ditinggalkan sebuah peristiwa kekerasan, terutama bagi mereka yang hidup setelahnya.
“Saya ingin mengajukan pertanyaan tentang apa yang tersisa setelah kekerasan terjadi. Siapa yang mengingat? Siapa yang dilupakan? Dan bagaimana sejarah terus hidup dalam tubuh serta kehidupan generasi berikutnya,” ujar Ilham.
Menurutnya, tubuh bukan sekadar medium pertunjukan, melainkan ruang yang menyimpan pengalaman hidup, luka, ingatan, hingga sejarah yang terus diwariskan.
Pandangan serupa disampaikan sutradara Jepang, Yasuhito Yano. Ia menilai Crossing Text menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai pengalaman budaya tanpa menghapus perbedaan yang ada.
“Crossing Text bukan sekadar pertukaran budaya. Ini adalah ruang di mana teks, tubuh, ingatan, dan pengalaman hidup saling bertemu tanpa harus disatukan menjadi satu kesimpulan. Justru perbedaan menjadi sumber utama dalam proses penciptaan karya,” kata Yano.
Dalam proses kreatifnya, para seniman Indonesia dan Jepang mengembangkan karya melalui pendekatan cross-cultural dialogue, riset artistik, improvisasi, diskusi, serta eksplorasi tubuh. Seluruh proses diarahkan untuk membangun karya yang tumbuh dari perjumpaan berbagai perspektif, pengalaman hidup, dan latar budaya yang berbeda.
Tidak hanya berfokus pada hasil pertunjukan, proyek ini juga menaruh perhatian besar terhadap proses kerja yang sehat dan inklusif. Seluruh tim produksi mengikuti lokakarya Pencegahan Pelecehan dan Kekerasan dalam Praktik Seni Pertunjukan yang difasilitasi peneliti serta praktisi seni dari Indonesia dan Jepang.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen kedua kelompok dalam menciptakan ruang berkesenian yang aman, setara, dan berkelanjutan.
Lab Teater Ciputat yang berdiri sejak 2005 dikenal konsisten mengembangkan karya berbasis riset sosial, budaya urban, dan spiritualitas masyarakat.
Sementara Theatre Company shelf, yang didirikan Yasuhito Yano pada 2002, memiliki reputasi sebagai kelompok teater yang menjadikan tubuh dan bahasa sebagai pusat eksplorasi artistik.
Melalui Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam, kedua kelompok berharap kolaborasi lintas negara tidak hanya melahirkan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai persoalan kemanusiaan yang melampaui batas geografis, bahasa, maupun sejarah.
Pertunjukan ini terbuka bagi masyarakat umum, pegiat seni, akademisi, mahasiswa, hingga penikmat teater yang ingin menyaksikan pertemuan dua tradisi artistik dalam satu panggung yang sarat refleksi dan makna.
Informasi Pertunjukan
Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam (Inheritance of the Black Flower)
Produksi: Lab Teater Ciputat (Indonesia) × Theatre Company shelf (Jepang)
Tanggal: 15–16 Agustus 2026
Waktu: Pukul 20.00 WIB
Tempat: Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta
Narahubung Media: Holifah Wira – Pimpinan Produksi Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam Telp/WhatsApp: 0821-2523-4842 (nay sunartil)

















