Dejurnal.com, Bandung,- Anggota Fraksi PAN DPRD Kabupaten Bandung, H.Tedi Supriadi, S.Pd.I., M Si. melaksanakan Reses Masa Persidangan III Tahun Sodang 2025-2027 DPRD Kabupaten Bandung di titik pertamanya di Desa Sukamukti, Rabu 19 Agustus 2026.
Menurut Tedi, pelaksanaan reses anggota DPRD Kabupaten Bandung di tengah kebijakan efisiensi anggaran tetap berjalan normal. Bahkan, efisiensi tidak menjadi alasan untuk mengurangi kemanfaatan kegiatan reses bagi masyarakat.
Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Komisi D ini menegaskan, reses kali ini justru dikembangkan dengan memadukan penyerapan aspirasi masyarakat dengan edukasi kesehatan, khususnya penyuluhan mengenai pencegahan dan penanganan penyakit tuberkulosis (TBC).
“Di tengah efisiensi anggaran, reses tetap berjalan normal. Bahkan dari sisi kemanfaatannya, saya tingkatkan. Kali ini saya mengundang dan meminta bantuan Dinas Kesehatan untuk memberikan materi penyuluhan terkait penanganan penyakit TBC,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata kemitraan antara DPRD dan pemerintah daerah. Kemitraan, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan secara formal dan seremonial di kantor, tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ini sekaligus membuktikan bahwa saya selaku anggota DPRD Kabupaten Bandung, khususnya Komisi D, ingin membangun kemitraan yang real. Bukan hanya seremonial di kantor, tetapi bersama-sama turun ke bawah memberikan penyuluhan kepada masyarakat,” katanya.
Ia berharap informasi mengenai pencegahan dan penanganan TBC yang disampaikan dalam reses tidak berhenti kepada peserta yang hadir. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing sehingga ikut membantu menjaga kesehatan lingkungan.
“Minimal masyarakat yang hadir mengetahui bagaimana menangani dan mencegah TBC, menjaga kesehatan lingkungan, dan kemudian informasi itu bisa disebarluaskan kembali kepada masyarakat,” tuturnya.
Ia menilai langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program Pemerintah Kabupaten Bandung dalam menangani persoalan TBC. Menurutnya, Kabupaten Bandung masih menghadapi persoalan serius terkait penyakit tersebut sehingga membutuhkan keterlibatan semua pihak.
“Pada intinya kita membantu program pemerintah Kabupaten Bandung. Ini menjadi perhatian karena Kabupaten Bandung termasuk daerah dengan kasus TBC yang tinggi di Jawa Barat,” ujarnya.
Terkait efisiensi anggaran, ia mengakui kondisi tersebut secara otomatis berpengaruh terhadap kemampuan anggaran kegiatan. Namun, efisiensi tidak seharusnya mengurangi substansi dan manfaat reses.
“Kalau dari sisi kemampuan, otomatis berkurang. Tetapi justru di tengah efisiensi ini kita tingkatkan kemanfaatan reses. Mudah-mudahan reses kali ini bisa lebih bermanfaat,” katanya.
Jika sebelumnya reses lebih banyak diisi dengan penyampaian aspirasi, regulasi, serta persoalan pembangunan, kini kegiatan tersebut dipadukan dengan edukasi kesehatan masyarakat.
“Kalau kemarin hanya berbicara regulasi, aspirasi dan lain sebagainya, sekarang kita padukan dengan sosialisasi penanganan TBC di lingkup kita, khususnya di Dapil 2,” pungkasnya.***Sopandi














