Dejurnal.com, CIAMIS. Batik Cakra Galuh karya Mia Sumiari Dewi asal Kabupaten Ciamis mendapat kesempatan tampil dalam ajang Malaysia International Craft Fair (MICF) 2026 di Kompleks Kraf Kuala Lumpur, Malaysia.
Batik yang sebelumnya dipajang di DKUKMP Kabupaten Ciamis itu dibawa oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Barat untuk dipamerkan bersama produk-produk UMKM dari Jawa Barat.
MICF 2026 berlangsung mulai 24 September hingga 5 Oktober 2026. Sementara edisi internasionalnya berlangsung pada 24-28 September 2026 dengan menghadirkan produk kerajinan dan karya kreatif dari berbagai pelaku industri.
Mia Sumiari Dewi mengatakan, keikutsertaan Batik Cakra Galuh dalam pameran tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya yang mengangkat identitas budaya Galuh ke ruang yang lebih luas.
“Alhamdulillah, Batik Cakra Galuh yang sebelumnya dipajang di DKUKMP Kabupaten Ciamis dibawa oleh Dinas Provinsi Jawa Barat untuk ikut dipamerkan di Malaysia bersama UMKM dari Jawa Barat,” kata Mia, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, kesempatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan produk batik, tetapi juga membawa cerita dan filosofi budaya Galuh melalui karya kerajinan.
Batik Cakra Galuh sendiri dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari nilai-nilai sejarah dan budaya Galuh.
Motifnya menjadi bagian dari upaya menerjemahkan kekayaan budaya lokal ke dalam karya batik yang dapat diterima di tengah perkembangan industri kreatif saat ini.
Mia berharap tampilnya Batik Cakra Galuh di Malaysia dapat membuka lebih banyak ruang pengenalan bagi batik Ciamis sekaligus memperluas jejaring dengan pelaku usaha dan pemerhati kerajinan dari luar negeri.
“Harapannya tentu bukan hanya batiknya yang dikenal, tetapi juga Ciamis dan budaya Galuhnya. Ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita memiliki karya dan kekayaan budaya yang bisa diperkenalkan sampai ke tingkat internasional,” ujarnya.
MICF 2026 diselenggarakan oleh Malaysian Handicraft Development Corporation (Kraftangan Malaysia) di bawah Kementerian Pariwisata, Seni, dan Budaya (MOTAC) Malaysia.
Pameran tersebut menjadi salah satu ruang promosi produk kerajinan dan industri kreatif, sekaligus mempertemukan pengrajin, pelaku usaha, pembeli, investor, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara.
Selain mempromosikan warisan budaya, MICF juga diarahkan untuk membuka peluang perdagangan internasional melalui jejaring bisnis dan International Sourcing Programme (INSP).
Bagi Batik Cakra Galuh, keikutsertaan dalam ajang tersebut menjadi langkah penting untuk membawa karya berbasis budaya lokal Ciamis ke panggung yang lebih luas.
Kesempatan itu sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan produksi dan pemasaran di daerah, tetapi juga bagaimana karya lokal memiliki ruang untuk diperkenalkan dalam jaringan industri kreatif internasional. (Nay Sunarti)


















