Dejurnal.com, CIAMIS – Perkembangan teknologi industri perunggasan menuntut dunia pendidikan vokasi untuk tidak hanya mengandalkan pembelajaran di ruang kelas.
Pengalaman langsung di lingkungan industri menjadi bagian penting agar siswa maupun guru memahami teknologi dan sistem kerja yang digunakan di lapangan.
Kebutuhan itu salah satunya dijawab Naratas Group melalui pembangunan kandang Closed House Layer tahap kedua di Kabupaten Ciamis.
Fasilitas tersebut tidak hanya disiapkan sebagai sarana produksi ayam petelur, tetapi juga diarahkan menjadi ruang belajar berbasis industri bagi siswa SMK Perunggasan, mahasiswa, hingga tenaga pendidik. Kandang tersebut dijadwalkan diluncurkan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Kehadiran fasilitas dengan penerapan teknologi modern ini diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan dunia pendidikan dengan perkembangan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), khususnya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri perunggasan.
Asesor DUDIKA bidang perunggasan, Kuswara Suwarman, menilai pembangunan fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan nyata dunia usaha dalam mendukung penguatan pendidikan vokasi.
Menurut Kuswara, Naratas Group di bawah pimpinan H. Ajat Darajat menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya dapat berperan sebagai pelaku usaha, tetapi juga mempunyai ruang untuk ikut membentuk kompetensi generasi muda.
“Ini merupakan bukti keterlibatan pengusaha, khususnya Naratas Group di bawah pimpinan Bapak H. Ajat Darajat, yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pendidikan dan SDM. Dunia industri tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi generasi muda,” ujar Kuswara Minggu (04/10/2026)
Ia mengatakan, fasilitas closed house dengan teknologi dan manajemen peternakan modern relatif sulit dimiliki secara mandiri oleh lembaga pendidikan, terutama SMK.
Selain membutuhkan investasi yang besar, sistem tersebut juga membutuhkan perangkat teknologi, peralatan pendukung, serta pengelolaan yang konsisten.
Di sisi lain, teknologi perunggasan terus berkembang. Kondisi itu membuat siswa dan guru perlu mendapatkan pengalaman langsung agar pengetahuan yang diperoleh di sekolah tidak berhenti pada teori.
Karena itu, keberadaan kandang Closed House Layer Naratas Group dinilai dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan kompetensi di dunia kerja.
“Kami sangat menyambut baik kesediaan perusahaan Naratas Group atau Pasini Layer memberikan keleluasaan sebagai tempat Praktik Kerja Lapangan (PKL) siswa SMK, magang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, serta kegiatan peningkatan kompetensi bagi guru-guru SMK, termasuk guru dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Kuswara.
Belajar Teknologi Peternakan dari Lingkungan Industri
Pemanfaatan kandang tersebut juga dapat mendukung penguatan Teaching Factory (TEFA) dan pembelajaran berbasis dunia kerja di pendidikan vokasi.
Peserta didik nantinya tidak hanya melihat proses pemeliharaan ayam secara umum.
Mereka dapat mempelajari berbagai aspek yang berkaitan dengan sistem peternakan modern, mulai dari teknologi kandang tertutup, manajemen ayam petelur, pengaturan lingkungan kandang, biosecurity, manajemen pakan dan air minum, kesehatan ternak, pencatatan produksi hingga penerapan standar operasional peternakan.
Konsep tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa usaha peternakan ayam dapat dikelola secara profesional, bersih dan tertata.
Hal itu menjadi penting bagi Ciamis yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan aktivitas peternakan yang cukup berkembang.
Peternakan tidak harus identik dengan lingkungan yang kumuh atau tidak tertata. Dengan pengelolaan dan teknologi yang tepat, kandang ayam pun dapat menjadi fasilitas produksi yang bersih, terukur dan memenuhi standar manajemen modern.
Dari sisi pendidikan, kondisi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi siswa. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana kebersihan kandang, pengelolaan limbah, biosecurity hingga pencatatan produksi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan peternakan.
Sudah Dimanfaatkan untuk Peningkatan Kompetensi Guru
Kerja sama pembelajaran di fasilitas Naratas Group juga telah diarahkan untuk mendukung program Upskilling dan Reskilling guru SMK kompetensi keahlian unggas.
Program tersebut melibatkan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Pertanian (BBPPMPVP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, selain kegiatan magang dan peningkatan kompetensi siswa SMK.
Dengan pola seperti ini, hubungan antara sekolah dan industri tidak berhenti pada penempatan siswa untuk PKL. Industri dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran, sementara sekolah mendapatkan akses terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan kompetensi yang benar-benar digunakan di lapangan.
Kandang Closed House Layer Naratas Group pun memiliki peluang untuk berkembang menjadi semacam laboratorium pembelajaran berbasis industri bagi pendidikan vokasi.
Kuswara berharap dengan keberadaan fasilitas tersebut dapat memperluas kesempatan siswa untuk memperoleh pengalaman kerja nyata, sekaligus memberi ruang kepada guru untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan sesuai perkembangan teknologi perunggasan.
Pada akhirnya, dengan pola pembelajaran seperti ini nantinya mampu melahirkan lulusan SMK Perunggasan yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga terbiasa dengan budaya kerja, teknologi, standar kebersihan, disiplin produksi dan tuntutan industri.
Bagi Kabupaten Ciamis, keterhubungan antara sekolah dan industri tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat ekosistem pendidikan vokasi sekaligus menyiapkan SDM lokal yang lebih siap masuk ke dunia usaha dan dunia industri. (Nay Sunarti)




















