Ciamis, deJurnal,- Di tengah kebijakan efisiensi anggaran dan tantangan defisit APBD daerah, tingkat kepedulian sosial masyarakat Kabupaten Ciamis justru menunjukkan ketahanan yang kuat.
Hal tersebut tercermin dari konsistensi penghimpunan infak dan sedekah yang terus berjalan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Ciamis.
Ketua BAZNAS Kabupaten Ciamis, Drs. H. Lili Miftah, menyampaikan kondisi fiskal daerah tidak berdampak signifikan terhadap hubungan sosial dan kepedulian masyarakat, khususnya dalam aspek batin dan spiritual.
“Alhamdulillah, efisiensi anggaran dan defisit APBD tidak berpengaruh terhadap hubungan sosial masyarakat Ciamis. Secara mata batin, kepedulian warga justru tetap terjaga. Ini bukti bahwa semangat berbagi tidak bergantung pada besar-kecilnya kondisi ekonomi,” ujar Lili Miftah.
Menurut Lili, kunci keberhasilan BAZNAS Ciamis menjaga partisipasi masyarakat terletak pada inovasi sistem infak yang disesuaikan dengan kemampuan warga.
Jika sebelumnya infak identik dengan nominal tertentu yang terasa berat, kini pendekatan diubah menjadi lebih ringan dan sukarela.
Salah satu inovasi tersebut adalah program infak recehan melalui kencleng (celengan) yang memungkinkan masyarakat berinfak mulai dari Rp200 hingga Rp500 setiap hari.
“Dulu, infak Rp5.000 per bulan saja terasa berat bagi sebagian warga. Sekarang, cukup Rp200 atau Rp500 dari uang kembalian belanja, dimasukkan ke kencleng. Tidak terasa memberatkan, tapi ketika dikumpulkan hasilnya luar biasa,” jelasnya.
Ia mencontohkan di Desa Kertasari, di mana sebelumnya sistem penjemputan infak ke rumah-rumah hanya mampu menghimpun sekitar Rp3,5 juta. Namun setelah inovasi kencleng diterapkan, potensi infak masyarakat meningkat secara signifikan.
Lebih lanjut Lili menuturkan kekuatan utama infak BAZNAS Ciamis justru datang dari lapisan masyarakat paling bawah. Bahkan mereka yang secara ekonomi sederhana tetap memiliki semangat berbagi.
“Ada pengamen yang biasanya tidak pernah berinfak. Tapi setelah pakai kencleng, dengan mengisi dua kencleng sekaligus di akhir bulan isinya bisa Rp80 ribu. Artinya dalam sebulan bisa Rp160 ribu. Padahal isiannya hanya Rp200 perak. Ini luar biasa,” ungkapnya.
Menurutnya, masyarakat merasa tidak dipaksa dan tidak terbebani. Justru muncul rasa kepuasan batin karena sudah berbagi sesuai kemampuan.
“Orang Sunda bilang, ka hartos aya butos. Ada rasa bahwa sedikit pun tetap bermakna. Mereka pulang belanja, dapat kembalian Rp200 atau Rp500, langsung dimasukkan. Manfaatnya ganda tetapi ringan secara ekonomi, kuat secara spiritual,” tambahnya.
Keberhasilan inovasi tersebut turut mengantarkan BAZNAS Kabupaten Ciamis meraih penghargaan nasional, salah satunya dalam kategori inovasi penghimpunan dana. Lili menyebut, pendekatan yang dilakukan di Ciamis bahkan menjadi rujukan bagi daerah lain.
“Alhamdulillah, inovasi ini mendapat apresiasi. Banyak daerah dan bahkan pusat datang ke Ciamis untuk belajar. Ini murni lahir dari kebutuhan dan karakter masyarakat Ciamis,” ujarnya.
Bagi Lili , seluruh ikhtiar yang dilakukan BAZNAS tidak lepas dari nilai ibadah dan keteguhan spiritual.
“Ibadah itu harus tegak lurus kepada Allah. Kita hanya berusaha membuka pintu-pintu kebaikan. Soal hasil dan keberlanjutan, semuanya kembali kepada Gusti Allah,” tuturnya.
Lili menambahkan ke depan BAZNAS Ciamis akan terus memperkuat inovasi sosial yang berorientasi pada kemudahan, keikhlasan, dan kebermanfaatan luas bagi masyarakat. (Nay Sunarti)













