CIAMIS, deJurnal,- Irfan Hakim mengaku terkesan dengan pengelolaan lingkungan di Kabupaten Ciamis di saat bertemu Bupati di Pendopo, Minggu (26/04/2026), sebelum mengikuti rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN).
Dalam pertemuan tersebut, Irfan menanyakan langsung soal reputasi Ciamis yang disebut sebagai salah satu daerah kecil dengan tingkat kebersihan terbaik di Asia Tenggara.
“Benar itu, Pak?” ujarnya.
Irfan menilai pendekatan yang dilakukan Ciamis berbeda karena menyentuh dari hulu.
Ia melihat langsung bagaimana sampah dipilah sejak rumah tangga dan tidak menumpuk di tempat pembuangan.
“Biasanya masalah sampah itu di hilir, sudah menumpuk baru ditangani. Di sini justru dari awal sudah dipisah, jadi lebih ringan. Ini menurut saya efektif,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterlibatan masyarakat yang dinilai tidak dibuat-buat, melainkan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Hal itu, menurutnya, menjadi faktor yang sulit ditiru jika tidak dibangun sejak lama.
“Yang saya lihat, ini bukan karena dipaksa program. Warganya memang sudah terbiasa. Itu yang membuat sistemnya jalan terus,” kata Irfan.
Lebih lanjut Irfan menybutkan pengelolaan sampah tersebut bisa menjadi contoh bagi daerah lain, terutama dalam membangun kesadaran masyarakat sebagai bagian utama dari solusi.
Menanggapi pertanyaan Irfan Hakim Bupati Ciamis Dr. H Herdiat Sunarya menjelaskan, pengelolaan sampah di Ciamis dibangun dari kebiasaan warga yang sudah berjalan lama, bukan semata program pemerintah.
Ia menyebut, kesadaran memilah sampah dari rumah menjadi kunci utama, sehingga beban pengolahan di tingkat akhir bisa ditekan.
Menurutnya, skema bank sampah yang dikembangkan hingga desa memberi nilai tambah.
Sampah yang sudah dipilah tidak lagi menjadi beban, melainkan memiliki nilai ekonomi dan bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Hampir di setiap desa ada pengelolaan. Warga sudah terbiasa memilah, kemudian disetorkan. Hasilnya ditabung, bisa untuk bayar PBB, perpanjang STNK, atau kebutuhan lain. Bahkan ada yang nilainya lebih dari cukup,” kata Herdiat.
Ia menambahkan, pola tersebut membuat biaya pengelolaan sampah bisa ditekan.
Di banyak daerah, persoalan sampah membutuhkan anggaran besar, sementara di Ciamis justru ditopang partisipasi warga.
“Kalau hanya mengandalkan anggaran, tidak akan cukup. Kuncinya ada di kesadaran. Di sini budaya bebersih masih jalan, kerja bakti rutin, itu yang menjaga,” pungkasnya. (Nay Sunarti)

















