Purwakarta,dejurnal.com -Hamparan aspal baru di desa pasanggrahan Kecamatan Bojong Purwakarta tak sekedar menjadi jalan lalulintas,Pada Minggu 3 April 2026, Menjelma menjadi kebersamaan warga menggelar pestifal 1000 kastrol nasi liwet
Diatas bentangan daun pisang sepanjang puluhan meter, warga duduk bersila. Nasi liwet dengan lauk khas pedesaan tersaji, dimakan bersama dalam suasana guyub. Jalan yang sebelumnya rusak kini menjadi simbol perubahan, bukan hanya fisik, tetapi juga denyut aktivitas sosial dan ekonomi warga.
Kepala Desa Pesanggrahan, Adam, menyebut kegiatan itu murni inisiatif masyarakat. “Ini bentuk syukur karena akses transportasi kini jauh lebih nyaman. Aktivitas warga, termasuk ekonomi, jadi lebih lancar,” ujarnya. Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur desa memang diarahkan untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
Adam juga mengapresiasi respons cepat pemerintah daerah dalam menangani persoalan infrastruktur. Menurutnya, kehadiran pemerintah terasa nyata ketika perbaikan dilakukan tepat waktu dan berdampak langsung.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang hadir di lokasi, menyambut antusiasme warga.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga fasilitas yang telah dibangun. “Jalan ini milik bersama. Rawat dengan baik, bersihkan jika mulai ditumbuhi rumput,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Purwakarta, Didi Garnadi, menegaskan bahwa perbaikan jalan menjadi prioritas utama pada 2026.
Upaya itu, menurut Didi Garnadi, diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Data Dinas PUTR menunjukkan tingkat kemantapan jalan di Purwakarta meningkat signifikan, dari 76,77 persen menjadi 88,63 persen dari total panjang 776,385 kilometer. Sepanjang tahun ini, pemeliharaan dan rekonstruksi jalan mencapai 15,928 kilometer, dengan total pembangunan dan peningkatan mencapai 39,733 kilometer yang tersebar di 24 ruas jalan.
“Perbaikan akan terus kami lakukan agar mobilitas warga semakin lancar dan berdampak pada kesejahteraan,” ujar Didi.
Festival nasi liwet di Pesanggrahan menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan semata soal angka dan kilometer jalan. Di baliknya, ada rasa memiliki, kebersamaan, dan harapan warga yang akhirnya menemukan jalannya. ***Budi

















