Dejurnal.com, Sukabumi – Ketua Persatuan Orang Tua Peserta Didik Seluruh Sukabumi (POPDIKSI), Ujang Suherman, S.Pd., menyoroti masih adanya paradigma dalam pengambilan kebijakan pendidikan yang cenderung mengedepankan aspek transaksional dibandingkan manfaat nyata bagi peserta didik. Hal tersebut disampaikannya saat wawancara dengan awak media di Sekretariat POPDIKSI Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jumat (12/6/2026).
Menurut Ujang Suherman, berbagai program pemerintah di bidang pendidikan harus dimaknai sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan memperkuat hak-hak peserta didik dalam memperoleh pembelajaran yang bermutu. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan pemilihan bahan ajar, buku pendidikan, media pembelajaran, maupun alat peraga harus didasarkan pada kebutuhan riil peserta didik, bukan semata-mata pada pertimbangan keuntungan atau kepentingan tertentu.
“Orang tua tentu berharap setiap kebijakan pendidikan benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak. Jangan sampai keputusan yang diambil lebih mempertimbangkan aspek transaksional daripada kualitas pembelajaran yang akan diterima peserta didik,” ujar Ujang.
Ia menilai bahwa tantangan pendidikan di Kabupaten Sukabumi saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan sarana dan prasarana, tetapi juga bagaimana seluruh pemangku kepentingan mampu menghadirkan kebijakan yang berdampak langsung terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.
Dalam pandangannya, peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni menjadikan kepentingan peserta didik sebagai pusat dari seluruh proses pengambilan keputusan.
Dukung Implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Ujang juga menyambut baik implementasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, termasuk pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di lingkungan Pemerintah Daerah.
Menurutnya, kehadiran Pokja merupakan langkah positif dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih sehat, inklusif, dan berpihak kepada peserta didik. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan yang lebih konkret berupa bahan edukasi, buku panduan, modul pembelajaran, media literasi, dan sumber referensi yang dapat menjadi pedoman bagi seluruh pihak dalam memahami serta mengimplementasikan program tersebut.
“Pembentukan Pokja merupakan langkah awal yang baik. Namun agar program berjalan sesuai tujuan, diperlukan bahan edukasi yang memadai sebagai sumber pemahaman bagi seluruh pemangku kepentingan. Dengan demikian, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman tidak hanya menjadi slogan kebijakan, tetapi benar-benar menjadi budaya yang hidup dalam keseharian pendidikan,” katanya.
Selain itu, Ujang menegaskan bahwa proses pemilihan anggota Pokja harus dilakukan secara objektif dan profesional dengan mengedepankan kompetensi, integritas, pengalaman, serta moralitas yang baik. Menurutnya, keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh regulasi yang dibuat, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya.
“Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman membutuhkan figur-figur yang memahami dunia pendidikan, memiliki kepedulian terhadap peserta didik, berintegritas, serta mampu bekerja secara kolaboratif. Jangan sampai proses penunjukan anggota hanya didasarkan pada faktor kedekatan, loyalitas kelompok, atau pertimbangan nonprofesional lainnya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa loyalitas memang penting dalam mendukung pelaksanaan program pemerintah, namun loyalitas harus berjalan beriringan dengan kompetensi dan moralitas. Tanpa kompetensi yang memadai, sebuah program berisiko kehilangan arah. Sementara tanpa moralitas dan integritas, program yang baik sekalipun dapat kehilangan kepercayaan publik.
“Yang dibutuhkan adalah loyalitas kepada tujuan pendidikan dan kepentingan peserta didik, bukan loyalitas yang sempit kepada individu atau kelompok tertentu. Karena itu, kompetensi dan moralitas harus menjadi syarat utama dalam pemilihan anggota Pokja,” ujarnya.
Pendidikan Harus Kembali kepada Kepentingan Peserta Didik
Sebagai organisasi yang mewadahi aspirasi orang tua peserta didik di seluruh Sukabumi, POPDIKSI memandang bahwa keberhasilan program pendidikan harus diukur dari dampak yang dirasakan langsung oleh peserta didik. Oleh karena itu, penguatan literasi, numerasi, pendidikan karakter, serta terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan pendidikan.
“Pada akhirnya, pendidikan harus kembali kepada tujuan utamanya, yaitu memberikan layanan terbaik bagi peserta didik. Ketika setiap kebijakan berorientasi pada kepentingan anak, maka kualitas pendidikan akan meningkat dan masa depan generasi Sukabumi akan menjadi lebih baik,” pungkas Ujang Suherman.
Narasumber : Ujang Suherman, S.Pd.
Jabatan : Ketua Persatuan Orang Tua Peserta Didik Seluruh Sukabumi (POPDIKSI)
Lokasi : Sekretariat POPDIKSI Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi
Tanggal : 12 Juni 2026














