Dejurnal.com, Garut – Sebuah peristiwa yang memunculkan keprihatinan mendalam terjadi di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Kabupaten Garut. Seorang warga yang sudah lama dikenal oleh berbagai kalangan di lingkungan Pemerintah Daerah Garut dikabarkan harus mengalami perlakuan yang dinilai tidak manusiawi setelah mengambil satu bungkus nasi box karena alasan kelaparan
Peristiwa yang terjadi Rabu (24/6/2026) sontak menjadi sorotan sejumlah pihak karena pria yang diketahui berinisial (H) itu bukanlah sosok asing di lingkungan Pemkab Garut. Selama bertahun-tahun, dirinya dikenal sebagai seorang aktivis yang kerap menyuarakan berbagai kritik dan aspirasi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Menurut penuturan H, kejadian bermula ketika dirinya berada di lingkungan Setda Pemkab Garut dalam kondisi fisik yang lemah. Ia mengaku sejak pagi hingga siang hari belum mengonsumsi makanan sedikit pun. Kondisi ekonomi yang sedang sulit membuatnya tidak memiliki uang untuk membeli makanan.
“Demi Allah, saya benar-benar lapar. Dari pagi belum makan, dan saat itu saya tidak punya uang sama sekali untuk membeli makanan. Karena melihat ada nasi box, saya mengambil satu bungkus saja untuk mengganjal perut,” ujar H saat menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya.
Namun, apa yang terjadi setelahnya justru membuat dirinya merasa sangat terpukul. Ia mengaku dikejar salah satu petugas keamanan layaknya seorang pelaku kejahatan besar. Menurut pengakuannya, perlakuan tersebut membuat dirinya merasa dipermalukan di hadapan banyak orang yang berada di sekitar lokasi.
“Padahal saya hanya mengambil satu bungkus nasi karena lapar. Saya bukan mencuri barang berharga atau uang. Saya hanya ingin makan karena sudah tidak kuat menahan lapar,” ungkapnya dengan nada sedih.
Kisah yang dialami H sontak mengundang rasa iba dari sejumlah orang yang mengenalnya. Pasalnya, pria paruh baya tersebut selama ini dikenal luas oleh berbagai kalangan, mulai dari aktivis LSM, organisasi kemasyarakatan, hingga awak media yang sering beraktivitas di lingkungan Pemkab Garut.
Bahkan salah seorang aktivis datang ke lingkungan Setda Garut untuk menyampaikan permohonan maaf atas tindakan sahabatnya tersebut. Namun di saat yang sama, ia meminta agar semua pihak melihat persoalan itu secara utuh dan tidak hanya dari satu sudut pandang.
Dalam perjalanan hidupnya, H pernah menjadi salah satu aktivis yang cukup vokal mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah daerah yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Namanya dikenal sejak masa kepemimpinan Bupati Garut H. Agus Supriadi hingga era Bupati Garut H. Rudi Gunawan.
Selama bertahun-tahun, ia aktif menyampaikan aspirasi masyarakat dan kerap hadir dalam berbagai kegiatan sosial maupun forum-forum diskusi publik. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatannya mulai menurun.
Beberapa rekan yang mengenalnya menyebutkan bahwa H kini sering mengalami sakit-sakitan sehingga aktivitasnya jauh berkurang dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Akibat kondisi tersebut, keberadaannya di lingkungan Pemda Garut pun sudah jarang terlihat. Banyak pihak yang mengaku tidak lagi sering bertemu dengannya seperti dahulu ketika masih aktif mengawal berbagai isu kebijakan publik.
Peristiwa yang menimpa H memunculkan pertanyaan tentang sisi kemanusiaan dalam menghadapi warga yang sedang mengalami kesulitan hidup. Sejumlah pihak menilai bahwa pendekatan yang lebih bijaksana dan penuh empati seharusnya dapat dilakukan ketika menghadapi seseorang yang mengambil makanan karena alasan kelaparan.
Masyarakat berharap kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak, khususnya dalam membangun rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Di tengah berbagai program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang terus digaungkan pemerintah, masih adanya warga yang harus menahan lapar hingga terpaksa mengambil satu bungkus nasi box menjadi sebuah ironi yang patut menjadi perhatian bersama.
Terlebih lagi, peristiwa tersebut terjadi di lingkungan pemerintahan yang seharusnya menjadi simbol pelayanan, perlindungan, dan kepedulian terhadap masyarakat. Banyak pihak berharap kejadian serupa tidak terulang kembali, serta mendorong hadirnya solusi nyata bagi warga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi maupun sosial.
Karena pada akhirnya, persoalan kemanusiaan bukan hanya tentang aturan dan prosedur, tetapi juga tentang empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat sesama manusia.***Willy
















