CIAMIS, deJurnal,– Pembelajaran berbasis industri di SMK Industri Perunggasan Panjalu (IPP) Ciamis kembali membuktikan hasil nyata.
Sebanyak 5.000 ekor ayam broiler dipanen dalam panen perdana Teaching Farm hasil kolaborasi SMK IPP Ciamis bersama Dewan Pimpinan Pusat Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Jumat (3/7/2026).
Berbeda dari panen pada umumnya, seluruh hasil panen tidak langsung dipasarkan dalam kondisi hidup.
Ayam hasil Teaching Farm justru dipotong di Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) PT Jabal Nur sebagai bagian dari proses pembelajaran hilirisasi bagi para siswa.
Langkah tersebut sekaligus menjadi strategi menghadapi kondisi pasar, mengingat harga ayam broiler hidup di tingkat peternak pada Jumat (3/7) anjlok hingga sekitar Rp13.500 per kilogram.
Setelah dipotong, daging ayam akan disimpan sebagai produk beku (frozen) dan dipasarkan ketika kondisi harga lebih baik.
Proses pemotongan berlangsung dalam tiga tahap agar seluruh siswa dapat mengikuti setiap rangkaian pembelajaran secara optimal.
Tahap pertama dilaksanakan pukul 10.00–12.00 WIB, dilanjutkan tahap kedua pukul 13.00–14.00 WIB, dan tahap ketiga pukul 15.00–17.00 WIB.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Yayasan SMK IPP Ciamis, Kepala SMK IPP beserta jajaran guru, para peserta didik, serta pengurus DPP GOPAN sebagai mitra strategis pengembangan pendidikan vokasi sektor perunggasan.
Mewakili Yayasan SMK IPP Ciamis, Kuswara Suwarman mengatakan Teaching Farm bukan sekadar program budidaya ayam, melainkan sarana pendidikan yang memperkenalkan siswa pada rantai bisnis perunggasan secara utuh, mulai dari pemeliharaan hingga pengolahan hasil.
“Anak-anak harus belajar proses industri secara menyeluruh. Karena itu hasil panen tidak dijual hidup, tetapi dipotong di RPHU PT Jabal Nur agar mereka memahami proses hilirisasi, standar pemotongan yang baik, hingga penanganan produk beku sebagai bagian dari nilai tambah usaha perunggasan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan DPP GOPAN yang terus mengawal program sejak awal sehingga Teaching Farm mampu berjalan sesuai konsep pembelajaran industri.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran DPP GOPAN, khususnya Bapak Andri, Bapak Yusuf, serta trio srikandi GOPAN, yakni Anggun Pasini, S.Pt., Ratih, S.E., dan Adisty Risnawati, S.Pt., M.M., yang telah memberikan pendampingan sehingga program ini dapat terlaksana dengan baik,” katanya.
Kepala SMK IPP Ciamis, Adisty Risnawati, S.Pt., M.M., menuturkan bahwa Teaching Farm dirancang agar peserta didik memperoleh pengalaman nyata sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Menurutnya, siswa tidak hanya mempelajari teknik pemeliharaan ayam, tetapi juga biosekuriti, pencatatan produksi, manajemen usaha, hingga proses pascapanen dan pemasaran produk.
“Melalui pengalaman langsung ini, lulusan kami diharapkan siap bekerja di industri perunggasan maupun mampu membangun usaha peternakan secara mandiri dengan memahami seluruh rantai bisnisnya,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP GOPAN, Ir. H. Herri Dermawan, menegaskan bahwa regenerasi peternak menjadi kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan industri perunggasan nasional.
Menurutnya, kemitraan dengan SMK IPP menjadi contoh nyata bagaimana dunia pendidikan dapat melahirkan peternak muda yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memahami pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk.
“Ketika harga ayam hidup sedang turun, siswa juga belajar bahwa peternak harus mampu mengambil langkah strategis. Salah satunya melalui pemotongan dan penyimpanan dalam bentuk frozen sehingga produk memiliki nilai tambah dan tidak sepenuhnya bergantung pada harga live bird,” katanya.
Ke depan, kerja sama antara SMK IPP Ciamis dan DPP GOPAN akan terus diperkuat melalui program magang industri, pelatihan peternak muda, penelitian terapan, hingga pengembangan inkubasi bisnis peternakan.
Panen perdana 5.000 ekor ayam ini menjadi tonggak penting penguatan pendidikan vokasi berbasis industri di Kabupaten Ciamis.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mencetak generasi baru peternak unggas yang tidak hanya mahir dalam budidaya, tetapi juga memahami pengolahan hasil, pemasaran, serta mampu menghadapi dinamika pasar dengan inovasi dan strategi bisnis yang berkelanjutan. (Nay Sunarti)
















