CIAMIS, deJurnal,– Balita berusia tiga tahun asal Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Aef Heryadi yang kini menjadi perhatian karena mengalami masalah gizi, ternyata telah mendapatkan pemantauan dan intervensi sejak 2025.
Penanganan dilakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan status gizi anak berada dalam kategori gizi kurang. Puskesmas Tambaksari kemudian memberikan makanan tambahan (PMT), sementara pemerintah desa turut memberikan bantuan susu untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi anak.
Petugas Gizi Puskesmas Tambaksari, Reihan Amwaliyah, mengatakan pemantauan terhadap kondisi balita terus dilakukan sejak pertama kali ditemukan mengalami gizi kurang.
“Pada 2025 status gizinya masih gizi kurang. Kemudian diberikan PMT dari Puskesmas, bantuan susu dari desa, dan terus dilakukan pemantauan,” ujar Reihan saat diwawancara di RSUD Ciamis pada saat pemeriksaan Aef. Rabu (26/08/2026)
Namun, selama pemantauan, berat badan anak belum menunjukkan kenaikan yang stabil. Berat badan memang sempat bertambah, tetapi kemudian kembali turun.
Memasuki awal 2026, hasil pemantauan menunjukkan status gizi anak mengalami penurunan dari gizi kurang menjadi gizi buruk. Kondisi tersebut membuat intervensi kembali diperkuat.
Selain PMT dan bantuan susu, balita tersebut juga mendapatkan telur melalui program Celengan Cinta di Puskesmas, vitamin A, serta dukungan makanan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berat Badan Naik Turun
Reihan menjelaskan, persoalan yang menjadi perhatian bukan karena anak tidak mendapatkan makanan tambahan atau bantuan, melainkan berat badannya yang sulit meningkat secara konsisten.
“Naik, tetapi hanya beberapa ons. Kemudian turun lagi. Jadi memang grafik berat badannya naik turun,” katanya.
Dari pengamatan petugas, kondisi anak secara umum terlihat aktif. Tidak ditemukan keluhan penyakit berat yang selama ini menjadi perhatian. Keluhan kesehatan yang muncul lebih banyak berupa batuk dan pilek.
Pola makan anak juga dinilai cukup baik. Berdasarkan informasi dari keluarga, anak memiliki nafsu makan dan makanan yang diberikan juga sudah diupayakan bergizi.
Karena itu, Puskesmas menilai perlu ada pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang menyebabkan berat badan anak sulit bertambah meskipun asupan dan intervensi telah diberikan.
Puskesmas Pastikan Anak Terus Dipantau
Kepala Puskesmas Tambaksari, H. Asep Wahyudin, menegaskan bahwa balita tersebut sudah masuk dalam pemantauan sejak ditemukan mengalami gizi kurang.
Menurut Asep, pemantauan dilakukan secara berkala melalui Puskesmas dan Posyandu. Intervensi diberikan sesuai program dan kebutuhan anak.
“Jadi sebenarnya kasus ini sudah mendapat perhatian sejak awal. Ada pemantauan dan bantuan yang diberikan. Bukan berarti anak ini tidak ditangani atau ditelantarkan,” tegasnya.
Asep mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan adanya kenaikan berat badan, tetapi belum konsisten. Kondisi tersebut menjadi alasan perlunya pemeriksaan yang lebih menyeluruh.
Penanganan Melibatkan Lintas Sektor
Penanganan balita tersebut tidak hanya dilakukan oleh Puskesmas. Pemerintah desa, Posyandu, keluarga dan fasilitas kesehatan lainnya ikut mengambil peran.
Puskesmas melakukan pemantauan dan intervensi gizi, pemerintah desa memberikan dukungan, sementara keluarga berperan memastikan kebutuhan anak terpenuhi di rumah.
Asep berharap kerja sama tersebut terus berjalan sehingga perkembangan kondisi anak dapat dipantau secara berkelanjutan.
“Semua berperan. Kami dari Puskesmas mendampingi, Posyandu memantau, desa memberikan dukungan, dan rumah sakit nantinya melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Menurutnya, ketika berat badan anak tidak mengalami peningkatan secara konsisten, perlu dicari penyebabnya secara menyeluruh, bukan hanya melihat dari sisi asupan makanan.
Puskesmas Tambaksari memastikan pemantauan terhadap balita tersebut tetap dilanjutkan sembari mengikuti hasil pemeriksaan medis untuk menentukan langkah penanganan berikutnya. (Nay Sunarti)

















